Sejak mendengar berita itu, Alexion masih tak menampakkan batang hidungnya sama sekali, dan Kiara yang tak mempunyai kesibukan apa pun kembali berjalan-jalan di sekeliling rumah itu. Ia berjalan ke sana ke mari bukan tanpa alasan. Ia ingin mencari jalan untuk melarikan diri dari rumah bak istana itu.
‘Ya ampun! Tiap tujuh jam mereka bergantian jaga, tapi, tetep aja, pos depan nggak pernah kosong orang. Selalu ada dua yang berjaga-jaga. Dan tembok sekeliling terlalu tinggi untuk aku panjat. Ya kali aku bisa manjat? Tembok semulus itu mana bisa buat dipanjat, kecuali Spiderman!’ keluh Kiara dalam hati seraya menahan getir tatkala ia menatap delapan penjaga gerbang itu sedang bertukar tugas jaga.
‘Bahkan dua di antaranya juga berkeliling rumah, padahal sekeliling pagar juga bertebaran CCTV. Kayaknya semut juga bakal kelihatan sama dia. Apa sih yang dia takutin sampai harus pasang CCTV dan penjaga sebanyak ini? Udah ngalahin rumah presiden aja!’ gerutu Kiara dalam hati sambil membalas senyum pada para pelayan yang sedang mengurus kebun menyapanya yang sedang melintas.
Kini ia berjalan dari ujung lorong sisi barat rumah melihat ruangan demi ruangan yang terbuka lebar dan menatap sepintas lalu. Hingga tatap matanya berserobok pada sebuah ruangan yang dipenuhi dengan beberapa alat musik. Tanpa sadar, Kiara melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu tanpa bertanya lebih dulu pada Ira yang dengan setia mengekor ke mana pun dia pergi.
‘Ada piano? Juga gitar?’ pikir Kiara menyentuh tuts piano dengan ragu-ragu dan menatap pada Ira seolah hendak meminta izin untuk bermain.
“Ayo, bermainlah, Nona,” ucap Ira dengan berbinar-binar dan mengangguk dengan semangat.
Tetapi, Kiara menatap nanar piano yang ada di hadapannya dan menggeleng sedih, “Nggak, aku nggak bisa main piano lagi sejak Mama meninggal,” ucap Kiara dengan suara bergetar dan membuat Ira menatap dengan penuh simpati, namun demikian ia tak berani bertanya apa pun lagi.
Lalu ia beralih pada sebuah gitar kayu yang tergeletak begitu saja di atas sebuah lemari pajangan.
“Apakah ada yang baru memakainya? Kenapa dia nggak dimasukin lagi ke tempatnya?” tanya Kiara seraya meraih gitar itu dan memangkunya.
Ia mengelus lembut senar gitar itu dengan pancaran mata berbinar dan mengabaikan jawaban Ira yang hanya bergumam tak jelas. Dan ia mulai memetik satu demi satu senar gitar itu untuk memastikan bunyinya dan memutar kunci gitar untuk menyetel suara. Lalu ia menyapu semua senar dengan petikan dua jari.
Lalu seolah tenggelam dalam kenikmatan mendengar petikan gitar akustik itu, Kiara mulai mengambil sebuah nada dan mulai bersenandung lirih. Ia benar-benar tenggelam dalam alunan musik yang ia nyanyikan, hingga ia tak menyadari Alexion yang menatapnya penuh kekaguman bersandar di pintu yang terbuka. Dan kedatangan Alexion membuat Ira melarikan diri sejauh mungkin dari tempat itu.
“Tak bisakah kau mencintaiku? Oh, tak bisa kaaah ....”
Senandung Kiara dengan petikan sederhana itu pun terhenti seketika karena tanpa sengaja ia menoleh ke arah pintu dan tatap matanya berserobok pada tatap mata Alexion yang kini menatapnya dengan pandangan lain.
Kiara berdeham dan berdiri dengan canggung dan segera meletakkan gitarnya pada tempatnya semula, “Maafkan saya, saya tanpa izin memasuki ruangan ini dan menggunakan gitar dengan sembarangan,” papar Kiara bergegas menuju pintu keluar, namun demikian dengan sigap Alexion meraih pinggang ramping Kiara dan menariknya masuk kembali.
“Mau ke mana? Itu ‘kan lagu yang dinyanyikan oleh Aaron? Yang menjadi salah satu soundtrack film yang baru selesai dia bintangi?” tanya Alexion yang membuat Kiara memalingkan wajahnya dengan sedih.
Alexion menutup pintu dengan tenang, “Tapi, semua orang mengenal itu adalah karyanya. Bahkan aku ....” Alexion menggantungkan ucapannya menunggu respons Kiara.
Tak terpancing dengan ucapan Alexion, Kiara hanya mengendikan bahunya, “Terserah saja kalau Tuan nggak percaya, padahal jelas-jelas Anda mendengarkan sendiri saat Aaron bilang begitu di telepon,” jawab Kiara dengan santai seraya berjalan mendekat pada lemari pajangan yang menyimpan beberapa alat musik dari biola, tamborin bahkan harmonika ada di sana.
“Kamu begitu pandai bermain gitar, lalu kenapa kau bekerja di restoran siap saji?”
Kini pertanyaan Alexion benar-benar mengusiknya dan membuat Kiara terpancing. Dan seperti dugaannya, respons Kiara sangat kesal, seperti yang Alexion harapkan.
“Lalu apa maksud Anda saya harus jadi pengamen?” sahut Kiara dengan wajah bersungguh-sungguh, “Ya, saya memang belajar dari para anak jalanan yang tinggal di sekitar rumah saya. Dari mereka saya banyak belajar dari kecil!”
Kiara kembali meraih gitar yang ada di atas lemari dan duduk sambil memangku gitar itu di atas kedua pahanya.
“Lagu apa yang ingin Anda dengarkan, Tuan?” tantang Kiara dengan wajah bersungguh-sungguh.
Alexion mengendikan bahunya dengan acuh, “Sendiri, mungkin? Atau Cinta Dalam Bayangan? I don’t know, kau penciptanya ‘kan? Apa yang menjadi lagu andalanmu atau favoritmu?” sahut Alexion memberikan pandangannya seraya meletakkan bokongnya yang seksi dan padat di atas sofa yang berbulu lembut yang terletak di hadapan Kiara.
‘Oke, lihat ini Tuan Sombong!’ pekik Kiara dalam hati seraya mulai memetik gitar dan memainkan melodi gitar yang mendayu-dayu hingga bertempo cepat. Tak terasa dua lagu telah ia nyanyikan dan tanpa sadar air matanya tiba-tiba mengalir membasahi pipinya.
Tak kuasa menahan diri, ia pun bangkit dan meletakkan gitar itu begitu saja di meja yang terletak memisahkan dirinya dan Alexion. Namun saat ia hendak berlari menuju pintu, Alexion yang memang posisi duduknya di samping pintu segera berdiri dan meraih tubuh Kiara dan memeluknya.
“Kenapa kau masih saja menangisinya? Apa kau begitu mencintainya? Laki-laki seperti dia tak pantas untukmu, apalagi untuk air matamu,” bisik Alexion menenangkan Kiara.
Namun demikian, Kiara malah memberontak dan mendorong Alexion dengan kesal, “Jangan bawa-bawa Aaron! Kau pun sama! Laki-laki semuanya sama saja! Tak cukupkah satu perempuan dalam hidupnya? Bahkan kau pun seperti itu, bahkan lebih dari Aaron! Kau sudah bertunangan dengan perempuan lain, tapi kau terus menyentuhku dan menawanku di sini? Kau pikir ....”
Kiara membekap mulutnya sendiri seolah terlepas bicara dan dengan demikian ia pun mengakui bahwa apa yang merisaukannya bukanlah karena Aaron melainkan karena Alexion.
“Apa?” tanya Alexion singkat seolah ingin mencerna semua ucapan Kiara yang kini semakin berusaha memberontak dari pelukan Alexion.
“Lepaskan saya, Tuan!” gugu Kiara dengan wajah menahan malu dan kesal.
“Tunggu, apa maksudmu dengan Tunangan?” desak Alexion seraya meraih wajah Kiara untuk menatapnya.
“Aku dikhianati oleh calon suamiku yang tidur dengan Clarissa Lynn tetapi dia bahkan menikahi adikku, tapi sekarang aku menjadi perempuan ketiga di pertunangan orang lain! Bener-bener ironis!” celoteh Kiara mengabaikan pertanyaan Alexion yang kini tertawa kecil.
“Jadi, kau marah karena itu? Kau cemburu?”
“Untuk apa aku harus cemburu? Toh di antara kita nggak ada hubungan apa-apa, aku hanya tawanan perang yang setiap saat akan dibuang oleh penawanku jika ia sudah bosan!” sela Kiara dengan tatapan mata yang berapi-api seolah menantang Alexion.
“Jadi, kau berpikir seperti itu? Kau adalah tawanan perang buatku? Baiklah, aku akan menunjukkan padamu tawanan perang itu seperti apa,” ucap Alexion seraya melonggarkan pelukannya namun seketika membopong tubuh Kiara di pundak Alexion.
“Tidak! Tuan, mau apa! Tunggu! Lepas!”