Walaupun berada di rumah sakit yang sama dengan Eda, tapi dia tidak lagi menyambangi kamar rawat inapku. Bahkan ketika tante Mayang datang menjengukku, Eda mengatakan pada mamanya bahwa dia sedang menjadi asisten dokter bedah yang akan merekomendasikannya untuk lanjut mengambil sekolah spesialis bedah. Hanya Kelvin dan kedua orangtuaku saja yang rajin menemaniku selama di rumah sakit. Hari ini adalah hari kepulanganku. Bunda memintaku pulang sementara ke rumah kami di Tangerang dan mengambil cuti untuk bedrest sampai sembuh total. Kelvin membantu ayah membawakan barang – barangku ke dalam mobil. Sementara bunda mengambil obat di apotik, aku duduk di kursi panjang depan apotik sambil mengabari teman – teman kantor dan adikku untuk menyiapkan kamar. “Lho, itu Haura kan Dok?” Suara seorang

