Bab.7 Bacaan Tahlil

1111 Kata
Kembali kupandangi foto lama itu, foto Mas Fatih yang tengah duduk di teras mushola. Ia mengenakan kopyah dan kemeja coklat kesayangannya. Foto yang diambil ketika acara bakti sosial kala itu. Juga ada foto kami berdua, yang kini digunting dan meninggalkan gambar Mas Fatih saja. “Mbak Zura,” ucap Hafsya lirih yang langsung mendekat ke dinding. Ia menutupi pandanganku, hingga tubuh langsingnya masuk dalam pandangan. “Dek, itu semua ... foto Mas Fatih dari kamar mbak?” tanyaku. “E ... itu, Mbak. E ....” Manik mata hitamnya terlihat bergerak ke kanan dan kiri, tampak memikirkan jawaban yang harus dilontarkan. “Dek, mbak tanya denganmu. Itu foto Mas Fatih dari kamar lama mbak kan?” tanyaku lagi menuntut jawaban. “I-iya, Mbak.” “Kamu beneran suka sama Mas Fatih?” Wanita cantik dengan rambut panjang itu menunduk. “Iya, Mbak.” Aku terdiam. Kutarik nafas panjang, mencoba mengisi oksigen dalam jantungku yang mulai sesak. “Mbak Zura sudah menikah dengan Mas Bagas. Gak ada salahnya jika Hafsya menikah dengan Mas Fatih. Sepertinya, ia juga mencintai Hafsya,” ucapnya. Aku tersenyum tipis. “Benar ucapanmu, Dek. Mas Fatih hanya masa laluku. Andai kalian menikah juga tak ada hubungannya denganku. Satu lagi, jangan pernah meminta uang dariku ya,” ucapku yang langsung meninggalkannya. ** Sore ini, tahlil dipipimpin oleh Mas Fatih. Semenjak siang tadi, ia memang tidak pulang. selain alasan ia yang sudah tak memiliki rumah di daerah ini, rencananya sore inipun ia akan mengajari ngaji Danial seperti biasa. Setelah acara tahlilan ini usai. Satu persatu kalimat indah keluar dari bibirnya, membuatku kembali masuk ke dalam imajinasi di masa lalu. Mas Fatih yang merupakan ketua paguyuban, sering sekali mengisi acara-acara seperti ini. Tutur katanya yang selalu sopan dan lembut, dan bacaannya yang begitu indah. Mampu membawa para pendengarnya tersentuh dari setiap kalimat yang belum kumengerti maknanya. “Ma, kamu nangis?” tanya Danial yang kini menarik ujung jilbab pashmina yang kukenakan. Aku bahkan tak menyadari cairan bening itu lolos begitu saja dan membasahi pipiku. “Mama rindu sama Oma ya? kata Ustad, kalau rindu sama yang meninggal itu didoakan,” ucapnya lagi yang mampu membuatku menarik sudut bibirku. Kubelai rambut hitamnya, dan lelaki kecil itu meletakkan kepalanya di pangkuanku. “Laa ilaha illallah ... laa ilaha ilalallah ....” Kalimat itu terus terdengar, menggema ke dalam ruangan tamu milik bapak. Ruangan yang berukuran cukup luas ini, kini dipenuhi oleh para tetangga yang turut mengikuti acara kirim doa. Bapak duduk bersandarkan dinding, dengan Mas Bagas yang berada di sebelahnya. Sedangkan di sisi kiri, ada Hafsya yang duduk dengan jilbab panjang warna putih. Terlihat ia mencuri-curi pandang ke arah Mas Fatih yang memimpin doa. “Mas, sedang hafalin apa sih? Dari tadi bibirnya bergerak mulu,” protesku kepada lelaki yang gemar mengenakan kemeja warna coklat muda. Mas Fatih tersenyum, tak menjawab melainkan berjalan perlahan sambil mengangkat kardus yang berisi pakaian bekas. Barang yang akan dibagikan dalam acara bakti sosial kali ini. “Mas, Ira dicuekin nih?” tanyaku. “Selalu kepo kamu, Ra.” “Kan Ira Cuma pengen tahu, Mas Fatih suka nyanyiin apa?” “Bacaan tahlil, Ra. Bukan sedang nyanyi.” “Yang kayak gimana, Mas. Subhanallah ?” “Itu bacaan tasbih.” “Lalu yang gimana?” “Kamu benaran gak tahu?” Aku menggeleng. “Laa illaha haillallah.” “Kenapa harus bacaan itu. Kenapa gak yang tasbih tadi?” “Dalam sebuah hadis, Rasulullah pernah berkata , siapapun yang menjelang ajalnya mengucapkan kalimat Laa illaha illallah. Ia akan masuk surga.” “Semudah itu, Mas?” selama ini ilmu agamaku memang rendah. Bahkan melaksanakan salat lima waktupun sering kali telat, dan terkadang bolong. Aku dibuat kagum oleh sosok Mas Fatih dari awal bertemu dengannya. Ia yang rajin beribadah, sholat dan mengajinya tak pernah ditinggalkan. “Tak akan mudah, jika tiap harinya tidak menyerukan nama Tuhan kita. Allah.” “Kamu pandai sekali, Mas. Istrimu kelak pasti beruntung mendapatkan suami sepertimu.” “Kalau begitu, mau tidak kamu jadi istriku, Ra?” Aku tergagap. Rasanya tak percaya dengan kalimat yang baru saja kudengar. “Mas ....” “Aku tidak bercanda, Ra. Aku menyimpan rasa untukmu, dan aku berniat untuk melamarmu,” ucapnya yang membuatku mengurai air mata. “Sayang, bantu Hafsya gih! Masa iya, kamu kalah sama dia. Bantu siapin minum buat tamu yang datang,” ucap Mas Bagas yang ternyata sudah berada di sisiku. Menyadarkanku dengan lamunan beberapa tahun silam. Dimana, Mas Fatih mengutarakan perasaannya. Kulihat beberapa tamu yang datang sudah mendapatkan minuman. Beberapa lain, hanya terlihat snack di depannya. Belum ada teh hangat yang memang sudah kusiapkan sebelum acara ini dimulai. “Iya, Mas.” Aku bangkit dari dudukku, melakukan perintah Mas Bagas. ** Acara telah usai. Warga yang tadinya berdatangan pun, kini mulai pulang. Mas Fatih berada di ruang tengah, duduk di karpet mahal warna merah dengan Danial yang berada di depannya. Satu kitab berada di pangkuan anakku, dan terlihat manik mata hitam miliknya memperhatikan tulisan di dalamnya. “Danial rajin sekali ya, Sayang,” puji Mas Bagas yang berdiri di ambang pintu menatap mereka. “Iya, Mas. Seperti ibunya,” candaku. Semenjak menikah dengan Mas Bagas, aku mulai lalai dengan kewajibanku sebagai muslim. Beberapa kali aku meninggalkan rakaatku. Bahkan, al qur'an yang menjadi mahar pernikahan kami pun, kubiarkan berdebu tanpa tersentuh sama sekali. Semua bentuk dari rasa marahku. Marah terhadap bapak dan ibu, marah kepada Tuhan, marah kepada Mas Fatih, dan marah kepada diri sendiri. Entahlah, aku belum bisa berdamai dengan keadaan. Jika dipikir secara logika, aku memang bukan orang yang baik. Aku memiliki lelaki yang kaya dan super perhatian. Mas Bagaspun memiliki penampilan menarik, meskipun jarak umur kami terpaut sepuluh tahun. Parasnya pun juga tak jelek. Tapi entah, yang namanya hati, berbicara lain. Aku belum bisa menyelesaikan cerita dengan lelaki masa lalu. “Aamiin. Semoga istriku bisa menjadi istri soleha.” Aku menoleh ke arah lelaki di sebelahku, dengan membulatkan mata. “Maksudnya, Zura bukan istri yang baik, Mas?” gerutuku. Mas Bagas terkekeh. “Bukan begitu, sayang. Kamu istri terbaik untukku. Ibu yang sempurna untuk Danial. Hanya saja ....” Lelaki dengan tubuh tegak itu menggantungkan kalimatnya “Tuh kan, hanya apa?” “Kalau diajakin salat susah. Selalu saja dapat alasan untuk menghindar.” “Mas ....” Lelaki itu tersenyum. “Sengaja aku mendatangkan guru ngaji Danial, supaya kamu juga tertarik mendalami ilmu agama seperti dulu. Masa iya anaknya pintar ngaji, mamanya enggak. Gak malu?” “Berarti alasannya nyindir Zura, mas?” tanyaku semakin menggerutu. “Bukan begitu, Sayang. Tapi ....” “Ehem ....” Suara deheman membuat kami menoleh ke sumber suara. Disitu, kudapati Mas Fatih yang tengah berada di depan kami, dengan menundukkan pandangannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN