Jeda Ketigapuluh Delapan

1276 Kata

Eda duduk di kursi hotel, dia sempat ingin menunggu di luar tapi kutolak. Aku memintanya menunggu di dalam dan ikut mendengarkan cerita bunda, sementara aku memeluk bunda yang masih menangis tersedu – sedu di atas kasur. “Bunda kurang apa Ra sebagai istri? Bunda keluar dari pekerjaan untuk bisa jadi istri dan ibu buat keluarga. Kita sudah punya cucu, kenapa ayah tega Ra? Kenapa?” Aku mengelus – elus punggung bunda, di kursinya Eda memandang kami dengan tatapan iba. “Bunda sudah melihat buktinya?” Tanyaku pelan – pelan. “Jelas lah Ra! Bunda lihat dengan mata kepala sendiri. Ayahmu kok ya begitu banget Ra. Sudah jadi kakek, banyak tingkah banget. Bunda enggak mau dimadu, Ra. Bunda enggak sudi.” “Ceritain dulu Bun, gimana Bunda bisa yakin ayah nikah lagi.” Dalam hati kecilku, aku ragu j

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN