Apa maksudnya bertanya seperti itu? Apa dia mau merendahkan perasaanku lagi? Atau dia mau mengingatku kembali dengan perkataannya yang menyakitkan itu? Tiga tahun ini aku berusaha keras melupakan kejadian memalukan itu tapi dia hanya dalam hitungan detik berhasil membuka lubang kecil dihatiku. Ingin sekali aku melakban mulutnya tapi lagi-lagi aku hanya membisu. Tidak melawan apalagi memberontak untuk sekedar membela diri. Kenapa aku selalu kaku saat bersamanya? Seakan duniaku berhenti berputar dan aku masih tetap terpaku ditempatku saja. Aku pikir aku sudah melupakannya tapi nyatanya tidak sama sekali.
"Kamu masih menyukai saya?" tanya Arya yang berhasil membuat Luna tercekat kaget.
Jadi Arya masih mengenaliku.
Luna pun merubah posisi menggerakkan kepalanya perlahan memandang tepat kewajah Arya. Untuk beberapa detik, Luna diam saja. Ia masih mencari tujuan dari pertanyaan Arya.
"Kamu diam bearti iya"tambah Arya lagi.
Luna membuang nafas pelan dari hidung.
"Saya tidak bicara masalah pribadi saat sedang bekerja. Tolong pak Arya fokus kembali" balas Luna santai. Jauh dilubuk hatinya, saat ini jantungnya berdetak begitu cepat. Apalagi saat Arya menatapnya, perasaannya menjadi tidak karuan.
Luna tersadar kalau ia tidak akan pernah berhasil. Apapun usaha yang dilakukannya untuk melupakan Arya akan selalu menemui jalan buntu. Sampai detik ini, Luna masih sangat mengagumi sosok Arya yang begitu mempesona hatinya.
Aku sendiri tidak tahu kenapa aku begitu menyukainya. Jika hanya wajah, bukankah masih banyak pria yang lebih tampan darinya? Jika karna kebaikan perilaku, bukankah dia tidak pernah memperlakukanku secara baik? Jika dia menyenangkan, bukankah selama ini dia tidak pernah membuatku senang? Bukankah dia sudah menanamkan rasa sakit yang begitu dalam dihatiku? Lalu kenapa aku masih saja menyukainya?
Arya mengangguk pelan disertai senyuman tipis penuh arti. Dia suka dengan sikap profesional Luna.
Arya mulai menjelaskan tahap demi tahap yang harus dilakukan Luna agar mendapatkan sebuah desain yang bagus dan menarik. Hanya saja Luna merasa sedikit kebingunan karna Arya terlalu cepat menjelaskannya. Bahkan Luna tidak punya waktu untuk mencatat point-point penting dari penjelasan Arya.
"Mengertikan?"
"Maaf pak tapi.....
"Saya tidak akan menjelaskan untuk yang kedua kali karna waktu saya terlalu berharga. Jika kamu tidak bisa, serahkan desain ini pada orang lain" bagi Arya waktu adalah uang. Ia tidak mau menyia-nyiakan uangnya.
Arya menggeleng pelan kepalanya, ia tidak habis pikir pada dirinya sendiri. Bisa-bisanya ia menyempatkan waktu untuk menjelaskan tentang desain pada Luna padahalkan itu bukan tugasnya. Jika orang lain, Arya pasti sudah marah saat melihat desain norak yang Luna buat.
Kenapa denganku? Bisa-bisanya aku melunak padanya? Kemana Arya yang dulu membencinya?
Arya mengusap kasar wajahnya setelah Luna pergi. Dia diam sejenak seakan tidak mengerti apa yang baru saja terjadi.
#
"Selamat pagi pak" sapa Sarah ramah tepat didepan pintu masuk. Senyum simpul menghiasi wajah cantiknya.
"Pagi" balas Arya tersenyum.
"Rajin sekali kamu, jam segini sudah datang" sambungnya.
Dua sudut bibir sarah tertarik keatas. Ia senang sekali ternyata Arya memperhatikannya dan mengingat dirinya.
"Pak Arya juga rajin banget padahal perusahaan ini punya bapak. Bapak bisa datang jam berapa saja"
Sarah dan Arya bercengkrama akrab sambil berjalan masuk. Keduanya tampak serasi dengan warna baju senada. Postur tubuh Sarah yang tinggi dan ramping sangat pas berdampingan dengan Arya yang kharismatik, tampan, dan berwibawa.
"Kalau saya malas-malasan, yang lain juga akan begitu. Kalau bosnya saja tidak disiplin apalagi karyawannya" setiap tutur kata Arya begitu indah sampai ke telinga Sarah.
Sarah semakin mengagumi bosnya itu. Dadanya semakin menggebu ingin lebih dekat dengan Arya. Ingin mengenal Arya lebih dalam. Sarah sangat percaya diri dengan apa yang dia miliki. Wajah cantik, body aduhai, langsing, pintar, tidak mungkin Arya Kusuma Adijhaya tidak tertarik padanya.
"Ahh pak Arya mah gampang. Aku cantik, mana mungkin dia tidak suka padaku" gumam Sarah dalam hati.
"Kamu sudah sarapan?"tanya Arya.
"Tu kan. Apa aku bilang. Mana ada cowok yang tidak tertarik padaku" Sarah semakin percaya diri.
"Belum pak. Tadi buru-buru. Pak Arya sudah sarapan belum? Kalau belum kita sarapan saja dikantin. Masakan bu kantin enak-enak loh pak. Pak Arya harus coba" tawar Sarah antusias. Dalam hati ia berdoa agar Arya mau sarapan bersamanya.
Arya yang sudah sering berada disituasi seperti ini langsung tersenyum tipis. Ia sudah tahu tujuan Sarah yang sebenarnya. Arya ingin menolak. Dia tidak mau memberi harapan apapun tapi ia juga penasaran seenak apa masakan bu kantin yang dimaksud Sarah. Lagi pula semenjak memimpin Adijhaya Group, Arya belum pernah makan dikantin berbaur dengan karyawannya.
Tidak ada salahnya aku menerima tawaran Sarah. Ya walaupun nanti dia semakin kepedean.
"Ok kita ke kantin"
Sarah bersorak dalam hati. Rasanya ia mau berteriak ke semua orang kalau Arya suka padanya. Sepanjang perjalanan menuju kekantin, Sarah terus mengembang senyum apalagi saat fokus mata rekan-rekannya tertuju padanya yang berjalan berdampingan dengan Arya.
Rasanya jantungku mau melompat keluar.
Arya memperhatikan suasana kantin. Lumayan ramai.
"Apa mereka sengaja mau sarapan disini?" pikir Arya. Lalu matanya tertuju pada meja Luna.
Begitu selesai mengambil menu, Arya dan Sarah mengedarkan mata mencari meja kosong.
"Disana pak ada meja kosong" ucap Sarah seraya menunjuk meja yang ada disudut berdekatan dengan dinding.
"Disana saja" Arya melangkah ke arah meja Luna.
Luna yang sedang menyantap makanan tidak sadar dengan kehadiran Arya didepannya.
"Pagi Luna" sapa Sarah.
"Pa.....
Bibir Luna seketika mengatup, ucapannya terputus setelah melihat siapa yang ada dihadapannya. Bukan Sarah yang Luna permasalahkan tapi Arya.
"Ngapain ni orang ada disini?" kata Luna kecil sekali seperti orang yang sedang berbisik.
"Saya bisa dengar" sambar Arya. Iapun duduk tepat didepan Luna sedangkan Sarah duduk disebelah Arya.
Kupingnya peka banget padahal aku sudah kecil banget ngomongnya.
"Gimana Luna desainnya sudah selesai?" tanya Arya disela makan.
Luna tersedat lalu meneguk air putih didepannya yang ternyata itu air putih milik Arya. Luna pun menepuk lembut dadanya seraya membuang nafas lega.
"Sedikit lagi pak. Ada bebarapa hal kecil yang harus saya tambah supaya desainnya menarik seperti yang bapak mau jadi tidak norak" Luna menekankan kata norak dengan mata tajam melihat kearah Arya.
Sarah secara bergantian melihat Arya dan Luna. Ia merasa ada yang janggal. Keberadaannya seakan menjadi nyamuk ditengah obrolan teman dan bosnya itu. Padahalkan dia yang membawak Arya ke kantin. Sarah merasa gondok dan kesal.
Situasi apa ini? Kenapa seakan aku penganggu diantara mereka? Arya walaupun bersikap cuek tapi terlihat dia sangat peduli dengan Luna.
"Saya harus minum apa? Minuman saya sudah kamu habiskan" ucap Arya santai sambil menatap Luna intens.
Luna mengigit bibir bawahnya. Ia baru sadar dan merasa sangat malu. Lancang sekali seorang karyawan minum minuman bosnya.
Kenapa dia mengigit bibirnya? Apa dia sengaja menggodaku.
"Saya minta maaf pak. Biar saya....
"Biar saya ambilkan minumannya" sambar Sarah.
"Tidak perlu, biar Luna yang melakukannya kan dia yang sudah menghabiskan minuman saya" sahut Arya dengan intonasi datar.
Sarah semakin curiga. Ia yakin ada sesuatu antara Arya dan Luna terutama Arya.