Intan langsung menoleh ke arah Zein. 'Eh iya, aku sampe lupa hal sepenting itu. Terus kenapa gak langsung dikasihin sekarang, sih?' batin Intan. "Apa tidak bisa sekarang saja, Prof?" tanya Intan. Zein menggelengkan kepalanya. "Saya konsulennya, jadi kamu tidak usah mengatur saya!" skak Zein. "Baik, Prof. Kalau begitu saya permisi dulu," sahut Intan. Lalu ia meninggalkan ruangan Zein. "Hiihhh! Kok ada sih manusia kayak dia? Ini kalau gak inget lagi sakit, rasanya aku pingin nendang dinding lagi," gumam Intan, geram. "Kenapa sih, Dok?" ledek salah seorang perawat yang melihat tingkah Intan. "Eh, gak apa-apa, Sus. Hehehe," sahut Intan. Hari ini ia hendak berpamitan pada semuanya. Namun karena Zein mengajaknya pulang bersama, Intan pun memutuskan datang ke rumah sakit besok sekadar untu

