Alexion membawa tubuh Kiara di atas pundaknya layaknya Kiara seorang anak kecil yang nakal dan membawanya kembali ke kamarnya dan mengunci pintu kamar. Kiara sangat malu, karena selama perjalanan menuju kamarnya semua pelayan sedang mengintip mereka diam-diam di balik kaca, di balik dinding dan dibalik pintu.
Alexion melemparkan tubuh Kiara di atas kasur empuk miliknya hingga membuatnya memantul kembali dan saat itulah Alexion mengungkung Kiara di bawahnya.
“Tawanan perang seperti apa yang kau inginkan? Coba katakan?” tanya Alexion dengan suara lembut dan berat namun berbanding terbalik dengan tatapan matanya yang tajam seolah mengoyak isi hati Kiara.
Entah angin apa yang merasuki dirinya, tiba-tiba Kiara membalas tatap mata Alexion dan menyentuh wajah maskulin Alexion, “Tuan, apalagi yang bisa saya lakukan? Tuan menginginkan saya seperti apa pun saya akan mengikuti, bahkan Tuan ingin membunuh saya sekarang pun saya bisa apa? Toh hidup saya sudah hancur, sudah nggak ada gunanya lagi.”
“Jadi, jika Tuan ingin memperlakukan saya seperti tawanan perang mana pun saya akan terima,” sambung Kiara namun ia mulai bergetar menahan tangisnya yang hampir pecah.
“Jadi, silakan...saja...” Kiara memejamkan matanya rapat-rapat dan menarik tangannya menjauh dari wajah Alexion.
Kali ini Alexion terdiam tanpa bisa berkata-kata, ia hanya mengusap air mata yang menetes di pelipis Kiara.
“Beristirahatlah,” ucap Alexion singkat dan padat seraya mengelus pipi Kiara dengan lembut, yang membuat Kiara spontan mengerutkan wajahnya karena terkejut.
Laki-laki itu bangkit dan menjauhkan dirinya dari Kiara dan meninggalkan kamar itu dengan tergesa-gesa. Melihat hal itu dengan serta merta Kiara beringsut menjauh dari rebahnya dan memeluk bantal untuk meredam isak tangisnya.
Hatinya berdebar sangat kencang, bahkan pundaknya pun terasa gemetaran karena takut. Ia masih mengingat malam itu yang benar-benar menghancurkan hidupnya dalam semalam. Kini, ia malah menjadi tawanan bagi pria asing yang merenggut masa depannya itu. Apalagi yang ia inginkan selain mati?
‘Toh aku nggak punya siapa-siapa lagi yang akan kehilangan aku. Ayah mungkin hanya akan ngerasa kehilangan satu-satunya barang dagangannya, itu doang. Dia nggak akan rugi apa pun. Toh dia sudah punya menantu kayak Aaron. Setidaknya Aaron akan memberi mereka uang untuk hidup,’ pikir Kiara dengan menahan senyum getir di sela isaknya.
‘Dia bilang tugasku hanya aku sehat, tapi, setelah aku sehat, jangankan dia melepaskan aku, dia malah lebih sering menghilang. Apa maksudnya? Apakah dia akan mengingkari janjinya untuk melepaskan aku begitu saja? Padahal seharusnya dia lega karena aku nggak nuntut apa-apa karena perbuatannya yang menodai aku malam itu dan menghancurkan masa depanku. Kenapa dia malah mengurungku?’ pikir Kiara kembali menghela napas berat.
‘Ya Allah kuatkan aku dan luluhkan hati Tuan Alexion untuk melepaskan aku, Aamiin,’ doa Kiara dalam hati sebelum akhirnya ia terlelap dalam tidurnya.
***
Hingga keesokan harinya, selepas makan siang, rumah itu yang semula selalu sepi kini terdengar suara mobil yang berdatangan hampir memenuhi halaman rumah mewah itu. Kiara yang memandang dari jendela kamarnya, tampak tertegun untuk sesaat sebelum akhirnya Ira mengetuk pintu dan memasuki kamar dan membuyarkan lamunannya.
“Nona, silakan ikut saya, Tuan memanggil, Nona,” ucap Ira dengan sikap sopan dan tegang.
“Ada apa, Ira? Apa itu semua tamu Tuan? Kenapa saya dipanggil?” desak Kiara dengan suara berbisik.
Ira celingukan menatap ke pintu kamar yang setengah terbuka, “Nona. Maafkan saya, sepertinya para tamu itu untuk Nona,” sahut Ira dengan suara berbisik dan membuat Kiara membeliak terkejut.
“Untukku?” gugu Kiara hampir tak bersuara dan lalu ia kembali mengintip ke jendela karena ada beberapa mobil lagi yang berdatangan.
“Ada mobil Van? Mobil box kecil juga?” gugu Kiara pada Ira dengan pandangan bingung dan bertanya-tanya. Ira pun menggelengkan kepalanya berkali-kali dengan wajah meminta maaf kepada Kiara.
Hingga terdengar suara Hans yang memerintahkan orang-orang yang baru datang itu memasuki sebuah ruangan yang biasa digunakan Alexion untuk bekerja.
“Ayo, Nona. Tuan sudah menunggu, Nona,” desak Ira memaksa Kiara dengan wajah memohon.
Tak ingin Ira mendapatkan teguran dari Hans, Kiara bergegas keluar kamar, bahkan tanpa merapikan rambutnya yang tergerai seadanya tanpa dihias apa pun oleh Ira seperti yang selalu Ira lakukan setiap pagi.
Dan kini Kiara berdiri menunggu di balik pintu yang tertutup di belakang Ira yang sedang mengetuk pintu, “Permisi, Tuan. Nona sudah datang,” ucap Ira setelah mengetuk pintu.
“Masuk!” perintah Alexion dengan lantang dari dalam.
Ira membuka pintu dan mempersilakan Kiara untuk masuk. Dengan langkah kaki berat dan waswas, Kiara memasuki ruangan itu yang langsung ditutup oleh Ira begitu Kiara memasuki ruangan. Hal itu membuat Kiara tersentak kaget untuk sesaat, apalagi, ia kembali dihadapkan sosok Alexion yang kini sedang berjalan ke arahnya dengan langkah-langkah ringan.
Laki-laki itu terlihat sangat tampan dengan kemeja putih favoritnya yang selalu di gulung di bawah siku dan celana biru gelap yang membungkus kakinya yang jenjang. Kiara berdiri dengan kaku dan gugup, mengingat peristiwa malam sebelumnya yang telah terjadi di antara mereka.
“Kau sudah makan siang?” tanya Alexion dengan tatapan serius dan menatap perut Kiara yang rata.
Menyadari tatap mata Alexion bukan hanya ke matanya, membuat Kiara secara refleks memajukan kedua tangannya hampir bersedekap, namun hal itu malah membuatnya terlihat gugup.
“Sudah, Tuan,” sahutnya singkat, bertepatan Alexion berhenti di hadapannya dan menatapnya dalam-dalam. Kiara tak kuasa memandang wajah Alexion dan menundukkan pandangannya yang hanya sebatas d**a bidang Alexion.
Namun demikian, Alexion malah menarik dagu mungil Kiara dengan lembut untuk menegakkan wajahnya, “Jangan tundukkan wajahmu,” ucapnya seraya berjalan memutari Kiara dan memegang punggung dan pinggangnya yang melengkung dengan gerakan mendorong dengan lembut, “Tegakkan punggungmu,” lanjutnya singkat.
Kiara yang refleks mengikuti perintah Alexion segera menegakkan punggungnya dan menatap Alexion yang kini ada di hadapannya kembali, seolah menunggu perintah selanjutnya.
“Mulai sekarang kau harus bisa bersikap seperti ini di hadapan siapa pun. Jangan pernah tundukkan wajahmu atau pundakmu, mengerti?” perintah Alexion dengan suara tegas dan dalam.
Kiara mengangguk, “Baik, Tuan,” ucapnya dengan patuh walau berbanding terbalik dengan kerut di kedua alisnya tanda tak mengerti.
“Karena mulai hari ini aku akan memberimu pekerjaan. Jadi, kau tak perlu lagi berpikir untuk melarikan diri dari sini,” ucap Alexion yang membuat Kiara membeliak terkejut bukan main dan memalingkan wajah untuk menutupi rasa gugupnya.
‘Ya ampun dari mana dia tahu aku ingin melarikan diri sini? Padahal aku nggak pernah ngomong sama siapa pun. Ya ampun! Gimana dia bisa tahu? Ternyata orang ini lebih mengerikan dari pada apa yang aku pikirkan!’ pikir Kiara dengan menyentuh wajahnya sepintas lalu dan sedikit berdeham.
“Memang, me-mangnya, pekerjaan apa, Tuan?” tanya Kiara yang tanpa sadar suaranya terdengar bergetar.
Alexion menyunggingkan senyumnya membingkai wajahnya yang tampan, “Jadilah istriku!” ucapnya singkat dan jelas, namun demikian membuat Kiara membeliak terkejut bukan kepalang seolah ia tuli mendadak.
“APA?”