Eda mengantarkan Melani hingga ke pintu depan, sementara aku memilih rebahan di atas kasurnya yang masih berantakan. Ponsel Eda tergeletak sembarangan, kuraih benda itu dan memanggil nomor Eda lewat ponselku. Aku selalu menghormati privasi Eda dengan tidak pernah menyentuh ponselnya kecuali jika dia sedang meminta tolong. Namun, moment putus ini malah membuatku menjadi lebih berani untuk melakukan hal – hal yang justru sangat kuhindari ketika masih pacaran. Singkatnya, masa bodoh jika nanti dia marah padaku. Yang penting rasa penasaranku terpuaskan. Wajahku memenuhi layar ponsel Eda. Itu bukan foto cantik atau foto dalam moment penting. Itu adalah foto saat aku belum siap dengan wajah yang—oh Tuhan—mata ngantuk, lubang hidung yang hampir memenuhi layar dan bibir mangap. “Enggak ada yang

