3 Tahun kemudian.
Hoammm
Luna membentang lebar kedua lengannya meregangkan otot tubuh yang kaku. Kembali mulut Luna terbuka lebar karna rasa kantuk yang masih tersisa. Iapun melirik jam dinding yang menempel didinding kamarnya. Jarum pendek menunjukkan pukul tujuh pagi.
"Pantas saja mataku masih ngantuk banget" Luna menekuk kepalanya mencoba mengumpul kesadarannya.
Semalaman Luna berkutat didepan laptop untuk menyelesaikan berkas yang diserahkan padanya. Parahnya waktu yang diberika cuman sampai hari ini jadi mau tidak mau Luna harus bergadang semalaman. Jam tiga pagi Luna baru selesai dengan tugasnya. Barulah setelah itu ia beristirahat sebentar, tidur beberapa jam saja.
Aku beranjak dari ranjangku mengambil handuk lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum berangkat ke kantor. Ya sekarang aku bekerja di sebuah perusahaan yang sangat besar. Aku sangat bersyukur dengan kepintaran yang aku miliki, aku kembali bisa mendapatkan beasiswa untuk menuntut ilmu diebuah perguruan tinggi negeri ternama. Walaupun tidak sampai sarjana dan hanya bisa mencicipi pendididikan dibangku kuliah sampai D3 saja tapi ilmu yang telah aku dapati bisa mengantarku di perusahaan Adijhaya Group. Yang aku tahu perusahaan ini sangat selektif dalam mengankat karyawan baru. Mereka tidak mau sembarangan dan hanya mengambil orang-orang yang berwawasan tinggi. Setelah melewati beberapa tahap seleksi, akhirnya aku diterima bekerja disana. Dan aku sudah empat bulan bekerja di Adijhaya Group.
"Luna mana berkasnya? Sudah selesaikan?" tanya Sarah pada Luna yang baru saja datang.
"Sudah kok. Berkasnya sudah aku kirim ke email"
"Ok thanks ya. Kamu memang best" puji Sarah diakhir kalimatnya.
Walaupun sering dikejar deadline, capek, bikin darting tapi aku senang kerja disini. Selain kantornya yang nyaman dan luas banget, orang-orang disini juga pada baik-baik banget. Mereka semua ramah dan mau membantuku juga berbagi pengalamannya padaku. Makhlum saja aku masih anak bawang disini. Butuh banyak bimbingan.
"Luna kamu gak makan siang?" Sarah salah satu rekan Luna yang paling dekat dengannya.
"Aku belum lapar. Kamu makan duluan saja ya" balas Luna disertai senyum tipis.
Sarah ini anaknya cantik, pintar, kulitnya putih, body nya ok, ramah, rambutnya hitam tebal, ahh pokoknya perpect banget dia mah. Dan kalau aku perhatikan ada beberapa rekan cowok yang coba mendekatinya, ya ngasih perhatian lebih gitu deh tapi anehnya Sarah gak pernah serius menanggapi mereka padahal dari segi wajah, cowok-cowok itu lumayan juga. Sarah hanya menganggap mereka semua sebatas teman saja. Umurku hanya terpaut empat bulan dengannya tapi dia sudah lebih dulu bekerja di Adijhaya Group. Yang aku tahu Sarah pernah lompat kelas saat SMA.
Setelah Sarah pergi ke kantin, Luna lalu membuka laci mejanya dan mengambil satu cup pop mie yang akan ia santap siang ini. Sudah dua hari ini Luna makan siang hanya dengan mie saja. Luna harus menghemat uangnya untuk ongkos kendaraan. Setidaknya sampai akhir bulan.
Aku memang sudah bekerja disebuah perusahaan besar Adijhaya Group tapi gajiku belum bisa memenuhi semua kebutuhanku. Tiap bulannya aku harus mengirim uang ke rekening Vira untuk biaya berobat bi Nora. Sudah satu tahun ini bi Nora sakit-sakitan. Setelah di cek ke dokter tenyata bi Nora mengidap penyakit ginjal dan kata dokter, bi Nora diharuskan cuci darah secara rutin. Untung saja aku sudah bekerja jadi bisa sedikit mengurangi beban bi Nora. Ya walaupun aku tahu uang yang aku kirim tidak akan cukup untuk membalas semua kebaikan bi Nora.
Luna pergi ke pantry untuk menyeduh mie nya dengan air panas. Ia kemudian menaiki lift menekan angka paling besar. Di rooftoplah Luna selalu menyantap makan siang dengan nikmat dan tenang.
Lebih tepatnya aku malu sama yang lain kalau aku hanya makan siang dengan mie saja hehe.
#
"Luna besok datangnya lebih awal ya. Ada yang harus kita persiapkan. Aku dengar CEO kita mau datang. Dan dia tidak suka melihat sesuatu yang berantakan. Kamu tahukan betapa berantakannya meja kamu. Datanglah jam tujuh tepat jangan lebih kalau kurang boleh haha"
Bisa-bisanya Sarah bercanda diakhir pesannya. Bikin kesal saja deh.
Mata Luna melotot lebar. Semalam ia tidur cepat jadi tidak sempat membaca pesan yang dikirimkan Sarah. Dan sekarang sudah jam tujuh lewat sepuluh menit.
Dan wow nya lagi aku belum ngapa-ngapain.
Luna bergegas kekamar mandi. Semuanya ia persiapkan dengan cepat bahkan ia tak sempat menguncir rambutnya yang tergerai.
Sampainya dikantor orang-orang sudah berbaris rapi siap menyambut CEO Adijhaya Group. Kedatangannya menjadi spesial karna dia jarang sekali ada dikantor bahkan dalam satu bulan hanya datang sesekali saja dan selama Luna bekerja, dia belum pernah melihatnya. Tibalah waktu yang ditunggu.
Dari yang aku lihat CEO Adijhaya Group berparawakan tinggi, berwibawa, rambutnya ada beberapa yang sudah memutih, kalau umurnya mungkin sekitaran 60an keatas. Namanya Chandra Kusuma Adijhaya. Dia mulai bicara dengan lantang. Sesekali pak Chandra tersenyum tipis. Senyum yang mengingatkanku pada seseorang. Kalau dari intonasi bicara serta pandangan matanya yang sendu, sepertinya pak Chandra orang yang baik dan penyayang.
"Kalian bisa lihat umur saya tidak muda lagikan. Saya juga mudah merasa capek. Sudah lama juga saya memimpin perusahaan ini hingga bisa besar seperti sekarang. Karna itu mulai hari ini saya akan menyerahkan semua tanggungjawab perusahaan kepada anak saya. Selama tiga tahun ini dia tinggal di Amerika sekolah disana. Dan dia sudah siap memimpin Adijhaya Group. Arya Kusuma Adijhaya silakan masuk" diakhir sambutan semua bertepuk tangan menyambut anak dari sang CEO.
Sedangkan dibarisan paling belakang, Luna tampak kaku dan tangannya sedikit bergetar. Bibirnya terasa keluh. Dadanya berdebar tak menentu.
Seketika aku terkenang masalalu. Kenangan pahit yang sebenarnya tidak pantas untuk diingat. Selama ini aku berusaha keras menyibukkan diri agar tidak teringat kenangan menyakitkan itu. Ternyata itu nama lengkapnya. Sekarang dia ada didepanku.
"Selamat pagi semuanya. Saya Arya Kusuma Adijhaya CEO baru Adijhaya Group. Mohon kerjasama dan bantuannya"
Suara Arya menggema memenuhi ruangan. Semua karyawan nampak antusias dengan CEO baru mereka terutawa karyawan cewek. Mereka mulai berbisik kecil mengungkap kekaguman mereka akan sosok Arya yang berparas tampan dan menggoda. Tubuh Arya yang atletis serta kharismanya yang luar biasa tentu saja dengan seketika mampu membuat cewek-cewek tertarik padanya. Namun tidak bagi Luna yang sedari tadi sejak kemunculan Arya nampak enggan mengankat kepalanya. Luna tidak ingin melihat Arya dan tidak mau Arya sampai melihatnya.
Tapi bagaimana ini? Apakah sikapku tidak sopan. Hanya aku yang menundukkan kepala. Tapi bagaimana jika Arya melihatku? Apa dia akan langsung memecatku.
Haaaaah
Luna membuat nafas lega. Akhirnya Arya selesai juga berceloteh. Semua sudah kembali ketempatnya masing-masing. Untuk saat ini Luna bisa lolos. Arya belum menyadari keberadaannya.
Tapi bagaimana dengan nanti?