Aku memaki diriku sendiri yang mudah penasaran dengan sesuatu yang menarik hatiku.
Luna yang mudah penasaran tak ragu memasuki kamar itu. Luna lupa kalau yang dilakukannya sudah sangat lancang. Dia memasuki kamar sang CEO Adijhaya Group. Tapi rasa penasarannya lebih besar daripada ketidaksopanannya.
"Apa ini kamar pak Arya? Kamarnya bagus banget. Kapan aku bisa punya kamar bagus dan besar seperti ini?" Luna yang sejak kecil hidup dengan keluarga yang sangat sederhana merasa keinginannya itu sangatlah mustahil. Bisa kerja di Adijhaya Group saja, dia sudah sangat bersyukur.
Luna semakin terlena. Ia terus melangkah menyusuri kamar Arya.
"Rapi banget" puji Luna.
Senyum manis Luna terlihat begitu ia melihat foto Arya yang memakai seragam sekolah.
"Hemmm" dehem Arya. Ia sudah lama berdiri diambang pintu memperhatikan Luna.
Mata Luna mendelik. Takut kembali menyergapnya. Sejak kapan Arya ada disana?
Arya kemudian mengunci pintu lalu membuangnya sembarang. Luna hanya terpaku diam. Ia merasa dirinya sedang terancam. Ditempat ramai saja, ia sangat takut ada didekat Arya apalagi hanya berdua dikamar.
"Maaf pak...tadi saya hanya lewat lalu saya melihat kamar ini" kata Luna gemetar.
"Tidak perlu minta maaf. Malah saya suka kamu ada disini" tatapan Arya menyelidik kepada Luna. Ia semakin mendekat.
Luna yang memang mempunyai rasa takut berlebihan pada Arya semakin mati kutu. Tubuhnya tidak bergerak sama sekali. Ia tidak mencoba kabur atau berteriak. Seperti es batu, Luna tampak begitu kaku.
"Kenapa diam? Kamu takut? Tadi kamu terlihat sangat sombong berani menolak gaun yang saya beri hah" Arya mendekatkan wajahnya ke tengkuk jenjang Luna. Suaranya terdengar sangat dingin dan mengintimidasi.
Kamu ingat ancamanku tadi" Arya bermaksud mencumbu kembali leher indah dihadapannya namun dengan cepat Luna menghindar.
"Pak Arya saya mohon jangan lakukan ini pada saya. Saya minta maaf kalau saya salah" mohon Luna agar Arya berbelas kasih padanya.
Lagi-lagi dia menolakku. Di rooftop, gaun, lalu sekarang dikamar tidurku. Darah mudahku mendidih. Aku yang dengan mudah bisa mendapatkan wanita mana saja yang aku mau dan sekarang ada seorang cewek yang wajahnya biasa saja berani menolakku. Parahnya lagi, dia yang dulu sangat menyukaiku kini justru sebaliknya. Itu yang membuatku semakin marah seakan aku tidak mempesona seperti dulu.
"Kamu pikir saya mau sama cewek seperti kamu? Jangan mimpi. Itu cuma ada di khayalan kamu. Kamu sudah tahukan alasannya?" perkataan Arya seperti ujung cerulit yang menghujam tepat dihati Luna.
Kenapa dia mengatakan sesuatu yang menyakitkan lagi padahal yang dulu saja masih membekas dikepalaku.
Mata Luna mulai berkaca-kaca. Ia menekuk wajahnya. Luna tidak ingin Arya melihatnya menangis.
"Saya mau keluar dari sini" kata Luna layaknya sebuah permohonan. Suaranya terdengar serak. Sebisa mungkin Luna menahan airmatanya agar tidak turun membasahi pipinya.
Sikap Arya membuat Luna bingung. Di rooftop Arya menciumnya dengan lembut walaupun sebelumnya ia memaksa. Lalu Arya memberinya gaun indah yang membuat Luna sempat berpikir kalau Arya memiliki perasaan padanya.
Sebenarnya aku bukan tidak mau memakai atau menolak gaun pemberian Arya. Hanya saja aku merasa gaun itu terlalu indah dan mewah. Aku ingin memakainya dihari yang spesial. Aku tidak tahu kapan hari itu datang tapi yang pasti aku akan memakai gaun itu diwaktu yang tepat. Gaun itu hadiah pertama dari Arya dan aku sangat bahagia.
"Kamu lihat sendirikan, kuncinya saya buang. Jika mau keluar dari sini, cari kuncinya" Arya tampak tidak peduli atau ikut mencari kunci bersama Luna. Ia hanya duduk disofa dengan kaki disilang. Sedangkan Luna terlihat sibuk mencari kunci yang Arya buang tadi.
Luna menunduk sangat rendah, mungkin saja kunci itu ada dibawah tempat tidur Arya. Menunduk lalu berdiri kembali. Luna melakukan hal yang sama berulang kali namun tetap saja kuncinya tidak ketemu. Luna tidak sadar kalau sejak tadi, kunci itu sudah ada ditangan Arya.
Arya yang masih diliputi amarah karna penolakan Luna masih enggan memberi kunci kamarnya. Ia akan mempermainkan Luna lebih lama lagi. Luna terlihat mulai capek. Ia pun duduk bersimpuh didepan nakas yang ada disamping kasur Arya. Ia berpura-pura masih mencari kunci untuk menutupi airmatanya yang tidak dapat ia bendung lagi. Dadanya terasa begitu sesak. Sakit sekali.
"Jika kuncinya tidak ketemu, bearti kamu harus tidur disini" ucapan Arya terkesan seperti pemaksaan agar Luna mau tidur dengannya.
"Kenapa pak Arya melakukan ini kepada saya? Apa salah saya? Apa bapak masih dendam soal surat itu karna malu disukai orang jelek seperti saya. Saya sudah minta maaf dan sudah bilang kalau saya tidak menyukai pak Arya lagi. Lalu kenapa....
"Justru karna itu" Arya menghentak keras meja kaca didepannya hingga terbelah menjadi dua bagian. "Berdiri dan lihat saya" perintah Arya diliputi amarah yang memuncak.
Tubuh Luna bergetar. Ia takut sekali.
"Saya tidak mau" tolak Luna tegas tanpa berdiri dan melihat Arya sedikitpun. Hal itu semakin membuat Arya marah.
Arya menarik kasar lengan luna dan memaksanya berdiri.
"Saya tidak suka penolakan dan kamu terus-terusan menolak saya. Kamu pikir kamu sangat hebat hah" hardik Arya dengan tatapan tajam.
"Pak lepasin tangan saya sakit"
Arya tidak menghiraukan rintihan Luna yang kesakitan. Seperti kehilangan akal, Arya justru mendorong tubuh Luna hingga terhempas ditempat tidur. Luna berusaha bangkit namun kepalanya terasa pusing. Dengan tenaga seadanya, Luna berusaha mencegah Arya yang akan mencium bibirnya tapi selalu tidak berhasil. Arya dengan ganas mencium setiap inci bibir dan leher Luna. Rasa pusing yang Luna rasakan semakin kuat. Ia tidak bisa melawan lagi dan membiarkan Arya melakukan apa yang dia mau.
Bahkan kamu tidak pantas menyukaiku.
Kalimat itu kembali berputar-putar dikepalaku.
Dalam hitungan detik, Luna merasa sakit luar biasa didadanya sesak sekali. Luna ingin memohon pada Arya untuk berhenti namun Arya tidak menyadari apa yang sedang Luna alami.
"Pak Arya" panggil Luna sangat pelan. "Sakit pak" rintih Luna menahan sakit.
Arya sadar ada yang salah dari suara Luna. Seketika Arya sangat panik melihat keadaan Luna. Wajah gadis dihadapannya tampak pucat, keningnya mengeluarkan banyak keringat. Dan tangan kanannya terus menyentuh dadanya.
Wajahnya meringis menahan sakit.
"Luna kamu kenapa? Luna...Luna please jangan bikin saya khawatir. Buka mata kamu jangan bercanda sama saya. Saya minta maaf saya minta sudah keterlaluan sama kamu saya minta maaf" Arya bangkit dari kasur bermaksud mencari sesuatu untuk menolong Luna namun panik yang menyerangnya membuatnya kehilangan kontrol. Ia tidak tahu apa yang dia ambil dan untuk apa. Arya berinisiatif memeluk erat tubuh Luna. Mungkin saja Luna kedinginan. Ia terus meminta maaf dan memohon Luna membuka matanya.
"Haaaaaa" Luna menghembus nafas panjang setelah itu membuka matanya.
"Luna kamu sudah sadar. Kamu membuka mata kamu. Itu artinya kamu sudah sadarkan" Arya seperti orang linglung. Ia terus meracau tidak karuan.
Aku melihat rasa cemas dibola matanya. Aku bisa merasakan kekhawatiran dari suaranya. Aku bisa merasakan ketulusannya dari dekapannya. Entahlah aku tidak tahu pria seperti apa dia.
"Saya mau pulang" pinta Luna.
"Saya antar"
"Tidak perlu"
"Tolong kali ini jangan menolak saya. Biarkan saya mengantar kamu pulang. Ini sudah malam, bahaya" kata Arya tulus ingin mengantar Luna pulang.
"Selagi saya tidak bersama pak Arya maka saya akan aman" sahut Luna ketus.
Arya mengigit bibir bawahnya. Ia berusaha menahan emosinya.
"Kali ini saja, biarkan saya mengantar kamu pulang"
"Kali ini saja jangan paksa saya. Saya mau pulang sendiri" Luna bersikeras tidak mau Arya mengantarnya pulang. Ia merasa masih mampu untuk pulang sendiri.