Relisha mencoba bersikap santai. Oke, dia melihat Soraya yang selalu ceria dengan tubuh kurusnya dan softlens bulat besar warna biru tua yang membuat wajah Soraya mirip boneka. Dia melambaikan tangan pada Relisha dan menghampiri Relisha.
“Astaga, apa yang kamu kenakan, Rel?” tanyanya agak terkejut.
“Aku tidak tahu kalau di sini ada pesta.” Bisiknya.
“Kenapa kalian lama sekali?” Nenek dengan wajah yang tetap cantik, santai dan elegan muncul. Dia menatap Relisha dari ujung kaki hingga ujung kepala.
“Relisha, ikut Mamah.” Lalu dia menoleh pada Soraya. “Kamu juga Soraya.”
Relisha menatap Ken seakan meminta jawaban dari permintaan mamah Ken. Ken hanya mengangkat bahu tapi dia tahu apa yang akan dilakukan mamahnya pada Relisha.
Selepas kepergian Relisha dan Soraya ke lantai atas, Poppy mendongak pada ayahnya. “Apa yang akan Nenek lakukan pada Relisha, Dad?”
“Kamu akan tahu nanti.” Ken tersenyum kecil pada putrinya.
“Hai, Ken.” Emma—wanita itu muncul dengan mengenakan dress panjang mahal berwarna putih ketat yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. “Apa kabar?”
Melihat Emma mood Poppy langsung berubah. Dia bahkan mengerucutkan bibirnya kala Emma menyapa ayahnya.
“Baik.” Jawab Ken ala kadarnya tanpa mau bertanya balik.
“Bagaimana kabarmu, Poppy?” Emma bertanya pada Poppy.
“Bagaimana kamu bisa ada di sini?” bukannya menjawab Poppy malah bertanya dengan nada ketus seakan Emma tidak seharusnya berada di rumah Neneknya.
“Tanteku teman Nenekmu.” Emma menjawab santai dengan senyuman khasnya yang menyimpan sejuta rahasia yang menurut pandangan Poppy antara licik dan angkuh.
“Aku dengar wanita yang datang tadi bersamamu adalah istrimu.”
“Ya,” jawab Ken tanpa ragu.
“Kamu menikah dan tidak memberitahu ibumu? Aneh sekali!” Emma berkata dengan cara wanita dewasa berkata untuk menjaga imagenya yang anggun sekaligus angkuh.
“Bukan urusanmu juga kan.” Poppy menimpali kemudian dia memilih pergi entah kemana mungkin menemui saudara-saudara lainnya.
“Dia masih sama seperti dulu. Aku rasa istrimu tidak akan betah kalau putrimu bersikap seperti itu. Lama kelamaan dia akan muak pada Poppy, Ken.” Emma tersenyum samar yakin kalau Relisha akan memiliki nasib seperti dirinya. Berpisah dari Ken karena alasan Poppy.
Seharusnya sih memang begitu. Seharusnya Relisha sudah mengundurkan diri sejak beberapa hari yang lalu kalau sikap Poppy masih keterlaluan seperti ini. Tapi, Nyatanya, Relisha masih bekerja dengannya mengasuh putri kesayangannya. Entah karena mereka satu vibrasi atau karena Relisha mulai menjadi sekutu Poppy makanya anak itu agak lebih melunak pada Relisha. Ya, Ken ingat pembelaan Relisha pada Poppy di depan kepala sekolah tanpa memikirkan sebab-akibatnya. Mungkin karena pembelaan itu Poppy menyukai Relisha. Ken tidak tahu pasti tapi bisa jadi karena gaji yang ditawarkan Ken begitu tinggi hingga Relisha bertahan bekerja dengannya.
“Sayangnya, sikap Poppy pada Relsiha tidak seperti itu.” jawab Ken yang sukses melenyapkan senyuman Emma. “Mereka aku rasa cocok.”
“Itu sebabnya, kamu menikahi wanita itu? Karena Poppy menyetujuinya?”
“Kamu tahu, Emma, kebahagiaanku bergantung pada kebahagiaan Poppy.”
Emma menatap ganjil Ken. Ada kekecewaan yang tergambar di sana. Ada kecurigaan yang ingin dia tanyakan pada Ken tentang Relisha. Wanita yang datang ke pesta dengan pakaian kasual seperti itu. Lalu, tentang bagaimana wanita itu bisa meluluhkan Poppy yang keras kepala.
“Secepat itu kamu melupakanku sedangkan aku masih tetap memikirkanmu, Ken.” Emma memasang ekspresi yang entah berasal dari dalam hatinya atau hanya akting semata.
Ken menatap Emma. Dia tidak pernah berniat menyakiti siapa pun.
Setelah kurang lebih lima belas menit, Soraya bernapas lega. Apa yang dia lakukan pada Relisha dipenuhi drama-drama murahan Relisha kalau dia tidak ingin mengenakan dress terbuka, tidak ingin mengenakan eyeshadows warna gold, tidak ingin mengenakan blush on dan lain-lain yang membuat Soraya ingin mencekiknya.
“Ini gaun milik Tante Fani.” Kata Emma saat memperlihatkan gaun berwarna merah tua dengan bagian d**a terbuka.
“Gaun ibu-ibu?” Relisha melongo bodoh.
“Ini gaun mahal. Tante Fani membelinya di Italy. Jangan meremehkan gaun vintage ini. Ayo, pakai!” Soraya hendak melucuti pakaian Relisha namun Relisha menghempaskan tangan Soraya dengan wajah angker.
“Aku bisa melepaskan pakaianku sendiri!” katanya galak.
Soraya terbahak. “Jangan lama-lama, pakainya dari bawah nanti kena make upnya.”
Relisha menghela napas.
“Done! You look so gorgeous!” kata Soraya ceria.
“Eh, ngomong-ngomong tadi kamu dan Daniel kemana?” bukannya mengucapkan terima kasih karena sudah dimake over Soraya, Relisha malah menanyakan soal Daniel.
“Rahasia.” Kata Soraya dengan senyum menggoda. “Dia sepertinya naksir kamu, Rel.”
Relisha terbahak mendengarnya.
“Dia mau main ke rumah kamu.”
Dan seketika tawa Relisha lenyap.
Main ke rumah? Bagaimana kalau Daniel tahu dia adalah istri Ken?
“Sekarang fokus pada pesta ini saja. Tante Fani ingin memperkenalkanmu pada keluarga besar dan teman-temannya sebagai istri Ken.” Jeda sejenak kemudian Soraya kembali bertanya membahas mengenai Daniel. “Aku bingung saat Daniel terus-terusan menanyakan tentangmu.”
Relisha terdiam.
“Bagaimana bisa sih Ken minta kamu jadi istri pura-puranya? Bilang kalau kalian sudah menikah tanpa pemberitahuan apa-apa. Seluruh keluarga curiga kalau kamu lagi hamil.”
Relisha merasa ada sesuatu menancap di tenggorokannya.
Hamil?
“Ken terlalu tergesa-gesa kalau calonnya tidak diperkenalkan apalagi kepada ibunya. Mereka mengira kamu sudah hamil makanya Ken tidak ambil pusing dan langsung menikahimu tanpa pemberitahuan lagi. Om Rey marah besar ke kamu. Dia merasa tidak dihormati sebagai pamannya Ken.”
Sejujurnya Relisha juga tidak mengerti kenapa Ken melakukan ini padanya.
***
Setelah berjalan ke sana-kemari menuruti keinginan mamah Ken dan dibuntuti Soraya, akhirnya Relisha merasa lelah dan dia mencari Ken. Dia melihat Ken sedang mengobrol dengan seorang wanita cantik dengan tubuh proposioal indah. Entah kenapa Relisha merasa tidak suka dengan pemandangan itu.
“Dia siapa sih?” tanya Relisha pada Soraya.
“Oh itu, mantan kekasihnya Ken.”
“Emma?” terka Relisha yang membuat Soraya terbatuk-batuk saat meminum jus jeruk.
“Uhuk-uhuk...”
“Makanya kalau minum jangan sambil ngobrol.”
Soraya menatap Relisha protes. “Kamu yang mulai, Rel!” Semburnya kesal. Soraya kembali menenggak jus jeruknya.
“Ke sana yuk!” ajak Relisha yang lama-lama malah merasa ada percikan api muncul di dadanya.
Mereka berjalan menghampiri Ken dan Emma. Ken terkesiap melihat perubahan drastis Relisha. Penampilan wanita itu sangat memukau dengan gaun merah terbuka di bagian d**a. Rambutnya yang biasa dicepol asal-asalan atau dikuncir kuda kali ini terlihat lebih rapih dengan hiasan yang mengelilingi bagian belakang rambutnya.
Soraya dapat melihat perubahan ekspresi Ken. Ken terpesona pada Relisha—mata Ken bahkan enggan berkedip. Ini membuat Soraya senyum-senyum sendiri.
Emma dan Relisha saling beristatap sepersekian detik. Emma agak heran karena penampilan Relisha jauh berbeda dari awal kedatangannya. Ini membuktikan kalau Soraya memang punya bakat menjadi make up artist.
“Perkenalkan, ini istriku,” Ken memulai sambil melingkarkan sebelah tangannya pada punggung Relisha. Relisha agak membelalak merasakan gesekan pergelangan tangan Ken melingkari punggungnya. Rasanya terasa hangat dan menyenangkan. Seakan-akan dia adalah benar-benar istri Ken.
“Hai, aku Emma.” Emma memperkenalkan diri dengan santai meskipun hatinya terbakar rasa cemburu sekaligus iri.
“Relisha.” Relisha tersenyum seramah mungkin pada Emma.
Soraya memilih menghilang dan lenyap. Dia ingin makan dan menghabiskan makanannya tanpa gangguan apa pun dan siapa pun. Oke, dia sedang mengkonsumsi suplemen kulit tapi efeknya malah ke perutnya yang selalu lapar.
“Senang bertemu denganmu.” kata Emma melirik Ken sekilas.
“Ya, aku juga.”
“Emma, ma’af tapi kami harus menemui yang lain.” Kata Ken, Relisha menoleh pada Ken. Menemui siapa lagi?
“Oke, selamat bersenang-senang.” Emma tersenyum ramah namun saat dia bersitatap dengan Relisha, Emma tersenyum sinis padanya.
Relisha tidak ambil pusing soal senyuman sinis Emma yang juga dilihat Ken dengan jelas. Dia lebih pusing kalau harus menemui orang-orang lagi. Dia muak harus beramah tamah dan menjawab pertanyaan-pertanyaan orang-orang yang penasaran dengannya karena sudah menjadi istri Ken.
Mereka berjalan menuju lantai dua seakan Ken ingin menyembunyikan Relisha dari tatapan orang-orang yang melihatnya. “Soraya pasti yang membuatmu seperti ini.”
“Ibumu yang menyuruhnya. Tapi aku merasa sangat cantik malam ini.”
Ken melirik Relisha dan dia tidak bisa memungkiri apa yang dikatakan Relish memang benar. Relisha sangat cantik melebihi yang Ken sadari.
“Berhenti memuji dirimu seperti itu. Menurutku kamu biasa saja.” kata Ken dengan ekspresi dingin.
“Kamu pernah bilang aku cantik.” Relisha masih dengan jelas mengingat pujian Ken saat Olivia merendahkannya.
“Hanya untuk membuatmu lebih baik.”
“Hah?!”
Sebelum sampai ke tangga, seorag pria berusia 38 tahun muncul di hadapan mereka. Mencegah langkah Ken dan Relisha. Dia memiliki wajah yang agak mirip dengan Ibu Ken. Meskipun sudah berusia di atas 35 tahun namun Om Rey masih terlihat tampak seperti usia 25 tahun. Ya, dia memang terobsesi pada ketampanan wajahnya dan kesehatan. Dia tidak akan menyia-nyiakan waktu luangnya dihabiskan di tempat gym hingga berjam-jam lamanya.
Ken tak pernah menyukai Om Rey. Di keluarganya hanya Rey yang tak pernah Ken sukai. Bahkan Ken pernah berucap kalau Rey tidak cocok ada dalam daftar anggota keluarganya.
“Rey,” Ken agak terkejut melihat Omnya yang keras kepala dan punya ambisi untuk menguasai kekayaan ibunya.
Om Rey menyeringai, memperlihatkan giginya yang putih. “Jadi, ini istrimu, Ken?”
“Oh ya, perkenalkan, Relisha ini Rey adik mamah.”
“Halo, Om.” Relisha mengulurkan tangan yang disambut oleh Rey. Dia menggenggam tangan Relisha erat hingga Relisha merasa tidak nyaman.
Relisha mencoba melepaskan jabatan tangannya dari Om Rey tapi pria itu masih enggan melepaskan tangan Relisha hingga Relisha menatap khawatir pada Ken.
Ken akhirnya melepaskan tangan Relisha dari Rey dengan menarik pergelangan tangannya. Rey pasrah.
“Jangan kurang ajar pada istriku, Rey.” Kata Ken dengan nada penuh ancaman.
“Sudah berapa bulan dia mengandung anakmu? Dimana kamu menemukan wanita ini di klub malam atau di tempat p—“
Seketika Ken memukul Rey hingga tersungkur jatuh dan menarik semua pasang mata yang ada di sana.
***