Relisha merasa bersalah karena bertanya urusan pribadi pada Ken yang hanya terdiam menatapnya tanpa mau menjawab pertanyaan Relish. Apakah Ken belum bisa move on dari Olivia? Akhirnya, Relisha memilih minta ma’af dan melesat pergi ke dapur untuk membuat makanan.
Sialan!
Bukannya kembali ke kantor Ken malah menyusul Relish di dapur. “Kamu mau masak apa?”
“Mungkin mie instan.” Jawab Relisha.
“Mau makan di luar?” tanya Ken yang akhirnya membuat Relisha tersentuh.
Beberapa saat kemudian mereka duduk di sebuah restoran yang menurut Relisha termasuk kategori mewah dan mahal melihat harga menu makanannya. Apa Ken tidak berlebihan mengajak pengasuh putrinya makan di tempat mahal seperti ini?
“Aku minta ma’af sebelumnya.” Kata Ken memulai.
“Sudah aku maafkan,” Relisha melahap nasi dan supnya dengan lahapan seorang wanita muda yang kelaparan dan tidak peduli dengan sekitarnya. Ngomong-ngomong, Relisha memang seperti itu kalau lagi lapar. Tidak terkendali dan tidak peduli dengan sekitarnya.
Ken hanya memperhatikan Relisha sampai wanita itu selesai memakan sup dan nasi.
Ya ampun, pantas saja nih makanan mahal enak banget!
Mata Relisha bersitemu dengan Ken yang tanpa Relisha sadari sedang menatapnya dari tadi. “Kamu tidak makan?” tanya Relisha menatap sup dan nasih yang masih utuh.
“Aku masih kenyang.” Jawab Ken kemudian Ken mengangkat tangannya ke arah Relisha hingga Relisha terkejut saat jari Ken menyentuh sudut bibirnya.
“Ada nasi. Kamu makan berantakan seperti Poppy.” Kata Ken sembari membuang nasi yang menempel di sudut bibir Relisha.
Antara malu dan terkejut juga tidak bisa menutupi apa yang dilakukan Ken telah menghangatkan hatinya yang sudah lama beku. Relisha tidak ingat bagaimana rasanya mencintai seseorang dan dicintai setelah sekian lama dia sendiri. Dia hanya merasa nyaman setelah pernah merasakan hal yang tak seharusnya terjadi dalam hidupnya. Tidak. Itu sudah lama dan Relisha tidak ingin lagi mengingatnya.
“Aku ingin kamu menyetujui dan menuruti keinginanku.”
“Eh?” Relisha mendelik pada Ken.
“Aku akan memberimu gaji dua kali lipat dari ini kalau kamu bersikap layaknya istriku.”
Kedua daun bibir Relisha terbuka tapi tidak ada satu kata pun yang mau keluar dari bibirnya.
Apa Ken mengajaknya makan di restoran mahal ini termasuk sogokan?
***
Nenek mengabari Ken kalau Poppy malam ini menginap di rumah neneknya. Sambil cekikikan Nenek bilang kalau ini adalah saat terbaik untuk memberikan adik pada Poppy. Tepat saat itu, Ken menatap Relisha yang sedang mencari referensi untuk sekolah Poppy melalui ponselnya.
Ken ingin menanggapi ocehan mamahnya tapi dia tidak ingin menyakiti mamahnya. Andai saja kalau Relisha itu istrinya, dia tentu dengan senang hati melakukannya dengan Relisha untuk memberikan seorang adik pada Poppy. Mungkin dengan kehadiran seorang adik, Poppy akan berubah melunak sedikit demi sedikit.
Rasanya Ken sudah lama tidak menjalin hubungan dengan siapa pun selain Olivia dan mantan kekasih terakhirnya bernama Emma. Dia dan Emma hanya menjalin hubungan sekitar dua bulan sebelum memutuskan untuk berpisah karena Poppy tidak menyukai Emma. Anak itu memang suka melarang Ken menjalin hubungan. Poppy tidak pernah mengatakannya secara langsung tapi dia bersikap seakan-akan membenci Emma. Ken memilih memutuskan Emma dibandingkan tiap hari dia harus adu argumen dengan Poppy.
Ken sebenarnya hanya iseng mengatakan kalau Relisha adalah calon istrinya. Sikap Poppy memang selalu begitu. Dingin dan menyebalkan tapi kenapa dengan Relisha anak itu tidak menunjukkan sikap seperti kepada Emma? Ken masih ingat saat Emma berkunjung ke rumah tatapan mata Poppy begitu terlihat marah dan dia membanting vas bunga ke lantai.
Apa karena Relisha mendukung sikap arogan Poppy sehingga anak itu tidak bersikap seperti sikapnya pada Emma?
“Aku mencari sekolah yang pas untuk Poppy, Ken. Ada referensi sekolah yang bagus?” tanya Relisha mendongak menatap Ken yang berdiri menghampirinya.
“Sekolah yang dulu itu termasuk sekolah yang bagus.” Kata Ken agak kesal kalau ingat akan video yang menampilkan kemarahan Relisha yang dikirim kepala sekolah.
“Jangan bahas sekolah yang lama. Kepala sekolahnya memuakkan!”
Ken tertawa kecil melihat ekspresi wajah Relisha. Betapa wanita itu membenci seorang kepala sekolah yang berseteru dengan putrinya.
“Kenapa tertawa?” tanya Relisha dengan dahi mengernyit.
Ken mengangkat bahu. “Seharusnya kamu yang jadi kepala sekolah di sana biar tahu kelakuan Poppy.” Saran Ken dengan nada bercanda.
“Ken, Poppy itu tidak salah. Anak laki-laki itu yang memulai kok.” Sahut Relish kesal. Dia memilih meninggalkan Ken yang malah berpihak pada kepala sekolah yang tidak adil itu.
Ken hanya menatap punggung Relisha sampai punggung wanita itu lenyap dari pandangannya. Dan dia membayangkan bagaimana nanti kalau Relisha menjadi ibu sambung Poppy. Tentunya mereka akan bersekutu untuk membuat tensi Ken naik.
Sebuah pesan masuk.
Ken.
Dari seorang wanita yang pernah diinginkan Ken untuk menjadi ibu sambung Poppy.
Emma.
***
Seminnggu kemudian akhirnya Poppy mendapatkan sekolah yang dirasa cocok oleh Relisha. Sekolah itu dipilih oleh Nenek dan Ken. Poppy sebenarnya merasa keberatan tapi akhirnya dia mengiyakan setelah Nenek merayunya akan menghadiahi Poppy dengan ponsel keluaran terbaru.
Hari pertama Poppy sekolah diantar Relisha dan Ken. Relisha tampak seperti ibu kandung Poppy bahkan kepala sekolah menganggap Relisha Ibu kandung Poppy meskipun Poppy tak pernah memanggil Relisha dengan panggilan ‘mama’ saat mereka menghadap ke kepala sekolah.
“Nah, Poppy ini kelas kamu ya. Silakan duduk di bangku kosong di sana.”
Relisha mengintip Poppy dari balik jendela sedangkan Ken malah memperhatikan aksi Relisha yang menurutnya berlebihan.
Memangnya Poppy ini masih PAUD sampai harus diawasi seperti itu?
Ken menggeleng-geleng melihat Relisha yang bahkan tidak mengajaknya bicara sejak Poppy diantar wali kelasnya ke kelas.
“Ayo, pulang!” ajak Ken.
“Tidak. Aku di sini saja.” kata Relisha tanpa melihat Ken.
“Kamu tidak perlu berlebihan begitu. Kamu bisa ke sini lagi saat jam pulang Poppy nanti.”
Relisha menoleh pada Ken. “Poppy butuh teman.”
“Poppy akan beradaptasi dengan sendirinya. Dia perlu berteman dengan anak-anak bukan dengan orang dewasa.” Ken masih tampak mengendalikan diri. Sikap putrinya sudah sangat menyebalkan ditambah pengasuh keras kepala seperti Relisha.
Ponsel Relisha berdering. Tertera nama di layar, Soraya.
Relisha malah menyerahkan ponselnya pada Ken.
“Apa ini?” tanya Ken dengan dahi mengernyit.
“Angkat dan bilang kalau aku sedang bekerja. Soraya pasti memintaku menemaninya belanja bulanan.” Gerutu Relisha.
Anehnya, Ken menurut saja.
“Halo, Soraya, ini aku, Ken. Relisha sedang bekerja mengawasi Poppy di sekolah. Apa? Bertemu Daniel?”
Relisha langsung merebut ponselnya dari Ken saat nama Daniel disebutkan Ken. Ken tampak tersinggung dengan sikap Relisha. Ada ya pengasuh kurang ajar seperti wanita ini. Benar-benar sinting!
“Halo, kenapa?” tanya Relisha mendesak.
“Rel, aku lagi sama Daniel nih. Katanya bakalan seru kalau ada kamu di sini. Ke sini dong!” rengek Soraya. “Poppy tinggal dulu aja.”
Relisha menatap wajah dingin Ken yang masih kesal atas sikapnya.
“Bentar ya,” kata Relisha.
Tadi kan Ken mengajaknya pulang. Berarti Ken tentu akan mengizinkannya pergi kan, dia bisa ke sekolah Poppy saat nanti jam Poppy pulang.
“Ken, ayo kita pulang. Aku ada keperluan. Aku akan ke sini lagi saat jam pulang sekolah.” Relisha melemparkan senyum lembut pada Ken, berharap Ken akan mengizinkannya.
Sial!
Harusnya tadi dia saja yang mengangkat telepon dari Soraya. Entah kenapa Relisha masih ingin mengenal lebih lagi sosok Daniel yang memiliki perpaduan wajah unik nan tampan itu.
Ken melipat kedua tangan di atas perut sembari menatap penuh selidik pada Relisha. Dia mendekati Relisha. “Kamu tetap di sekolah Poppy sampai Poppy pulang. Aku tidak mengizinkanmu bertemu Soraya atau pergi kemana pun dengan Soraya dan siapa itu tadi yang Soraya sebut. Kalau kamu melanggar gaji kamu akan aku potong setengahnya. Mengerti?”
Relisha ternganga.
“Ngomong-ngomong, karena banyak yang tahu kalau kamu adalah istriku termasuk kepala sekolah, jadi, jangan macam-macam dengan mencoba untuk dekat dengan pria manapun.” Lanjutnya dengan tatapan mata penuh ancaman.
Ken meninggalkan Relisha yang masih ternganga.
***