“Mohon maaf mengganggu. Danial minta dibikinin s**u,” ucapnya masih dalam keadaan menunduk. Sama sekali tak berani mendongakkan wajah, menatap lawan bicara pada umumnya.
“s**u?” tanyaku bingung. Keberangkatan kami yang buru-buru, dan tak berpikir untuk menginap disini membuatku melupakan barang-barang penting anakku.
“Gak bawa, Dek?”
“Tidak, Mas,” jawabku dengan menggelengkan kepala.
“Ya sudah biar aku carikan dulu.”
“Tapi, Mas. Desa ini kecil. Mesti keluar desa untuk beli susunya Danial.”
“Gak papa. Kamu temani saja Danial. Beri dia pegertian supaya tidak tantrum.”
“Kalau berkenan, biarkan saya yang membelinya, Pak. Pak Bagas belum paham jalan daerah sini,” ucap Mas Fatih.
“Tidak usah, Pak Ustad. Tolong ajari anak saya saja. Kalau perlu, ajari istri saya juga,” ucap Mas Bagas menggoda, sambil melirik ke arahku. Seutas tersenyum tercipta, yang kubalas dengan membulatkan mata.
Aku duduk di sebelah Danial yang merengek sambil memberikan perhatian kepadanya. Perlahan, ia mulai mengaji kembali sambil menunngu ayahnya tiba.
“Pak Ustad, kan biasanya dikasih cerita nabi? Kok kali ini enggak,” gerutunya.
Mas Fatih terlihat melirik ke arahku. Dan langsung melempar pandangan ke arah Danial, ketika pandangan kami tak sengaja bertemu.
“Baik. Mau kisah nabi siapa, Jagoan?”
“Nabi yang memiliki tongkat sakti itu, Ustad. Yang katanya bisa membelah lautan.”
“Itu bukan katanya, Danial. Tapi itu memang kenyataan. Tertulis dalam Al quran.”
“Mama sotoy deh.”
“Danial ....” ucap Mas Fatih yang membuat anakku meringis. Menampakkan deretan giginya yang rapi dan putih.
“Mama itu gak pernah ngaji, Ustad. Masa iya tahu kisah nabi,” ptotesnya kembali.
Ah, lagi-lagi aku ditelanjangi oleh lelaki kecil yang begitu kumanjakan itu.
“Sudah, jadi menyimak kisah nabi nggak?”
Danial mengangguk. Ia merapikan duduknya, dan mendongakkan wajah menatap paras tampan Mas Fatih. Tangan kanan diangkat, siku ditempelkan ke paha dengan telapak tangan memangku rahangnya.
“Dalam surat As-syuara ayat 63 diceritakan ketika Nabi Musa dikejar oleh Firaun.”
“Firaun itu raja yang kejam bukan, Ustad?” tanya Danial yang memotong cerita guru ngajinya.
“Iya. Danial pandai sekali. Firaun itu raja yang kejam, yang suka membunuh bayi laki-laki dimasa pemerintahannya.”
“Lalu, Ustad?”
“Ketika Nabi Musa dikejar oleh Firaun dan para pengikutnya. Maka nabi musa mengangkat tongkatnya. Laut terbelah atas ijin Allah. Nabi Musa dan rombongan melewati jalan tersebut.”
“Lalu, Ustad? Rombongan firaun juga melewatinya?” tanya Danial yang sepertinya tak sabar menunggu.
“Iya. Rombongan Firaun pun mengikuti.”
Danial terus menatap ustadnya. Tak sabar menunggu alur.
“Setelah rombongan terakhir dari Nabi musa keluar dari laut tersebut. Allah kembali menutup jalan itu. Mengembalikannya menjadi laut. Tenggelam lah Firaun dan para pasukannya.”
“Wah. Seru sekali. Tongkat Nabi Musa bisa dibeli online gak, Ustad?” tanya lelaki kecilku dengan polosnya.
Mas Fatih menoleh ke arahku. Seakan ingin menunjukkan betapa lucunya pertanyaan anakku. Aku pun tersenyum, sambil menunggu jawaban dari nya.
“Tongkat itu keistimewaan yang dimiliki oleh Nabi Musa. Tidak dimiliki oleh orang lain, ataupun nabi-nabi yang lain.”
“Keistimewaan Danial apa ya, pak Ustad?”
“Keistimewaan Danial, memiliki orang tua yang sayang dan baik hati. Doa Danial pun melangit, tanpa penghalang. Asal ... Danial jadi anak yang baik, nurut dan menghormati orang tua. Semakin rajin belajar ngajinya.”
“Benar kata Pak ustad. Danial berdoa minta robot saja, besoknya langsung datang,” ucapnya yang membuatku terkekeh.
**
Malam ini Mas Fatih ikut bermalam disini, karena besok kami akan kembali ke kota bersama. Rencana yang akan menginap di rumah bapak selama seminggu akhirnya urung. Ketika panggilan masuk ke ponsel Mas Bagas. Ya, ada pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan. Sedangkan aku disini sendiria pun rasanya ogah. Aku masih belum mampu berdamai dengan hati atas sikap bapak di masa lalu.
Mas Bagas sudah mendengkur halus dengan Danial yang terlelap di sebelahnya.sedangkan dari tadi, pelupuk mataku enggan menutup. Lebih menikmati langit-langit kamar tempat ini. Lagi-lagi pikiranku terus berkelana tanpa tahu maksud yang ingin kutuju.
Bunga yang dulu dicampakkan dari taman hati, dibiarkan layu, kini kembali tumbuh. Rasa yang seharusnya kubuang jauh itu kembali bersemayam. Bagaimana aku tak lagi jatuh cinta sedangkan paras tampan dan budi baiknya itu terus memikat dan memberikan pesona untukku? Apalagi setelah tahu kalau sampai saat ini ia belum menikah. Lalu, apa alasannya ia tak datang dan menjauh dariku?
Ah, pikiranku terus meracau bagaikan benang kusut tanpa mampu kuurai. Aku bangkit dan keluar dari rumah untuk sekedar menikmati angin malam dan mencari ketenangan.
Aku duduk di teras depan rumah sambil menatap pohon mangga yang sudah menua. Umur tumbuhan tersebut lebih tua dari pada umruku. Sewaktu kecil, aku suka memanjat ke atas ketika bapak marah-marah dan ibu ngomel karena ulahku. Disana lah, aku mengistirahat tubuh dan pikiran.
Sambil sesekali menjulurkan lidah ketika ibu dan bapak di bawahku kebigungan mencariku.
“Kamu anak perempuan, tapi sukanya ngeluyur mulu. Kalau gak gitu, suka bikin rusuh dengan teman yang lain. Sok-sok an berkelahi. Kalau besar nanti mau jadi apa?” hardik bapak dengan tatapan tajamnya. Ia menarik telingaku yang menghadirkan sensasi panas dalam bekas jarinya.
“Tiru itu adikmu, anak rumahan dan suka belajar,” imbuh Ibu.
“Kelak kalau kalian sudah besar. Hidup Hafsya akan lebih beruntung karena manut dengan orang tua. Tidak sepertimu yang susah diatur,” ucap bapak lagi yang menghadirkan lubang luka di hatiku.
Aku naik ke atas pohon setelah dapat omelan panjang dari mereka. Sedangkan kulihat dari atas sana, Hafsya tengah dipangku bapak sambil disuapi makanan oleh mereka. Hal yang tak pernah kurasakan dari aku kecil.
“Kenapa disini? Angin malam tidak baik.” Suara lembut dengan nada khas membuatku tertarik untuk menoleh ke sumber suara. Menyadarkanku dalam lamunan. Benar saja, seorang lelaki masih dengan pakaian yang sama saat sore tadi telah berdiri tak jauh dariku. Pandangannya ke arah pohon besar, tempat dimana aku memusatkan pandangan beberapa menit yang lalu.
“Kamu belum tidur, Mas?”
Lelaki itu tersenyum. “Aku disini, artinya ya belum tidur. Masa iya, tidurnya sambil jalan-jalan.”
Aku tersenyum tipis. “Maksud Zura bukan seperti itu, Mas.”
“Aku sudah tidur tadi. Terbangun ketika mendengar suara pintu yang membuka.”
Mas Fatih memang tidur di kamar tamu. kamar paling depan, dan paling dekat dengan pintu utama rumah ini.
“Maaf, Zura sudah membangunkanmu, Mas.”
“Tidak perlu minta maaf. Hanya perlu menjawab pertanyaanku sebelumnya. Kenapa ada disini?”
Aku tersenyum. “Mas Fatih juga belum jawab pertanyaanku tempo lalu. Kenapa belum menikah sampai saat ini?”