Pembalasan

1038 Kata
Pedro merasakan Nara sangat lama berada di dalam ruangan Doktor Jason. Pedro membuat keputusan untuk melihat keadaan Nara di sana. Perasaannya seperti ada yang tidak beres. Ketika Pedro ingin memasuki ruangan Doktor Jason, Mikael memanggil Pedro untuk menolongnya menguruskan tagihan rumah sakit kerna ayahnya ingin pulang ke rumah. " Pedro... boleh kau menolongku..? Ayahku ingin keluar dari rumah sakit hari ini juga. Dia tidak ingin lama-lama di sini. Tolong aku untuk melunaskan tagihan rumah sakitnya." Mikael memberi kartu kreditnya kepada Pedro untuk melunaskan tagihan Rumah sakit. Pedro yang teragak-agak terpaksa menyambutnya. Niatnya untuk melihat keadaan Nara terpaksa di hentikan. "Baiklah tuan muda.." Selepas Pedro melunaskan tagihan Rumah sakit, dia segera masuk ke kamar yang di tempatkan Marfin. tetapi ruangan itu telah kosong. Tanpa Pedro sedari seseorang telah memukul di belakang kepala pedro dengan kuat sehingga pengsan tidak sedarkan diri. Akan tetapi Pedro sempat melihat siapa yang telah memukulnya. Malangnya orang yang memukul Pedro memakai topeng untuk menutup mukanya dan Pedro tidak mengenalinya. .. pakkkkk.... " Ergggh.... Kamuu siapa?....." " Hahahhaha..... Kamu benar- benar sudah melampau kali ini Pedro.." Pria yang yang memukul Pedro itu tertawa apabila melihat Pedro telah pengsan tidak sadarkan diri. " Angkat dan ikat b******n ini" Kata Pria itu kepada pengikut-pengikutnya. ********** Nara telah di pindahkan ke rumah sakit yang lain nya. Dia sangat takut untuk menutup matanya kerna tidak mahu kejadian yang menimpa dirinya barusan berulang lagi. Nara meminta Maria untuk menjaganya di rumah sakit ini. Dia tidak mempercayai perawat atau doktor yang ingin menjaganya. Selama beberap hari berada di rumah sakit yang baru tempatinya ini. Nara berasa aneh apabila Luka yang ada di tangan nya tidak beransur baik. Malah luka itu semakin teruk sehingga menginfeksi bagian lain. Di tubuh Nara juga kini muncul k***s dan nanah yang berair. Doktor memberitahu Nara bahawa dia menghidapi diabetes di tahap tinggi sehingga lukanya tidak akan sembuh, dan alergik yang tidak di ketahui apa puncanya. "Dok.. saya ingin keluar dari rumah sakit ini.. " "Buat masa sekarang saya tidak membenarkan ibu untuk keluar dari rumah sakit ini kerna kondisi ibu sekarang tidak mengizinkan.. " " Tapi dok.. Mustahil saya ada penyakit diabetes atau alergik.. Saya sangat menjaga pemakanan saya dok.." " Mungkin kerna faktor usia juga ibu.. Maafkan saya ibu.. Saya meminta izin kerna perlu merawat pesakit lain. Nara seperti tidak mempercayainya. Selama ini Nara sangat menjaga pemakanan dan minuman yang di minumnya. Sangat mustahil jika dia menghidap diabetes di tahap tinggi dan alergik. Nara seperti merasa ada yang tidak beres di rumah sakit ini juga dan Nara ingin meminta bantuan Pedro mengeluarkan nya dari sini. Mikael juga sering memberi alasan sibuk menguruskan pekerjaannya beberapa hari ini. " Maria.. Di mana pedro..? Kenapa telefonnya tidak dapat di hubungi?" " Saya juga ngak tau bu.. Sejak tuan pulang ke rumah juga , saya juga tidak pernah melihat Pedro." " Apa dia telah mengambil cuti?? Tidak mungkin Pedro mengambil cuti tanpa memberitahu ku". Nara mula bermonolog sendiri. Nara seperti tidak peduli kepada suami nya yang sudah pulang ke rumah. Sejak Nara berada di rumah sakit. Nara seperti lupa akan kewujudan suaminya sehingga tidak pernah bertanya tentang keadaan suaminya. Marfin juga tidak pernah lagi melawat Nara sejak Nara di masukkan ke rumah sakit. " Mikael juga ngak pernah lagi melawat ku.. Bila di telfon sibuk kerja mulu.. Mungkin dia juga malu kerna penyakit alergik ku ini ya Maria.." " Tuan mikael ngak mungkin begitu bu.. Puan Muda kan sangat bangat sama ibu.. ngak mungkin dia mengabaikan ibu. Mungkin aja dia benar- benar sibuk... Lagi pula perusahaan Romano masih belum stabil." "iya Maria.. mungkin benar juga.." *************** Di sisi lain Marfin sedang menonton cctv yang di pasang di kamar istrinya Nara. Dia juga boleh mendengar setiap perbualan Nara dengan sesiapa pun. " Aku akan membuat mu menyesal wahai istriku.. Selama ini aku sangat percaya padamu.. Kau akan mendapat pembalasan dari ku sedikit demi sedikit." Mikael yang baru sahaja datang di ruangan ayahnya tersenyum menonton ibunya di kaca cctv yang di pasang di kamar rumah sakit ibunya. " Aku juga akan menyiksa b******n itu pa... Aku akan membalas dendam kerna berani-berani nya dia mengkhianati kita. Aku tidak dapat menerima kerna dia berani menyentuh mama.. Mama juga patut menerima pembalasan itu. Rendah sekali calon pilihan mama... menjadikan orang bawahan sebagai pemuas nafsunya.." Mikael seperti terlupa dengan siapa dia berbicara.. Tetapi ayahnya Marfin tidak menganggapinya. Bagi nya walaupun dia dan Mikael sering bergaduh sehingga hampir berbunuhan. Tetapi jika mereka bekerjasama menghapuskan seseorang. Mereka tidak akan pernah mengkhianati antara satu sama lain. Sangat aneh kedua beranak ini berfikir . Tetapi begitu lah yang sebenarnya terjadi kepada mereka. " Urm... apa kamu lupa dengan siapa kamu berbicara anak ku.. Kamu lakukan saja anakku.... Kita akan membunuh mereka perlahan demi perlahan." " Hahahha... aku hanya bercanda pa... jangan di masukkan ke hati.. Nanti kamu dalam diam membunuh ku..." Marfin hanya menggelengkan kepala.. Marfin kembali melihat cctv istrinya dan dia tersenyum puas melihat kondisi istrinya yang semakin memburuk. Kejadian yang menimpa Nara semuanya adalah ulah Suaminya sendiri dan anaknya Mikael. " Mika... apa kamu sudah mencari pembantu lain untuk mainan mu??? Kamu sudah berjanji dengan papa bukan untuk tidak mengganggu Rafael lagi.." " Ermmm.. Pa.. sepertinya ada kenaikan pada pasaran saham kita.." " Jangan menukar jalan ceritamu anak ku.. Papa tahu kamu tidak akan melepaskannya begitu sahaja.. Tapi tunggu la sehingga bisnis kita berkembang dan lebih berpengaruh dari bisnis keluarga Remon.. Buat masa sekarang papa ngak mahu kamu berbuat apa- apa masalah. " " Baiklah pa.. aku juga ingin menyelidik dahulu apakah benar Maya bersama Rafael.." "Begitu la anak papa.. Kamu sudah semakin matang sekarang.. Jangan membuat keputusan terburu- buru. Nanti kamu akan menyesal." " Pa.. nomor telfon yang di gunakan untuk menghantar foto curang mama ke papa itu cuma nomor pakai buang pa.. Tidak dapat di ketahui." " Ngak apa- apa Mika... Papa sepatutnya mengucapkan terima kasih kepada pengirimnya." " Mungkin saja dari kalangan pembantu pa yang mengirimnya. Foto itu kan di ambil di dalam rumah kita." "Mungkin juga.. tapi mungkin juga w***********g itu yang sendiri memfotonya untuk kenangan mereka berdua". Marfin menggenggam kuat telapak tangannya . Terasa sakit hatinya apa bila teringat akan foto selingkuhan istrinya yang telah di kirimkan kepadanya. Mikael hanya mendiamkan dirinya. Dia tidak mahu menjadi api yang terus membakar kemarahan ayahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN