Napas kami sama – sama berantakan, aku bahkan bisa melihat diriku sendiri yang kacau dari kedua mata Eda yang kehilangan kontrol. Dia mengatur napas dan mengancingkan bajunya kembali. “Maaf Ra,” “Kenapa Bang? Kenapa berhenti?” “Abang enggak bisa mengecewakan kamu.” “Kecewa kenapa? Aku juga mau.” Suaraku lirih dan putus asa. Eda memejamkan matanya selamat beberapa saat dan ketika dia membuka matanya kembali, Eda yang manusiawi telah pergi dari sana. “Tadi kelewat batas. Abang minta maaf.” Perasaan tertolak melandaku. Airmata kembali luruh, sementara Eda yang berada di hadapanku, ragu menyentuh. Aku berdiri hendak pergi, namun Eda memelukku dari belakang. Dia berbisik. “Abang terlalu mencintai kamu hingga tidak mampu merusakmu seperti itu.” Kupeluk lengannya dan kembali terisak. Buk

