Luna memandang lama langit kamarnya. Disana hanya ada warna putih. Terbersit pertanyaan konyol dalam hatinya. Apakah warna polos itu harus ia tambah sesuatu agar lebih berwarna? Tapi jika ditambah sesuatu maka warna putih itu akan ternoda. Begitupun cinta tulusnya untuk Arya.
Luna memejam sesaat matanya. Ia pusing dan bingung setelah mendengar saran bibinya tadi. Masa harus pakai cara pintas untuk mendapatkan cinta. Apalagi cara itu berbau mistis yang sangat bertolak belakang dengan prinsipnya. Tapi mengingat kembali perlakuan Arya padanya membuat darah muda Luna bergejolak. Rasanya Arya sangatlah tidak pantas bicara seperti itu. Biar bagaimanapun cinta Luna suci tanpa memandang latar belakang keluarga Arya yang terkenal sangat kaya dan berpengaruh.
Luna belum mengambil keputusan apapun sampai akhirnya ia tertidur pulas.
Memang dasarnya aku sudah cinta mati. Bahkan sebelum tidur masih sempatnya aku mengkhayal berpacaran dengan Arya. Luna..luna padahal sudah dihina dibilang gak pantas tapi masih saja punya perasaan pada cowok b******k seperti Arya.
Keesokan harinya Luna bangun dengan wajah tak bersemangat seperti biasanya. Luna sudah ketahuan kalau dia yang selama ini mengirim surat untuk Arya. Dan itu artinya, ia tidak bisa lagi melakukan itu. Mencurahkan isi hatinya dalam tulisan lalu memberitahu Arya melalui sebuah surat rahasia.
"Gak gak sesulit apapun, aku gak boleh pakai cara kotor" gumam Luna dalam hati.
"Loh kok wajahnya ditekuk gitu? Semangat donk kan mau ke sekolah bertemu pujaan hati" ledek bi Nora.
Luna masa bodoh dengan ledekan bibinya. Hatinya masih sakit setiap kali teringat perkataan Arya.
"Apaan sih bi. Bibi kan tahu yang sebenarnya" sahut Luna malas.
"Iya bibi minta maaf. Sudah dimakan nasi gorengnya. Bibi pernah dengar, katanya kalau perut kenyang bisa bikin kita semangat lagi"
"Itu teori darimana bi. Luna belum pernah dengar" tanya Luna tak percaya.
"Makanya main sosmed biar otaknya pintar dikit jangan baca buku mulu plus ngekhayal jadi pacar anak orang kaya" celah Vira ditengah obrolan bi Nora dan Luna.
Kehadiran Vira semakin membuat nafsu makan Luna hilang. Vira adalah anak satu-satunya bi Nora. Sifatnya sangat berbeda dengan Luna yang lembut sedangkan Vira, dia terkadang bisa bertingkah diluar akal sehat. Luna dan Vira sering bertengkar karna masalah yang kecil. Keduanya sering sekali aduh cekcok dan jika sudah tidak terkontrol lagi, keduanya menggunakan kekuatan fisik mereka untuk menyelesaikan masalah. Dan hanya bi Nora yang bisa melerai keduanya.
"Bi aku berangkat duluan ya" kata Luna meraih tangan bi Nora lalu menciumnya sebelum pergi.
Plakkkkk
"Bu....sakit" ringis Vira yang merasa kesakitan dibagian tengkuknya.
"Kamu bisa jaga mulut gak sih. Itu Luna saudara kamu satu-satunya lagi sedih. Bukannya dihibur malah dikatain begitu" nasehat bi Nora kesal.
Vira bangkit dari duduknya.
"Bodoh amat. Lagian dia bukan saudara Vira. Anak ibu kan cuman satu aku. Kenapa tiba-tiba Vira jadi punya saudara. Aneh banget dah" walaupun sudah tinggal bersama selama satu tahun tapi Vira tetap saja tidak mau mengakui Luna sebagai sepupunya. Ditambah lagi Vira merasa ibunya lebih menyayangi Luna. Rasa tidak suka Vira pada Luna semakin menjadi.
Di sekolah Luna semakin menjadi bahan bully'an teman-temannya.
Cewek jelek
Anak dukun
Cewek tidak tahu malu
Miskin
Luna harus menebalkan kupingnya agar tidak terhasut atas hinaan mereka semua. Karna jika Luna melawan makan mereka akan semakin brutal menyiksa juga mencaci dirinya.
Jam makan siang.
"Ahh aku lapar sekali. Kenapa sih pagi tadi aku gak makan? Mana uang jajanku sudah habis buat beli buku. Bodoh bodoh bodoh sekali kamu Luna" tangan Luna berulangkali memukul kepalanya. Tidak ada solusi dari ketidakmampuannya. Jalan satu-satunya menunggu sampai jam pulang sekolah. Setelah itu baru ia bisa mengisi perutnya yang keroncongan.
Berbeda dari sekolah biasanya yang pulang setelah jam 12.00 siang. Sekolah Luna mempunyai waktu belajar yang lebih lama. Luna pulang sekolah jam tiga sore. Setelah pulangpun Luna tidak bisa langsung pulang kerumah, ia harus pergi ke perpustakaan terlebih dahulu untuk mengerjakan tugas sekolahnya. Makhlum saja Luna berasal dari keluarga menengah kebawah dan untung saja otaknya yang cerdas membuatnya mendapatkan beasiswa sehingga bisa mengantarnya kesekolah elit yang saat ini sedang ditapakinya sebagai wadah menuntut ilmu.
Tugas-tugas sekolahku lumayan susah dan untuk mencari jawabannya, buku saja tidak cukup. Aku butuh media lain seperti internet agar bisa membantuku menyelesaikan tugas-tugas itu. Sedangkan aku tidak punya handphone canggih seperti yang lain yang bisa mencari apapun dalam handphone mereka. Karna itu aku harus memanfaatkan fasilitas wifi sekolah yang pastinya akan sangat memudahkanku.
Seharian ini Luna tidak melihat Arya. Ia penasaran lalu pergi ke lapangan basket. Biasanya setelah pulang sekolah Arya suka bermain disana bersama teman-temannya. Karna tidak ada, Luna pun langsung pergi ke perpustakaan untuk mengerjakan tugasnya. Luna mengambil beberapa buku sebagai referensi tugasnya kemudian berjalan menuju meja yang biasa ia pakai. Disana sudah tersedia laptop yang akan digunakan Luna berlayar ke dunia maya.
Waktu sudah menunjukkan hampir jam empat sore. Luna sudah menyelesaikan tugasnya dan dia bersiap-siap mau pulang. Namun saat ia mengembalikan buku ke rak, Luna melihat ujung kaki seseorang. Ia penasaran lalu berjalan tertatih ke arah pemilik kaki.