Bab.6 Rasa yang sama

1120 Kata
“Mas Fatih belum nikah?” tanyaku yang lolos begitu saja. kutup mulutku dengan tangan, dengan wajah yang meringis, bingung harus berbuat apa. Lelaki yang tadinya berjongkok di depan pusara ibunya kini menoleh. Ia bangkit dan menundukkan pandangannya. “Kamu ada disini, Ira? Eh, maaf, maksudku Zura.” “Iya, ibu baru saja meninggal.” “Inalillahi wa inna ilaihi rojiun.” “Mas Fatih, benar yang Zura dengar tadi?” tanyaku yang tak tahu sopan santun. “Yang mana?” “Kamu belum menikah?” tanyaku penasaran. Ia mengembangkan senyum. Tanpa sepatah kata pun dari bibirnya. “Sayang, kamu disini?” teriakan dari belakang tubuhku membuatku sadar dengan apa yang kulakukan. Ada lelaki sahku yang begitu mencintaiku. Pantaskah aku menaruh rasa kepada lelaki lain? “Ustad Fatih ada disini juga ternyata?” sapa Mas Bagas yang kini menjabat lelaki masa lalu. “Dunia begitu kecil ya, kita kembali dipertemukan disini,” ucapnya Mas Bagas kembali. “Begitulah jika takdir mempertemukan, Pak.” Mas Bagas meminta ustadnya Danial untuk ke rumah. Meskipun beberapa terdengar kalimat penolakan dari lelaki tersebut, akhirnya Mas Fatihpun menyerah. Turut ikut kami ke rumah bapak. “Ayah ....” teriak Danial ketika melihat kami berada di ambang pintu. Dilihatnya lelaki di sebelah ayahnya, yang membuatnya kembali menarik sudut bibirnya kegirangan. “Ustad Fatih ikut kesini? Mau ngajari mengaji Danial sore ini kan?” tanyanya lugu. Kami hanya tersenyum. “Nak Bagas, ayo masuk!” ucap Bapak yang baru saja keluar dari ruang tengah. Dilihatnya dengan seksama, hingga terdengar tegukan saliva kala manik mata itu terfokus dengan lelaki di sebelah Mas Bagas. “Ini guru ngaji Danial, Pak. Kebetulan kami bertemu di pemakaman tadi. Beliau juga warga desa ini sebelumnya,’ jelas suamiku. “Benar seperti itukan, Ustad Fatih?” tanya lelakiku yang kini menoleh ke arah guru ngajinya Danial. “Iya, Pak,” jawabnya dengan anggukan kepala. Kami duduk di ruang tamu, dimana Danial terlihat manja dengan ayahnya. Ia meminta dipangku dan terus menceritakan perjalanannya selama ke rumah kakeknya ini. Hal yang biasa ia lakulakan ketika bertemu ayahnya seusai pulang kerja. Sedangkan bapak, ia langsung pamit meninggalkan, katanya memiliki acara. “Yah, kita main di luar yuk! Bosen disini. Gak ada mainan.” “Sama mama ya?” tawarku. “Ogah. Sama ayah saja. kalau sama mama pasti gak boleh ini, gak boleh itu. Gak seru, Ma,” protesnya. Mas Bagas tersenyum kecil, lalu meminta ijin untuk keluar sebentar, menenangkan anak laki-lakinya yang dari tadi merengek meminta main di luar. Danial memang lebih suka bermain di luar rumah dari pada menghabiskan waktunya dengan game dan sejenisnya. Tinggallah aku dan Mas Fatih yang lagi-lagi dihadapkan dengan situasi seperti ini. Hanya berdua dalam kecanggungan. “Mas Fatih, ini teh nya diminum,” ucap adikku yang kini datang dengan nampan di tangannya. Wajah berkulit putih dengan lipstik merah muda itu terlihat melirik tamuku. Dikembangkannya senyum yang bagiku begitu manis. Apakah Hafsya mempunyai rasa dengan Mas Fatih? Sekelumit pertanyaan itu menyapaku begitu saja. “Terima kasih. Kamu sudah besar, Sya.” “Tambah cantik kan, Mas?” tanyanya dengan genit. Ia menatap lelaki di depanku dengan wajah yang sumringah. Berikut dengan Mas Fatih yang turut menarik sudut bibirnya, membuatku merasakan rasa yang tak seharusnya kembali menyapaku. Rasa iri kepada orang yang salah. “Mas Fatih kemana saja selama ini? kok tiba-tiba jadi guru ngaji anaknya Mbak Zura?” Lagi-lagi Hafsya menampakkan sikapnya yang sok kenal, sok dekat. “Kebetulan saya pernah nolongin ibunya Pak Bagas ketika kecopetan.” Aku mengangguk, baru tahu kalau semua atas dasar balas budi. Bisa jadi, ini alasan ibu yang terus kekeh Danial dibimbing ngaji oleh Mas Fatih. “Tapi ... kalian tidak ...?” Hafsya mengernyitkan dahi, menatapku dan Mas Fatih bersamaan. “InsyaAllah tidak, kami sudah bahagia dengan kehidupan masing-masing,” imbuhnya. “Syuklurlah ... Hafsya masih punya kesempatan,” ucap gadis berambut panjang itu sambil kembali mengembangkan senyumnya. “Hafsya, kamu suka dengan Mas Fatih?” tanyaku tanpa basa-basi, bersamaan dengan emosi yang meluap. Beberapa kali kucoba meredam rasa cemburu, justru yang ada rasa itu semakin kuat. “Kenapa, Sayang? Ya gak papa dong, kan mereka sama-sama singel. Malah bagus nanti, Danial bisa dibimbing oleh om nya,” ucap Mas Bagas yang langsung menyaut begitu saja. ia datang dengan Danial yang berdiri di sebelahnya tanpa kusadari. “Mas Bagas setuju dengan hubungan kami?” Aku mengernyit. Hubungan kami? Adikku memang bar-bar, tapi tak pernah kutahu ia seberani ini. “Dek, itu Mas Fatih belum ngejawab, dari tadi juga diem saja,” protesku. “Halah, paling Mbak Zura yang cemburu kan?” ucapnya yang juga ceplas-ceplos lebih dariku. Seketika Mas Bagas terdiam. Ia menatapku seakan ribuan pertanyaan itu menghunus ke jantungku. “Zura ... E .... “ “Saya bersedia taaruf dengan Hafsya, jika Hafsyanya berkenan,” ucap lelaki di depanku yang membuatku terperanjat. Hampir saja jantungku mencelos tak lagi ke tempatnya. Kini, ribuan pertanyaan justru menghampiriku pikrianku. Bagaimana kalimat itu bisa lolos begitu saja. Mas Fatih juga mencibtai Hafsya? Ah, rasanya tak mungkin. “Bagus dong. Kalau bisa pernikahan kalian secepatnya dilaksanakan. Sebelum Hafsya menempuh pendidikan s2 justru lebih bagus. Kan Hafsya bakal ada yang jagain. Gimana, Sayang?” tanya Mas Bagas yang justru melempar pertanyaan ke arahku. Perasaaku semakin meluap-luap. Ingin rasanya memberontak dengan takdir. Bagaimana bisa aku menerima, jika lelaki yang sampai saat ini masih menduduki tahta hatiku menjadi adik iparku? “Sayang, menurutmu bagaimana?” tanyanya lagi, karena tak kunjung mendapatkan jawaban. “Aku sih terserah mereka saja, Mas. Pastikan saja bapak bisa terima ustadnya Danial itu menjadi menantunya,” ucapku yang langsung meninggalkan mereka begitu saja. Kurebahkan diriku ke kamar adikku. Kamar yang jauh dari kata sempit dan pengap dari milikku dulu. Ruangan ini memiliki luas yang ukurannya beberapa kali lipat lebih besar dari kamarku dulu, dengan ranjang empuk dan kamar mandi dalam. Hafsya selalu beruntung dariku. Kutatap langit kamar, dengan terus terbayang kalimat yang kudengar tadi. “Saya bersedia taaruf dengan Hafsya, jika Hafsyanya berkenan.” Ini nyatakah? Aku tidak sedang bermimpi? Beberapa kali kucubit tanganku, untuk memastikan. Mungkinkah ini alasan Mas Fatih yang dulunya tak kunjung datang menikahiku? Ia juga menyukai adikku? Ah, semuanya tak masuk akal. “Mama ....” teriakan Danial memecahkan lamunanku. “Ada apa, Sayang?” Lelaki kecil dengan tubuh tambun itu mendekat. “Mama kenapa gak ikut ngobrol dengan Ayah, Ustad fatih dan Tante?” “Mama capek, mama ingin istirahat.” “Ya sudah, kalau begitu Danial sama ayah lagi ya, Ma.” Aku mengangguk. Danial kembali menutup pintu kamar ketika berlalu, hingga posisiku yang kini duduk di bibir ranjang terfokus dengan foto Mas Fatih yang kini berjejer di dinding kamar adiku. Aku mendekat untuk memastikan. Foto lelaki yang dulunya menghiasi kamarku, kini berubah tempat memenuhi ruangan Hafsya. Apa ini tak salah?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN