Selama menunggu Poppy, Relisha menghabiskan waktu dengan stalking mantan-mantannya yang terdahulu. Saat dia masih remaja karena dulu Relisha termasuk siswi populer dan primadona di sekolahnya. Haha! Itu dulu saat negara api belum menyerang. Ya, Relisha sempat mengalami kenaikan berat badan yang luar biasa drastis hingga para pengaggumnya menghilang sedikit-demi sedikit. Lalu setelah masuk ke perguruan tinggi tubuh Relisha mengecil dengan sendirinya. Dan ya, dia mulai stres saat awal-awal semester kuliah dan tidak punya selera makan. Makan hanya sesekali agar dia tetap hidup dan berenergi dalam menjalani aktivitas kuliahnya.
Relisha terbahak saat salah satu mantan kekasihnya membuat status-status yang menceritakan kondisi dirinya saat ini; kesepian. Relisha menertawakan mantan kekasihnya namun dia tak sadar kalau dia pun merasakan hal demikian. Berapa lama dia sendiri dan kesepian tanpa adanya seseorang yang memberikannya cinta kasih. Yang mengucapkan selamat malam dan mimpi indah setiap kali Relisha mau tidur. Yang mengingatkannya untuk tidak bar-bar saat bertindak. Yang bisa diajak berbagi cerita bahkan cerita-cerita yang seharusnya tidak dia ceritakan termasuk kepada sahabat dan keluarganya. Yang bisa menemani hari-hari Relisha. Yang memberikan kecupan singkat pada Relisha. Yang...
Relisha terdiam sesaat mengingat betapa dia dan mantannya sama saja. Sama-sama sendirian dalam menjalani kehidupan tanpa tahu apakah ke depan dia akan menemukan seseorang yang akan mengisi hari-harinya lagi? Tiba-tiba dia ingat Ken dan Daniel. Mungkinkah dia dan Ken bisa saling mengisi? Ken—pria dengan satu orang anak yang diasuhnya sedangkan Daniel—pria muda yang usianya di bawah Relisha. Dia dan Soraya saja berbeda tiga tahun.
Poppy muncul dengan tas ranselnya yang terlihat berat. Entah apa isinya. Mungkin bom molotov kalau-kalau dia merasa jenuh di dalam sekolah tinggal melempar bom molotov dan akhirnya sekolah usai. Relisha menggeleng. terkadang pikirannya lebih tidak stabil di saat dia mengeluhkan kehidupan asmaranya.
“Sudah pulang ya?” tanya Relisha.
Beberapa anak yang keluar dari kelas memperhatikan Relisha dan Poppy dengan tatapan yang menerka kalau Poppy adalah anak manja karena dia ditunggu oleh mamahnya sampai anak itu pulang sekolah.
“Jam istirahat tadi aku sudah menyuruh pulang kan?” tanya Poppy dengan ekspresi yang tidak menyenangkan.
“Iya, tapi aku tidak ingin pulang. Aku betah di sini.” Dusta Relisha. Padahal dia sebenarnya mau saja pergi dari sekolah untuk sementara karena ingin bertemu Soraya dan juga pria muda berwajah unik nan tampan itu. Tapi, Ken memperintahkannya agar tetap di sini.
Mereka berjalan keluar dari gerbang sekolah.
“Kita pulang naik taksi?” tanya Poppy seraya menoleh pada Relisha.
Relisha mengangguk.
“Kenapa Dad tidak memberikanmu mobil?”
“Mobil?” Relisha merasa aneh dengan pertanyaan Poppy.
Poppy mengangguk. “Ya, Dad pernah membelikan kekasihnya mobil. Namanya, Emma.” Jelas Poppy yang sukses membuat Relisha ternganga.
Tapi, wajar saja sih. Ken kan memang kaya lagian toh dia membelikan kekasihnya mobil itu hal disukai setiap wanita kan.
“Bukankah kamu calon istrinya dan Nenek bilang kalau sebenarnya Dad dan kamu sudah menikah. Nenek bahkan memintaku untuk memanggilmu Mom.” Poppy bercerita dengan kepolosan khas anak-anak. Relisha tidak mempermasalahkan kalau Poppy memanggilnya hanya dengan panggilan ‘kamu’. Tidak sopan memang tapi toh Relisha tidak ambil pusing soal itu.
“Berarti Ken punya kekasih?” tanya Relisha penasaran. Kalau Ken punya kekasih kenapa dia harus mengakui Relisha sebagai calon istri, istri atau apalah itu namanya.
“Sudah putus.”
“Putus?”
Poppy mengangguk tanpa mau menjelaskan detail alasan putus ayahnya dengan kekasihnya.
“Aku pikir ayahmu belum move on dari Olivia.” Gumam Relisha lebih kepada dirinya sendiri yang tanpa disadarinya terdengar oleh Poppy.
“Apa?”
“Eh, tidak apa.” jawab Relisha menggandeng lengan Poppy mendekati taksi yang baru datang.
“Padahal kalau punya mobil kita tidak perlu menggunakan taksi.” Gerutu Poppy.
Relihsa bingung bagaimana caranya menjelaskan keadaaan sebenarnya kalau dia dan Ken itu tidak memiliki hubungan apa-apa. Dan dia adalah pengasuh Poppy bukan ibu sambungnya.
Masa aku harus minta mobil sama Ken. Dikasih gaji dua puluh lima juta saja aku sudah kegirangan.
“Mmm—“ Relisha mencoba mencari topik yang menarik. “Bagaimana kalau hari ini kita main ke mall?”
Poppy menoleh pada Relisha. “Emma juga bekerja di mall. Apa kita perlu bertemu dengan Emma mengambil mobil Dad?”
“Eh?” Relisha terkejut sendiri dengan perkataan Poppy.
Mengambil mobil Dad? Astaga!
“Kita tidak perlu ke mall. Pulang ke rumah saja ya.” Relisha menyesali ajakannya kepada Poppy.
“Tidak. Kita harus bertemu Emma dan mengambil mobil Dad. Itu mobil Dad yang mahal. Aku punya hak karena aku adalah putri Dad. Selama Dad belum memiliki anak lain aku adalah pewaris tunggal kekayaan Dad.” Kata Poppy dengan tegas hingga sopir taksi memperhatikan dari kaca spion.
“Tapi ayahmu sudah memberikannya pada Emma. Apa yang sudah diberi tidak boleh diambil lagi, Poppy.” Relisha masih tampak sabar pada Poppy. Dia bisa mengendalikan emosinya.
“Kalau kita tidak ikhlas memberikannya kita masih bisa mengambilnya.”
Astaga...
Masalahnya, itu hanya akan mempermalukan dirinya saja. Emma akan menganggap kalau Poppy diracuni oleh Relisha. Dan bisa saja nanti Ken percaya pada Emma. Dan lagi, Kenlah yang memberikan mobil pada Emma bukan Poppy.
Relisha ingin menghilang sekarang juga.
***
Relisha menelpon Ken dan menceritakan apa yang mau Poppy lakukan. Ken mencegahnya dan menyuruh Relisha tetap membawa Poppy pulang. Poppy setuju karena Ken akan membelikan Relisha mobil yang lebih bagus dan lebih mahal dari mobil yang diberikannya pada Emma untuk mengantar-jemput Poppy.
“Tapi, aku tidak bisa mengendarai mobil.” Kata Relisha
“Nanti aku ajarin.” Kata Ken kemudian telepon mati.
Wajah Poppy bersemu merah meskipun anak itu berusaha membuang wajahnya dari tatapan Relisha. Dia agak heran apakah Poppy sengaja melakukan ini padanya agar dia mendapatkan mobil seperti Emma? Relisha tidak tahu. Tapi, ya, tetap saja mobil itu milik Ken dia kan bukan kekasih Ken apalagi istri sungguhan Ken.
***
Malam ini Nenek meminta Ken, Relisha dan Poppy makan malam bersama di rumah Nenek. Poppy mengenakan dress yang dibeli Nenek dari Belanda. Dress itu seperti dress anak-anak buatan 90-an dengan motif polkadot. Relisha menguncir tinggi rambut Poppy hingga Ken terbelalak melihat rambut ala kuncir kuda Poppy yang begitu tinggi.
“Kenapa kuncirnya terlalu tinggi?” tanya Ken menatap Relisha.
“Poppy yang minta.” Sahut Relisha.
“Memangnya kenapa Dad dengan kuncir rambutnya?”
“Terlalu tinggi, Sayang.”
“Poppy suka.” Ujar Poppy tersenyum sedikit.
Lalu, Ken mengarahkan tatapannya pada Relisha. Relisha mengenakan kemeja biru tua dengan celana jeans biasa. “Apa?” tanya Relisha mengangkat sedikit wajahnya.
Ken memilih pasrah. Toh, ini Cuma makan malam biasa kan. Tidak ada yang spesial.
Lima belas menit berlalu dan mereka sampai di rumah Nenek. Ken terkejut melihat parkiran yang dipenuhi mobil dan orang yang berlalu-lalang.
“Rumah Nenek kok ramai sih?” ujar Poppy memandangi sekelilingnya lewat kaca jendela mobil yang terbuka.
“Astaga!” Ken melesatkan tubuhnya ke jok mobil.
“Kenapa Ken?” tanya Relisha khawatir. “Kamu sakit?”
Ken menatap Relisha dan menggeleng. “Kenapa Mamah tidak bilang ada pesta sialan sih!” gerutu Ken.
“Mungkin maksud Nenek mau memperkenalkan istri Dad pada keluarga besar kita.”
Relisha menunduk memperhatikan kemeja biru tua yang dibelinya dengan harga kurang dari dua ratus ribu rupiah. Bagaimana ini?
“Nenekmu tidak bilang ada pesta, Sayang. Kita tidak siap berpesta dengan pakaian seperti ini. Tapi, lebih baik kita turun dan menemui Nenek. barangkali ini pesta Nenek dan teman-temannya saja.” Ken keluar lebih dulu disusul Poppy dan Relisha.
Melihat rumah Ibu Ken membuat Relisha menciut, kecil dan tak berarti apa-apa. parkirannya hampir seluas sekolah SMP Relisha dulu. Dan rumahnya berdiri tegap, megah dan seakan memamerkan keangkuhannya saat Relisha menatap rumah dengan warna cream.
Relisha mencoba mengatur napasnya. Mencoba menenangkan diri karena dia mungkin akan bertemu dengan para Om dan Tante Ken. Dia tidak pernah merasa seinsecure saat ini.
Diam-diam Poppy memperhatikan Relisha yang tampak seperti akan memasuki kandang macan. “Selama kamu bersama Nenek, kamu akan aman.” Ujar Poppy mencoba menenangkan Ibu sambung palsunya.
Relisha menolah tapi dia tidak berkata apa pun.
Ken yang mendengar perkataan Poppy memperhatikan Relisha. Dia ingin membawa Relisha kembali ke dalam mobil dan pulang. Atau pergi ke mana saja selama tidak ke rumah ibunya.
“Apa lebih baik kita pulang?” tanyanya pada Relisha.
“Kenapa harus pulang? Ayo kita masuk.” Kemudian Relisha mengalihkan tatapan matanya pada Poppy. “Nenek pasti sudah menunggumu, ayo!” ajaknya dengan senyum merekah. Dia menggandeng sebelah tangan Poppy dan Ken menggandeng tangan sebelahnya.
Mereka tampak seperti keluarga yang nyata di hadapan pasang mata yang menatapnya tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Ken dan Relisha.
Relisha mengutuk dirinya sendiri yang menerima drama buatan Ken.
***