Natalie sekertaris Arya membagikan sebuah undangan ke beberapa karyawan. Tidak semuanya, hanya karyawan yang dipilih saja terutama karyawan yang memegang peranan penting di perusahaan Adijhaya Group. Termasuk Luna, ia salah satu yang terpilih. Karyawan yang lain memandang heran pada Luna dan mulai berbisik membuat asumsi sendiri. Makhlum saja, Luna baru 4 bulan bekerja tapi dia sudah diundang diacara ulang tahun pak Chandra Kusuma Adijhaya. Setiap tahunnya untuk karyawan umum hanya karyawan berprestasi saja yang akan diundang kepesta kelahiran sang mantan CEO. Sedangkan Luna, ia belum punya prestasi apapun. Jadi wajar saja hal itu menimbulkan kecemburuan diantara karyawan yang lain. Situasi ini membuat Luna tidak nyaman dan merasa tidak enak hati dengan rekannya yang lain.
Sebelum jam istirahat tiba tepatnya sepuluh menit sebelum makan siang, Luna menyambangi ruangan Arya.
"Saya mau bicara dengan pak Arya" ucap Luna sedikit emosional.
"Bicara saja"
"Saya tunggu bapak di rooftop" kemudian Luna melangkah pergi.
Di rooftop Luna menanti Arya tak sabar. Ia akan bertanya alasan Arya mengundangnya.
5 menit kemudian.
"Kenapa tidak bicara diruanganku saja? Kenapa disini?" tanya Arya penasaran. Ia memasukkan kedua tangannya disaku celana. Udara dari rooftop terasa lebih dingin ditambah lagi cuaca hari ini sedikit mendung.
"Kenapa pak Arya mengundangku ke pesta ulang tahun pak Chandra? Yang saya tahu hanya karyawan biasa hanya yang berprestasi saja yang diundang kesana. Sedang saya tidak ada, saya juga karyawan baru disini. Bapak tahu karna ini mereka curiga padaku. Aku tidak mau jadi bahan gosip mereka. Jadi aku mau bapak berikan undangan ini sama yang lain saja" Luna menarik nafas lalu membuangnya seusai bicara. Ia tampak sangat menggebu.
Arya tersenyum misterius kemudian membuka kancing jas yang dikenakannya. Setelah itu, Arya melangkah perlahan pada Luna. Luna menangkap gelagat aneh dari pria didepannya. Refleks ia mundur agar Arya tidak semakin dekat dengannya. Luna terus mundur sampai pundaknya menyentuh dinding rooftop. Dan sekarang Arya berada persis dihadapan Luna.
Aku tidak bisa kemana lagi. Tidak mungkin aku memukulnya lalu lari dari rooftop. Bisa dipecat aku. Tapi yang membuatku sangat terkejut.
Arya menarik kedua pundak Luna lalu memakai jas mahalnya ditubuh Luna.
"Disini sangat dingin. Kamu bisa sakit" Arya membenarkan jas nya agar pas ditubuh Luna.
Lalu Arya menerobos disela leher jenjang Luna yang tentu saja seketika membuat bulu kuduk Luna merinding. Membuat hati Luna berdebar tak karuan.
Wajahku terasa sangat panas seperti sedang berada ditengah terik matahari. Posisi kami yang sangat intim membuatku kaku membisu. Buku-buku tanganku ku genggam kuat. Ujung jari kakiku kutekan kebawah agar tubuhku tidak bergetar. Sebenarnya apa yang mau dilakukan olehnya?
"Pak Arya mau apa?" tanya Luna terbata-bata.
"Jika saya menginginkannya maka kamu tidak bisa menolakku. Lakukan saja apa yang saya mau" bisik Arya tepat didepan telinga Luna.
Mata Luna melotot. Sontak ia mendorong d**a Arya hingga menjauh darinya.
Apa maksudnya bicara seperti itu? Dia pikir aku budaknya apa yang harus menuruti semua yang dia mau.
"Memangnya pak Arya pikir bapak siapa? Jangan semena-mena sama saya. Saya tidak akan menuruti apa yang bapak mau. Permisi" Luna membuang sembarang jas Arya dari tubuhnya. Hal itu membuat amarah Arya memuncak.
Arya menarik kasar pergelangan tangan Luna lalu menghempasnya kembali ke dinding. Luna berusaha melawan namun kekuatannya tak sebanding dengan Arya yang bertubuh kokoh dan kekar.
Arya menyatukan kedua tangan Luna lalu menguncinya ke belakang. Posisi Luna semakin terhimpit. Kemudian Arya menarik tengkuk Luna dan berusaha mencumbu wanita yang kini dalam kendalinya. Luna menggerakkan wajahnya kekiri dan kekanan sebagai bentuk penolakannya. Namun Arya tetap berhasil melakukan apa yang dia mau.
Kecupan sensual Arya lesatkan dibibir Luna yang ranum. Ia mencium penuh semangat diiringi liukan tubuh Luna yang terus memberontak. Semakin Luna melawan membuat Arya semakin terpacu mencium bibir Luna. Sesekali kecupan Arya berpindah ke leher jenjang mengoda milik Luna hingga meninggalkan bekas merah disana. Luna sempat meringis saat Arya memberi kecupan kuat dilehernya, ada rasa sakit disana. Birahi Arya semakin menggebu-gebu hingga pertahanan Luna semakin melemah.
Menyadari keadaan Luna yang mulai lemas, Arya sedikit melunak. Ia tak lagi mencium kasar. Kecupannya dibibir Luna perlahan menjadi lembut penuh kasih layaknya cumbuan sepasang kekasih. Tubuh Luna pun berubah lebih rileks dan tenang.
Aku membuka mataku. Ku lihat wajah Arya yang sangat dekat denganku. Matanya terpejam rapat dan bibirnya terus bermain dibibirku. Rasa takut dan khawatirku seketika sirna. Tiba-tiba saja Arya membuka matanya lalu menatapku lekat dengan posisi bibir kami yang masih menempel. Ia melepaskan kuncian tangannya dilenganku seakan mempersilahkan kepadaku untuk melakukan apa yang aku mau. Pelan namun pasti aku melingkarkan dua tanganku dirahang keras Arya lalu mencium lembut bibirnya.
Arya dan Luna saling membalas kecupan demi kecupan hangat. Tubuh keduanya menempel kuat seperti ada lem ditengahnya yang membuat mereka sulit dipisahkan. Tangan Arya perlahan turun mengarah ke bagian d**a Luna namun saat tangan Arya akan bermain....
Bahkan kamu tidak pantas punya perasaan padaku.
Refleks Luna mendorong keras tubuh Arya hingga Arya hampir saja jatuh. Untung saja Arya cepat menyeimbangkan tubuhnya.
Perkataaan menyakitkan Arya dimasa lalu melintas begitu saja dikepalaku. Dadaku terasa sakit lagi.
Luna menyentuh dadanya yang sakit. Matanya merah dan memunculkan binar airmata. Arya yang melihat Luna seperti orang yang sedang menahan rasa sakit dengan siaga menggapai lengan Luna agar tidak jatuh.
"Kamu kenapa?" tanya Arya khawatir.
"Lepaskan saya" tatapan Luna mengisyaratkan rasa benci yang begitu dalam. "Lepaskan saya" ulang Luna lagi seraya menepis kasar tangan Arya.
Arya terpaku. Ia tidak tahu apa yang terjadi. Kenapa tiba-tiba Luna sangat marah padanya?
Luna pergi berlalu meninggalkan Arya yang masih bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Luna.