Jeda Ketigapuluh Tujuh

1217 Kata

Sepulangnya dari tempat pertemuan dengan dokter Ihsan, kami kembali menuju kost. Eda membiarkanku mengemudi. “Bang,” Eda menoleh. “Aku lepas jaketnya ya.” Dia mengangguk dan bahkan membantuku melepas jaketnya. “Aduh panas.” Kuturunkan suhu ac mobil. Kami tiba, namun masih enggan turun. Aku tidak ada jadwal siaran malam ini dan masih ingin menghabiskan waktu bersama Eda. “Bang,” “Ya?” Eda mengalihkan matanya dari layar ponsel. Aku menatapnya gugup. “Kita, apa sih sekarang?” “Hm?” Kedua alis Eda bertautan. “Hubungan kita. Apa?” “Teman.” Jawab Eda, ringan. Seringan bulu. Kesal, aku menarik napas dan mulai menyerangnya panjang lebar. “Memang ada ya teman yang nyosor bibir temannya sembarangan? Pake peluk – peluk, ngomong kangen? Ngatur – ngatur pake baju. Itu teman jenis apa? Eng

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN