Masih Sama Saja

1030 Kata
Luna menggerutu dalam hati. Ia bingung harus bagaimana hari ini. Bisa saja Arya melihatnya. Apa yang akan dilakukan Arya kalau dia tahu Luna bekerja dikantornya? Sumpah aku pusing banget. Aku menjadi . malas berangkat ke kantor. Kenapa sih harus ketemu dia lagi? Padahal bumi ini luas gede banget. Kenapa ketemunya Arya lagi? Ya ampun. "Apa hari ini aku ambil cuti saja? Tapi mana mungkin dikasih cuti. Aku aja baru kerja empat bulan. Bisa dipecat kalau belum jadi apa-apa sudah banyak tingkah. Haduhh rumit banget sih ni hidup" Luna mengetok-getok kepalanya kedinding. Padahal dia sudah bersiap dan tinggal berangkat saja tapi kakinya terasa berat sekali melangkah keluar. "Ok kamu harus hadapi ini Luna. Kalau kamu menghindar terus maka kamu tidak akan pernah sukses. Ok terima apapun yang terjadi. Harus kuat seperti biasa" ujar Luna memberi semangat pada dirinya sendiri. " Semangat semangat semangat yeayy" teriak Luna antusias. Sampainya dikantor Luna langsung berjalan menuju lift. Ia menunggu lift terbuka dengan sabar. Tapi tiba-tiba Luna mendengar rekan-rekan kerjanya berbisik sesuatu. Aku mengalihkan pandanganku mencari tahu apa yang dibicarakan mereka. Aku melihat mereka semua sedang fokus pada seseorang. Dan Oh my god lagi-lagi Arya. "Aku harus gimana. Aku gak mau Arya melihatku disini tapi aku harus kemana? Kenapa lift nya lama banget kebukanya? Oh ya tangga" Luna panik sekali. Diapun menghambur menuju tangga darurat. Luna tidak mau satu lift sama Arya. Saking terburu-burunya Luna tidak sadar kalau tali high heels yang mengait dikakinya telah putus. Dan rambut yang tadinya sudah terkuncir rapi kini tergerai indah. Hahaha hahahaa Luna duduk dikursinya dengan nafas tersengal. "Haa capek banget" keluh Luna seraya menengadah kepalanya mengambil udara sebanyak mungkin. Dadanya terasa sesak sekali. "Lun kamu kenapa ngos-ngosan gitu? Kaya habis dikejar setan saja" ledek Sarah yang melihat penampilan Luna sedikit berantakan. "Itu juga sepatu rusak jangan dipakai. Malu-maluin aja" sambungnya. Sontak Luna melihat kearah kakinya. Dan benar saja tali sepatunya sudah putus. "Aduh gimana donk ini?" tanpa berpikir panjang, Luna memutus kedua tali sepatunya agar tidak timpang sebelah. Dan sekarang keduanya tidak punya tali haha. "Ini ambil" Sarah memberi sebuah berkas dengan map merah pada Luna. "Apa ini?" tanya Luna bingung. "Itukan desain untuk produk baru yang kamu kasih kemarin. Aku sudah lihat dan menurutku bagus. Sekarang coba kamu kasih desainnya ke pak Arya" Seketika Luna melotot. Mulutnya terbuka sedikit seperti sedang menahan sesuatu. "Maksud kamu pak Arya CEO baru kita itu?" tanya Luna memastikan walaupun sebenarnya ia sudah tahu. "Ya iyalah. Arya mana lagi emangnya. Sudah kasih sana. Siapa tahu desain kamu diterima pak Arya. Kenapa sih mata kamu melotot gitu? Bikin takut deh" ujar Sarah bergedik. "Tapi kalau mau serahin desain produk bukannya harus ke bu Cantika dulu. Kan dia yang bertanggungjawab secara menyeluruh dan harusnya dia donk yang serahin ini ke pak Arya" Luna terus berkelit mencari alasan agar tidak bertemu Arya. "Iya paham tapi masalahnya bu Cantika lagi cuti hamil dan dia bilang untuk masalah desain produk, dia serahin semuanya ke kamu" kata Sarah menjelaskan. "Kok gitu sih, kenapa bu Cantika gak bilang ke aku langsung. Kenapa bilangnya ke kamu? Kan dia punya kontak aku kalau memang gak sempat ketemu langsung" Luna merasa sedikit kecewa. Sudah lama Luna merasa bu Cantika sedikit menjaga jarak dengannya. "Udah gitu aja baper yang pentingkan bu Cantika sudah mempercayakan semuanya sama kamu. Itu artinya dia percaya kamu bisa. Sudah sana kasih berkasnya sama pak Arya" Luna kembali bingung. "Sar kamu punya email pak Arya gak? Aku kirim desain ke pak Arya via email aja deh" Sarah menatap menyelidik pada Luna. Ia merasa ada yang aneh pada temannya itu. "Kamu kenapa sih sakit? Udah buruan kasih desainnya ke pak Arya sekarang" Luna lalu menarik kedua ujung bibirnya menampilkan senyumnya yang manis. Akhirnya aku punya ide agar pak Arya tidak melihat wajahku. Aku kemudian masuk ke ruangan pak Arya dengan memakai masker. Baguskan ideku. "Dengan begini pak Arya tidak akan mengenaliku" gumam Luna dalam hati. Tok tok tok Masuk "Permisi pak" Arya mengankat wajahnya melihat kearah Luna. Dahinya mengernyit heran dengan sosok wanita didepannya. Dikantor pakai masker. "Kalau mau bicara dengan saya lepasin masker kamu. Memangnya saya virus berbahaya" kata Arya konyol. Mendengar itu Luna pun tertawa tertahan. "Tapi pak saya lagi pilek. Saya takut pak Arya tertular makanya saya pakai masker" Kata Luna asal. Jangan sampai Arya melihat wajahnya. Mata Arya melihat tajam pada Luna. Ia mencoba mengingat sesuatu. Walaupun jarang namun sepertinya ia kenal suara itu. "Saya punya uang untuk berobat kalau sakit. Lepasin masker kamu" perintah Arya lagi. Dan mau tidak mau Luna harus melepas maskernya. Matilah aku. Arya menampakkan ekspresi datar begitu Luna membuka maskernya. Luna pun merasa heran dengan sikap Arya. Tapi yasudahlah, mungkin dia sudah lupa denganku. "Mau apa kamu kesini?" tanya Arya. "Saya mau memberikan desain ini pak. Silakan bapak lihat apa yang ada yang kurang" Arya beranjak dari kursinya lalu duduk di kursi sofa, tempat biasa ia menerima tamu. "Bawak sini desainnya" Arya melihat desainku dengan teliti. Ia memperhatikan setiap detailnya. "Saya tidak suka desainya terlalu sederhana dan juga warnanya terlalu terang jadi kesannya desain kamu norak. Kamu mau produk baru Adijhaya Group tidak laku karna desain norak kamu itu" Arya menyilang santai kakinya lalu membentangkan kedua lengannya yang panjang dibagian belakang sofa. Ia seakan ingin menunjukkan posisinya yang tinggi pada Luna. Wow surprise sekali ternyata selama tiga tahun tidak bertemu, dia tidak berubah sedikitpun. Katanya sekolah di Amerika tapi sifatnya masih sama saja. Tidak bisakah menghargai karya orang sedikit saja. Oh mungkin sudah wataknya kali suka menghina orang lain. "Saya minta maaf pak. Nanti saya buat lagi desain yang baru" Luna berusaha keras menahan emosinya dan bersikap legowo. "Kamu jelangkung apa berdiri terus. Duduk sini biar saya kasih tahu cara desain yang benar" Luna tertawa kecil sebelum akhirnya duduk disebelah Arya. Ini pak Arya mau ngelucu kali ya. Pakai jelangkung dibawak segala. Luna memejamkan matanya beberapa detik. Hidungnya seperti sedang mengendus sesuatu. "Hmm Wangi banget" ucap Luna pelan dan hampir tidak kedengaran. "Saya dengar"sahut Arya. Sontak Luna merasa malu. Padahal suaranya sangat kecil tapi tetap saja kedengaran. "Kamu masih menyukai saya?" tanya Arya yang berhasil membuat Luna tercekat kaget. Jadi Arya masih mengenaliku. Luna pun merubah posisi menggerakkan kepalanya perlahan memandang tepat kewajah Arya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN