bc

Arisan Para Nyonya

book_age18+
1
IKUTI
1K
BACA
family
forced
arrogant
stepfather
heir/heiress
drama
bxg
mystery
mythology
like
intro-logo
Uraian

Demi mengungkap kematian ibunya yang tewas mengenaskan delapan tahun lalu, Kinanti "Kinan" Sekar Arum—seorang penaksir perhiasan berdarah dingin—menyusup ke Arisan Kenanga Mas, lingkaran paling eksklusif sekaligus mematikan milik para nyonya kelas atas Jakarta. Di balik kilau berlian, sutra mahal, dan aroma melati, terdapat *Cawan Perak* dan *Buku Kas Tembaga*. Di sana, kocokan lontar emas tidak hanya memilih siapa yang berhak membawa pulang kemakmuran miliaran rupiah, tetapi juga menentukan tumbal nyawa yang harus diserahkan dalam kurun empat puluh hari.

Namun, penyamaran Kinan berubah menjadi jebakan maut saat ia menemukan namanya sendiri telah tertulis di buku tembaga sebagai *Utang Darah* warisan sang ibu. Satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah menempuh bahaya melalui *Pasal Menantu*—mengikatkan diri dalam pertunangan sandiwara dengan Raden Arya Mahendra Prawira, pewaris tunggal konglomerasi Prawira Land yang dingin, penuh rahasia, dan menolak dikejar.

Di tengah pertarungan manipulasi, intrik arisan, dan ritual kuno yang menagih janji, Kinan tidak hanya harus mengejar hati pria yang terus menyembunyikan masa lalunya, tetapi juga berpacu dengan waktu sebelum namanya benar-benar dipanggil oleh *Yang Menagih*.

Saat cawan perak mulai berdering dan tirai kemakmuran berubah menjadi genangan darah, satu pertanyaan tersisa: *Siapa yang menulis nama ibunya di buku tembaga—dan sanggupkah Kinan menuliskan nama pembunuh itu lebih dulu sebelum hari ke-40 habis?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1 — Nama di Buku Tembaga
Sembilan puluh detik. Kinan menghitungnya dengan cara yang sama seperti ia menghitung karat: tanpa berkedip, tanpa memercayai apa pun selain angka. Kalung kembang sepatu itu berat di telapak kirinya—empat puluh satu karat berlian, empat belas miliar rupiah menurut surat taksirnya sendiri—sementara tangan kanannya sudah menyelipkan kamera mikro di balik kancing blazer. Di bawah lantai penthouse, musik jazz memanggil tamu pertama. Di depannya, pintu vault terbuka seperti mulut yang menunggu ditelan. “Kalung itu bukan milikmu untuk dibawa masuk ke sini.” Suara itu tidak keras. Ia hanya dingin, rendah, seperti besi yang baru diangkat dari air. Kinan tidak menoleh. Jemarinya sudah berada di atas halaman terakhir Buku Kas Tembaga, dan di sana, dalam tinta cokelat tua yang berbau karat, namanya tertulis lebih rapi daripada tulisan tangannya sendiri. Kinanti Sekar Arum. Utang Darah Warisan No. 96. BELUM LUNAS. Kamera mikro bergetar satu kali ketika ia menekan tombol. “Kalau kamu mau menghentikanku,” katanya, “seharusnya datang dua detik lebih cepat.” Tidak ada jawaban. Kinan memotret lagi. Baru setelah lampu kecil pada kamera padam, ia berbalik. Arya berdiri satu langkah di belakangnya. Ia mengenali laki-laki itu dari foto-foto bisnis yang selama berbulan-bulan ia kumpulkan. Raden Arya Mahendra Prawira. Pewaris tunggal Prawira Land. Anak Retno Prawira. Wajah yang hampir selalu tampak tidak sabar pada kamera, tetapi malam ini terlalu diam untuk disebut kesal. Bekas jahitan tipis memotong alis kanannya. “Berapa banyak yang kamu lihat?” tanya Arya. “Cukup.” “Cukup untuk apa?” “Untuk tahu ibuku tidak mati karena cerita yang diberikan polisi.” Arya menatap halaman itu, lalu kembali kepadanya. “Kamu tidak seharusnya ada di sini.” “Kamu juga tidak seharusnya berdiri di antara aku dan jawaban.” “Aku tidak berdiri di antara kamu dan apa pun.” “Kalau begitu minggir.” Arya tidak bergerak. Kinan menyimpan kamera ke saku dalam blazer. Ia tidak menunjukkan bahwa telapak kirinya mulai dingin. Ia sudah menghitung semua jalur keluar sebelum membuka vault: lorong servis, tangga belakang, lift barang. Masalahnya bukan keluar. Masalahnya adalah laki-laki di depannya mungkin tahu lebih banyak daripada seluruh buku yang baru saja ia foto. “Kamu tahu namaku?” tanyanya. “Ya.” “Dari siapa?” Arya diam. “Retno?” Rahangnya mengeras. “Jadi benar.” “Jangan sebut nama ibuku di sini.” Kinan hampir tersenyum. “Kenapa? Dia punya telinga di dalam dinding?” “Dia punya orang di mana-mana.” “Termasuk kamu?” Pertanyaan itu membuat mata Arya berubah sedikit. Bukan marah. Sesuatu yang lebih sulit dibaca. “Kamu datang sebagai penaksir hadiah.” “Aku memang penaksir.” “Dengan kamera mikro.” “Profesional harus punya dokumentasi.” “Dan tera palsu?” Kinan melirik pintu vault. “Profesional juga harus bisa membuka pintu yang salah.” Arya mengembuskan napas pendek. “Kamu tidak lucu.” “Aku tidak sedang mencoba lucu.” Ia melangkah melewati Arya. Tangan laki-laki itu menutup pergelangan tangannya. Cengkeramannya datang tiba-tiba, panas, hampir menyakitkan. Kinan langsung menarik bahu dan memutar badan, tetapi Arya sudah membaca gerakannya. Kamera mikro masih aman di balik blazer. Cincin giok di jari manisnya bergeser ketika ia berusaha melepaskan diri. “Lepaskan.” “Kamu tidak seharusnya ada di sini.” “Kamu sudah mengatakannya.” “Dan kamu belum mendengarnya.” “Kalau begitu bicara lebih jelas.” Arya menatap cincin giok itu. Hanya satu detik. Namun Kinan melihatnya. “Kamu kenal cincin ini?” “Tidak.” “Kamu bohong.” “Aku tahu benda itu.” “Itu jawaban yang berbeda.” Arya menekan bibirnya menjadi garis tipis. Dari bawah terdengar denting gelas dan tawa para tamu yang mulai memenuhi ruang utama. Suara itu terasa tidak masuk akal di ruangan dingin ini. Orang-orang sedang memilih tempat duduk, memuji berlian, membicarakan saham, sementara nama Sekar tertulis di buku yang seharusnya tidak diketahui siapa pun. Kinan menurunkan suara. “Kenapa kamu tidak panggil penjaga?” Arya menatapnya lama. “Karena kalau mereka melihatmu di sini, namamu tidak akan menunggu kocokan bulan depan.” Kinan berhenti melawan. Kalimat itu lebih berguna daripada penjelasan panjang. “Kocokan apa?” Arya tidak menjawab. “Nomor sembilan puluh enam?” “Jangan.” “Utang Darah?” “Jangan ucapkan istilah itu di sini.” “Kenapa?” Cengkeraman Arya mengendur. Kinan bisa merasakan perubahan kecil itu sampai ke tulang pergelangannya. Ia tidak tahu apakah ia baru saja mendapat perlindungan atau peringatan. Mungkin keduanya. “Karena kamu belum tahu apa yang kamu panggil,” kata Arya. “Aku tahu nama ibuku.” “Tidak cukup.” “Untuk malam ini, cukup.” Kinan menarik tangannya. Arya membiarkannya. Bekas tekanan merah terlihat di kulit. Kinan menggosoknya dengan ibu jari, kemudian menatap laki-laki itu tanpa berkedip. “Sekarang kita bicara.” “Tidak.” “Kamu selalu menjawab sesingkat itu?” “Kalau orang di depanku suka mengambil risiko.” “Kamu belum kenal aku.” “Aku tahu kamu datang ke sini dengan rencana.” “Dan kamu tahu namaku sebelum aku memperkenalkan diri.” Arya tidak menjawab. Kinan mengambil satu langkah mendekat. “Jadi siapa yang memberi tahu?” “Keluar.” “Jawab.” “Keluar, Kinan.” Namanya terdengar terlalu akrab. Kinan membeku sepersekian detik. Ia sudah mendengar banyak orang mengucapkannya, tetapi bukan dari pria yang baru saja menangkap tangannya di ruang terlarang dan berbicara tentang kocokan seolah hidupnya tercatat dalam jadwal bulanan. “Berapa lama kamu tahu?” tanyanya. Arya menatap halaman terakhir. “Lebih lama daripada yang kamu kira.” “Sejak ibuku?” “Sejak sebelum kamu datang malam ini.” Jawaban itu justru membuatnya semakin marah. “Kalau begitu kamu tahu siapa yang menulis namanya.” “Aku tahu nama itu ada.” “Bukan itu yang kutanyakan.” “Aku tahu.” “Lalu jawab.” Arya menggeleng pelan. “Belum.” Kinan tertawa pendek, tanpa humor. “Belum atau tidak mau?” “Dua-duanya bisa benar.” Ketukan terdengar dari pintu vault. Tiga kali. Arya langsung menoleh. Kinan mundur setengah langkah, memasukkan kamera lebih dalam ke saku. Arya bergerak ke pintu dan menutup Buku Kas Tembaga dengan satu tangan. “Masuk.” Pintu terbuka. Seorang pelayan berdiri dengan kepala tertunduk. “Maaf mengganggu, Tuan Arya. Ibu Ketua meminta Nona Kinanti menemui beliau.” Kinan menatap Arya. “Ibu Ketua tahu aku di sini?” Arya tidak menjawab. Pelayan itu berkata, “Beliau meminta saya menyampaikan bahwa waktunya sudah tiba.” “Tiba untuk apa?” Pelayan itu hanya menunduk lebih dalam. Kinan memandang buku tembaga yang kini tertutup. Ia ingin mengambilnya, tetapi tidak akan mendapatkan apa-apa dengan mencoba. Setidaknya sekarang ia memiliki foto. Satu-satunya benda yang lebih berbahaya daripada buku itu adalah pengetahuan tentang siapa yang takut terhadap isinya. Ia melangkah keluar. Arya mengikuti beberapa detik kemudian. Lorong servis terasa lebih hangat. Bau mentega, daging panggang, dan melati kembali menyambutnya. Musik dari ruang utama terdengar lebih jelas. Kinan berjalan di belakang pelayan, tetapi tidak terlalu dekat. Ia mengingat kalimat Arya tentang kocokan dan menyimpannya bersama nama-nama lain yang selama ini ia kumpulkan. Sekar. Nomor 96. Utang Darah. Kocokan. Dan Arya, yang seharusnya tidak tahu namanya. Pintu menuju ruang pesta terbuka. Percakapan berhenti tidak sekaligus, melainkan berlapis. Meja pertama masih tertawa. Meja kedua menoleh. Seorang perempuan di meja ketiga menutup mulut dengan kipas. Baru setelah itu seluruh ruangan menyadari siapa yang masuk. Dua belas meja kecil tersusun di bawah lampu kristal. Sutra, mutiara, berlian, dan jam tangan mahal berkilat di bawah cahaya. Kinan pernah bekerja di cukup banyak lelang untuk mengenali barang-barang yang benar-benar mahal dan barang yang hanya ingin terlihat mahal. Malam ini hampir semuanya asli. Di ujung ruangan, seorang perempuan tua duduk dengan punggung tegak. Kebaya hijau tua menutupi tubuhnya dengan sederhana, tetapi gelang tembaga berbentuk naga di pergelangan kirinya menarik mata Kinan sebelum ia sempat mencegah diri. Gelang itu bukan perhiasan biasa. Kinan mengenali pola ukirannya. Perempuan itu mengangkat mata. “Ibu Ketua,” bisik seseorang. Hartati Soeryaningrat tidak perlu meminta ruangan diam. Tatapannya turun ke tangan Kinan. Berhenti pada cincin giok. Kinan refleks menutupinya dengan telapak kanan. Terlambat. “Dekatlah,” kata Hartati. Kinan maju dua langkah. Hartati memandang wajahnya, lalu cincin itu lagi. “Masih dipakai.” Kinan tidak menjawab. “Cincin lama,” kata seorang perempuan berambut putih dari meja terdekat. Hartati menggeser pandangan kepadanya. “Kamu mengenalnya?” “Tidak.” “Lalu jangan bicara.” Perempuan itu menutup kipas. Kinan hampir tersenyum. Ia menyukai cara Hartati membuat orang lain diam tanpa menaikkan suara. “Cincin ini milik ibu saya,” kata Kinan. “Aku tahu.” Jawaban itu datang terlalu cepat. Kinan menatapnya. Hartati mengetukkan ujung tongkat ke lantai sekali. “Sekar membawanya ke sini?” “Dia tidak pernah datang ke sini, sejauh yang saya tahu.” “Yang kau tahu dan yang terjadi sering berbeda.” “Kalau begitu saya datang untuk memperbaikinya.” Beberapa kepala kembali menoleh. Hartati tersenyum tipis. “Masih sama.” Kinan merasakan tengkuknya menegang. “Siapa yang sama?” “Cara kamu menjawab.” “Dengan ibu saya?” “Dengan masalah.” Dari belakang, langkah Arya berhenti. Kinan tidak menoleh. Ia ingin tahu apakah laki-laki itu akan bergerak jika Hartati mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya dikatakan. Hartati menunjuk kursi di sebelahnya. “Duduklah, Nona Kinanti.” “Saya datang untuk menaksir hadiah.” “Hadiah bisa menunggu.” “Tidak semua.” “Benar.” Hartati melirik Arya. “Terutama utang.” Ruangan mendadak lebih sunyi. Kinan memandang perempuan tua itu. “Apa Ibu Ketua sedang menagih saya?” “Belum.” “Lalu apa yang harus saya bayar?” “Pertanyaan yang lebih baik adalah siapa yang membayar untukmu.” Kinan tidak duduk. Hartati tidak memaksa. “Kalau Ibu tahu nama saya,” kata Kinan, “Ibu juga tahu nama Sekar tertulis di Buku Kas Tembaga.” Tidak ada yang bergerak di meja-meja terdekat. Arya mengangkat kepala. Hartati hanya mengusap gagang tongkatnya. “Kamu masuk terlalu jauh untuk berpura-pura tidak tahu.” “Saya tidak berpura-pura.” “Bagus.” “Jadi jawab saya.” “Tidak di sini.” “Kenapa?” “Karena meja-meja ini penuh telinga.” Kinan melirik para tamu. “Dan saya harus percaya Ibu?” “Tidak.” Jawaban itu membuat Kinan terdiam. Hartati menggeser kursi kosong sekali lagi. “Kamu tidak perlu percaya saya. Duduk saja. Dengarkan.” Kinan akhirnya menarik kursi. Sebelum duduk, ia menatap Arya. Laki-laki itu tidak menghampirinya. Tidak juga pergi. Wajahnya kembali tertutup, tetapi tangannya mengepal di sisi jas. Kinan menyimpan detail itu. Ia duduk di hadapan Hartati. “Delapan tahun?” katanya. “Jangan terlalu cepat meminta seluruh jawaban.” “Saya sudah menunggu delapan tahun.” Hartati mengamati wajahnya, bukan seperti orang menilai kecantikan, melainkan seperti orang mencocokkan dua catatan yang ditulis pada waktu berbeda. “Tidak,” katanya. “Kau menunggu sejak kau mengira kematian Sekar adalah kecelakaan. Itu berbeda.” Kinan merasakan kuku jarinya menekan telapak tangan. “Siapa yang memberi Ibu hak menyebut kematiannya seperti itu?” “Tidak ada.” “Lalu?” Hartati menutup kipas. “Aku yang membuka pintu malam itu.” Kalimat itu menggantung di antara mereka. Kinan tidak sempat bertanya pintu yang mana, karena Hartati sudah menggeser cangkir teh ke arahnya. “Minum. Tanganmu dingin.” Kinan tidak menyentuh cangkir. “Kalau saya minum, apakah Ibu akan menjawab?” “Tidak.” “Kalau begitu tidak perlu.” Sudut bibir Hartati bergerak. “Sekar juga begitu.” Kinan menatapnya. Perempuan tua itu membuka kipasnya perlahan. Dari sela-sela lipatan kain, suara Hartati turun menjadi hampir bisikan. “Sekarang,” katanya, “kita bicara tentang delapan tahun yang hilang.” Kinan menatapnya. Hartati membuka kipas satu ruas lagi. “Dan tentang kenapa ibumu meninggalkan satu utang yang diwariskan kepadamu.”

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Tentang Cinta Kita

read
231.3K
bc

Satu Atap Tanpa Cinta

read
28.8K
bc

Keyra, Gadis Kecil Kesayangan Om Dirga

read
213.6K
bc

Suamiku Bocah SMA

read
2.6M
bc

Pernikahan Rahasia sang CEO: Menyerah pada Cinta yang Menggila

read
1.0K
bc

Sentuh Aku, Daddy!

read
175.1K
bc

Demo Dulu, Jatuh Cinta Kemudian

read
12.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook