Dadaku terasa sakit sekali seperti ditekan benda berat. Tapi itu tidak berlangsung lama. Setelah itu aku kembali baik-baik saja. Melakukan aktivitas yang biasa aku lakukan. Kenapa tiba-tiba dadaku sakit? Ucapan Arya kembali terniang dikepalaku tapi yang ku rasakan saat ini biasa saja, tidak ada reaksi lebay seperti di rooptop. Dadaku tidak terasa sakit sama sekali. Apa mungkin karna situasinya yang berbeda.
"Apa sebaiknya aku buktikan nanti ya?" gumam Luna dalam hati. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Dikursi kebesarannya, Arya terlihat risau seperti ada yang sedang menganggu pikirannya. Matanya tidak fokus memandangi layar laptop didepannya. Berkas yang diberikan Sekertarisnya sejak pagi belum juga ia periksa. Pikirannya mengawang memikirkan sikap Luna di rooptop kemarin. Arya penasaran apa yang membuat Luna berubah begitu cepat dalam hitungan detik saja.
Saya yakin dia menikmati ciuman kemarin. Tapi kenapa? Aahhh
"Baru kali ini ada cewek yang menolak saya" kata Arya kesal. Ia lalu mengeprak meja hingga menimbulkan bekas merah dibuku tangannya.
" Dorrrrrrr"
Sontak Luna terpegat hingga pundaknya sedikit terangkat.
"Astaga Sarah kaget tahu. Hobby banget bikin orang jantungan"
Sarah tertawa puas.
"Lagian melamun mulu. Eh gimana ntar malam kamu jadikan pergi ke pesta ulang tahun pak Chandra?" tanya Sarah antusias. Dia sendiri sudah tidak sabar menanti malam tiba. Sarah bertekad akan tampil semaksimal mungkin agar semua tamu yang hadir memperhatikannya terutama Arya. Ia akan membuat Arya semakin terpesona padanya.
Luna bingung harus datang atau tidak. Selain tidak tertarik dengan pesta, Luna juga tidak punya gaun yang bagus untuk dipakai ke pesta sekelas keluarga Adijhaya.
Yang ada aku akan mempermalukan diriku sendiri kalau datang kesana. Aku tidak pede dengan apa yang kumiliki. Saat berjalan dengan Sarah saja, aku merasa minder apalagi ada tengah pesta itu. Tamu yang hadir juga pasti orang kaya semua. Mereka akan memakai pakaian serta perhiasan terbaik mereka sedangkan aku...ah sudahlah.
"Hmmm aku akan pergi" jawab Luna tak yakin.
#
Ditengah jalan, Luna mengetuk kaca mobil yang ditumpanginya memberi isyarat untuk berhenti. Luna berjalan menuju sebuah butik sederhana. Disana ia mulai memilih gaun yang akan ia pakai ke pesta. Luna biasanya tidak membeli gaun itu tapi ia hanya akan pinjam beberapa jam saja. Setelah acara selesai ia akan kembalikan lagi. Dengan begitu, Luna tidak harus mengeluarkan uang berlebih hanya untuk sebuah gaun. Lagian juga Luna sangat jarang pergi ke pesta jadi buat apa menyimpan barang yang tidak dipakai cuman menuhi lemari saja.
Luna baru saja sampai didepan rumahnya namun tak lama setelah itu ada seorang pria datang sambil membawak sebuah kotak yang lumayan besar.
"Selamat sore. Anda bu Luna Mustika?" tanya pria itu.
Luna diam beberapa detik. Ia belum pernah melihat pria ini sebelumnya.
Aku belum pernah melihatnya. Tapi kok dia tahu nama lengkapku.
"Iya. Ada apa ya pak? Bapak siapa?" tanya Luna penasaran.
"Saya disuruh memberi ini kepada bu Luna. Silakan diterima"
Pria berjas biru itupun memberikan kotak yang dipegangnya kepada Luna.
"Tapi ini dari siapa pak?" ada keraguan dihati Luna untuk menerima kotak dihadapannya.
"Jangan-jangan isinya bom" duga Luna dalam hati.
"Bu Luna akan tahu setelah melihat isinya. Saya permisi"
Kemudian Luna menutup pintu. Ia membuka kotak tak sabar. Sangat penasaran apa yang ada didalam kotak dan dari siapa. Begitu kotak terbuka, Luna seketika mengangah tak percaya.
Siapa yang memberi gaun seindah ini?
Aku membentang gaun itu dan kekagumanku semakin lebay. Gaunnya bagus banget. Rasanya belum pernah aku melihat gaun seindah ini. Mewah dan berkelas banget. Aku mengoyangkan gaun itu dan tiba-tiba ada sepucuk kertas kecil yang jatuh.
Dan betapa terkejutnya Luna saat membaca nama yang tertera dikertas.
Arya Kusuma Adijhaya.
Pukul 20.00 pm
Tamu yang datang semakin banyak. Semuanya tampak santai tak terlihat canggung sedikitpun. Sangat kontras dengan Luna yang terlihat sangat tidak percaya diri apalagi ia hanya datang sendirian. Tak ada teman disampingnya. Ia juga tidak melihat Sarah yang biasanya selalu bersamanya.
"Duhh Sarah mana sih? Dia datang gak sih tapi kok dari tadi gak keliatan?" Luna menghentak pelan kakinya ke lantai seraya mengedarkan mata ke segala penjuru ruangan mencari sosok Sarah.
Tapi yang aku temukan bukan Sarah. Lagi-lagi Arya. Kenapa dia ada dimana-mana sih?
Arya sudah ada disebelah Luna. Ia memperhatikan penampilan Luna dari atas sampai bawah. Dahinya mengernyit seperti ada yang janggal.
"Gaun yang aku kirim sampaikan ke kamu?" Arya yakin memberikan alamat yang benar kepada orang suruhannya untuk mengantarkan gaun kepada Luna.
"Hmmm" balas Luna seadanya.
"Kenapa tidak dipakai?"
"Males" Luna mengalihkan matanya ke tempat lain. Tatapan menukik Arya membuat Luna berdecak ngeri.
Senyum sinis dan jengkel mengembang diwajah Arya.
"Berani sekali kamu menolak barang yang saya beri. Saya pastikan kamu akan menyesal" ancam Arya tegas.
Jantung Luna berdetak lebih cepat. Tangannya mengepal agar ia tetap kuat berdiri. Luna tahu ancaman Arya tidak pernah main-main. Arya bisa melakukan apa saja yang dia mau.
Dia tidak berubah sedikitpun. Dari dulu suka mengancam orang seenak jidatnya. Mentang-mentang orang kaya jadi dia merasa semua orang dalam kendalinya. Mungkin Luna yang dulu akan langsung down mendengar ancaman Arya tapi tidak untuk Luna yang sekarang. Aku sudah bekerja keras menata hidupku selama tiga tahun ini. Tidak akan kubiarkan Arya mematahkan hatiku dengan mudah seperti dulu. Tapi apa yang akan dilakukannya padaku?
"Luna" pekik Sarah sambil berlari kecil.
"Sarah" akhirnya Luna bisa bernafas lega. Setidaknya ia tidak sendirian lagi dipesta yang membuatnya sangat tidak nyaman ini. Untung saja Arya sudah pergi.
"Kamu kemana sih? Dari tadi aku cariin. Kita pulang yuk. Aku bosan disini" Luna ingin segera pulang. Ia semakin takut sekarang apalagi setelah Arya mengancamnya. Luna takut Arya akan mempermalukannya seperti dulu.
"Ihh apaan sih. Pulang kemana? Pestanya aja belum mulai. Kalau kamu lapar, itu banyak makanan disana. Tadi aku sudah makan"
"Aku gak nafsu makan. Aku mau pulang. Ayolah Sar kita pulang sekarang yuk" rengek Luna memohon.
"Ah gak ah. Aku tu udah lama mimpiin ada dipesta ini bahkan yang lainnya juga berharap diundang kesini. Kamu kenapa sih aneh banget. Kalau kamu mau pulang, pulang saja sendiri. Aku masih mau disini" Sarah sedikit kesal dengan sikap Luna yang seperti anak kecil. Seperti anak kecil yang belum minum s**u. Belum apa-apa sudah mau pulang.
Luna menunduk pasrah. Sepertinya dia memang harus menunggu lebih lama lagi tepatnya sampai pesta selesai.
Aku takut pulang sendirian apalagi ini malam. Kalau pulang sama Sarah kan, aku bisa numpang dimobilnya hehe. Ya terpaksa deh nunggu pestanya selesai.
"Ok deh aku gak pulang. Btw Sar toiletnya dimana? Aku bingung rumahnya besar banget"
"Dari sini kamu lurus trus belok kanan trus lurus lagi" jelas Luna yang tampak sudah paham seluk beluk rumah si pemilik pesta.
Mata Luna mengerling curiga.
"Kok kamu tahu. Jangan-jangan kamu mantan pembantu disini" kata Luna bercanda.
"Kurang asem" hardirk Sarah. Ia sebenarnya tahu Luna hanya bercanda saja. "Tadi aku habis dari toilet. Makanya tanya sama pelayannya. Udah buruan sana pergi. Ntar kamu pipis disini lagi" sambungnya.
"Maunya sih gitu tapi ntar ada yang lihat" balas Luna konyol.
"Udah buruan pergi. Astaga" Sarah geleng-geleng kepala melihat sikap konyol temannya itu.
Walaupun terkadang sikapnya konyol tapi aku menyukai sikapnya yang begitu. Aku merasa aku orang yang susah beradaftasi dengan orang baru. Karna itu aku sangat pemilih dalam pertemanan. Aku hanya akrab dengan orang yang sifatnya nyambung denganku saja. Tapi orangtuaku bilang, aku anak yang mudah terhasut dengan bisikan oranglain atau kata lainnya mudah terpengaruh. Entahlah. Aku senang memiliki teman seperti Luna.
Di toilet Luna mengecek kembali riasan wajah juga gaun yang dipakainya. Ia membenarkan beberapa bagian yang kusut. Kemudian memoleskan kembali bibirnya dengan lipstik berwarna merah muda agar wajahnya tampak lebih fresh. Setelah selesai, ia keluar.
Luna menapaki koridor berjalan menuju tempat pesta kembali.
"Sepertinya pestanya sudah mulai" Luna mempercepat langkahnya namun seketika kakinya berhenti tepat didepan sebuah kamar. Dari celah pintu yang sedikit terbuka, Luna melihat foto Arya berukuran cukup besar terpampang didinding.