Harapan Didetik Terakhir

554 Kata
Bahkan sedang tidur saja, dia tetap saja keren dan tampan. Memandang pulas wajahnya membuat hatiku kembali berdebar. Ingin sekali tanganku menjamah wajah mulusnya tapi aku takut menganggu tidurnya. Tapi rasa penasaranku semakin menggebu, aku ingin tahu seperti apa testur wajahnya. Ujung jari Luna menyentuh perlahan wajahnya Arya. Ia meraba dahi lebar Arya yang mempesona lalu turun ke hidung mancung pria didepannya. Tak ada yang terlewatkan dari tangan mungil Luna termasuk bibir seksi Arya. Namun tiba-tiba saja Arya membuka matanya. Mata Luna melebar, ia panik dan takut. Arya pasti akan memukul Luna karna sudah berani menyentuh wajahnya. "Aa...aku...aku hanya" ucap Luna terbata. Bibirnya sedikit bergetar. Arya hanya diam dengan tatapan dingin. "Pergi dari sini sekarang atau nasib kamu akan sama seperti kemarin" balas Arya mengancam. Arya menekan setiap katanya membuat bulu kuduk Luna bergedik. Tanpa berkata lagi, Luna menuruti perintah Arya. Ia menghilang seperti angin. Waktu terus berjalan dan semua terasa begitu cepat. Hari ini aku akan menerima hasil sekolahku selama tiga tahun ini. Jika yang lain menerima kelulusan ditemani kedua orangtua mereka namun tidak denganku, aku hanya ditemani bi Nora dan sepupuku Vira yang menyebalkan. Sebelumnya sudah ada desas desus kalau semua siswa tahun ini lulus jadi aku tidak kaget saat bi Nora memberitahuku jika aku lulus juga. Namun tetap saja aku sangat bahagia akhirnya sampai juga ditahap ini apalagi melihat senyum bangga diwajah bi Nora wanita paruh baya yang sangat aku sayangi layaknya ibu kandung. Bi Nora mengajakku pulang namun aku masih ingin disini. Aku mau menelusuri sekolah yang sebentar lagi akan aku tinggali ini. Rasa haru dan bangga berkecamuk dibenakku. Tidak menyangka aku bisa ada disekolah elit ini. Meskipun harus bertahan sangat keras namun itu semua membuatku semakin kuat menghadapi rintangan hidupku berikutnya. Sampailah Luna ditaman belakang sekolah yang menjadi tempat favoritnya. Luna menyukai taman belakang sekolah karna tempat itu jarang sekali didatangi siswa. Seringnya dihina dibully membuat pribadi Luna semakin tertutup. Ia merasa aman dan nyaman jika sedang sendirian dan jauh dari keramaian. Arya! Nama itu terlintas begitu saja dikepalaku. Tidak banyak kenanganku bersamanya. Jikapun ada, kenangan itu bukanlah kenangan manis untuk dikenang. Setelah aku ketahuan mengirim surat padanya, kami semakin jauh. Arya selalu menghindariku jika kami berpapasan disekolah. Ia seperti jijik melihatku. Kadang aku bertanya, sejelek apa wajahku hingga Arya tidak mau memandangku? Hah mengingat Arya pasti akan selalu membuatku sedih, mellow, cengeng, tapi mulai besok tidak lagi. Besok itu hari yang baru dan aku akan memulai hidup baruku tanpa nama Arya. Titikk Luna melangkah berat ke depan gerbang sekolah. Walaupun banyak cerita sedih tapi ia suka sekolah disini. Mata Luna menelisik melihat seluk beluk sekolahnya mengingatnya dan menyimpannya dalam bentuk kenangan. Dan tanpa sengaja mata Luna menangkap sosok yang sangat ia kenal. Arya.... Sebelum melangkah keluar, aku melihatnya dari kejauhan. Dia bercengkrama tertawa lepas bersama teman-temannya juga pacarnya. Saat aku sedang intens memperhatikannya, tiba-tiba saja dia membalikkan badan lalu melihat ke arahku. Kami memandang cukup lama. Entah apa yang dia pikirkan? Inilah untuk pertama kalinya dia memandangku dan mungkin pandangan itu akan jadi yang terakhir. Aku pun mengutas senyum kecil padanya. Selamat tinggal Arya. Senyuman lirih Luna menjadi salam perpisahannya dengan Arya. Luna pun berjalan keluar meninggalkan rasa bahagia dan sakitnya disekolah. Sedangkan Arya masih terpaku ditempatnya melihat Luna perlahan hilang dari pandangannya. Setelah hari itu, entah kenapa aku berharap bisa bertemu lagi dengannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN