bc

Tasbih Cinta Eleanora

book_age16+
2.1K
IKUTI
13.6K
BACA
revenge
contract marriage
family
love after marriage
goodgirl
drama
sweet
city
friendship
wife
like
intro-logo
Uraian

Eleanora harus memupus impiannya dikala sebuah perjanjian mengikis harapan yang sudah di depan mata. Perjanjian utang piutang sang ayah dengan seorang pengusaha mengharuskan dia menerima pernikahan yang tak pernah diinginkannya. Perjuangan yang tak mudah saat harus memilih antara suami atau lelaki yang menawarkan masa depan indah untuknya. Semua yang dia rangkai untuk medapatkan kebahagiaan, kembali kandas saat lelaki yang dia pilih malah mencampakkannya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Perisai Kasih yang Terkoyak
Jalan hijrah seperti apa yang kutempuh, kala takdir menghempas pada jurang nestapa? Haruskah impian yang sudah dirangkai sedemikian indah, hancur oleh sebuah pernikahan yang tak pernah diinginkan? Kemana mencari jejak yang diharapkan akan memberikan secercah cahaya bagi kehidupan yang mulai gersang? Aku rapuh, jatuh, dan terluka _Elea *** Eleanora Larissa. Perempuan dengan jilbab motif garis-garis gradasi warna karamel itu, berlari-lari kecil saat rinai mulai membasahi sebagian pakaiannya. Langit senja sudah berganti kelam, kala sepasang kakinya menjejak di pelataran rumah sederhana yang dihiasi rerumputan hijau dan beberapa tanaman bunga yang dirawat apik di sebidang tanah kosong. Pot-pot mungil berwarna putih tersusun rapi di antara teras dan halaman. Aster dan mawar tampak mekar sempurna, menari-nari tertiup angin seakan mengajak perempuan itu untuk ikut serta. Namun, hanya senyum tipis seraya pandangannya yang menerawang. Sepatu Converse putih tulang hadiah ulang tahun dari Aisyah, sahabatnya, tampak terkena percikan air hujan yang memantul ke tanah. Bahkan, sebagian celana berbahan katun warna cokelat tua yang Elea, begitu biasa ia disapa, kenakan sudah basah. Sesekali perempuan dengan lesung di pipi itu merapatkan belted cardigan beige yang menutupi sebagian tubuhnya dengan kedua tangan. Aroma petrikor yang menguar melewati indra penciuman, dihirupnya dalam-dalam. Sudah candu bagi Elea bisa dengan leluasa menghidu wangi yang disukainya sejak kecil itu. Sejenak ia merasakan ketenangan setelah beberapa saat lalu begitu kelelahan, karena berlarian cukup jauh sejak turun dari angkutan kota menuju rumahnya. Bibirnya terlihat gemetar menahan terpaan angin dingin yang mengembus perlahan bersama hujan yang makin deras. Wajah pucatnya ia sapu dengan sebelah tangan, menetralisir hawa yang kian menusuk lewat pori-pori kulit. Ayam bakar kesukaan sang ayah yang ia beli sebelum pulang dari sanggar lukis, segera dikeluarkan dari tas ransel. Senyum perempuan itu merekah kala mengingat betapa akan terlihat bahagianya lelaki kebanggaannya itu, bila mengetahui berita yang akan disampaikannya nanti. Dengan langkah gontai, Elea berjalan memasuki rumah. Namun, belum sempat kaki kecilnya menapaki lantai dengan keramik putih itu, ia sudah dikejutkan dengan dua lelaki berpakaian jas hitam lengkap yang tampak berdiri di ruang tamu, dekat pintu masuk. Terlihat sang ayah tengah duduk berhadapan dengan seorang lelaki muda berwajah tampan, jelas terlihat sikap dingin dan rahangnya yang mengeras. Single breasted suit warna abu-abu membalut tubuhnya yang proporsional. Tatapan Elea bersirobok dengan lelaki itu. Mereka saling menyelidik selama beberapa saat. Sorot manik cokelat itu tajam menukik. Menimbulkan tanya dalam pikiran perempuan yang mulai mencium aroma tak beres akan kedatangan lelaki dengan penampilan rapi itu. Tak biasanya sang ayah kedatangan tamu seperti mereka. "Elea, kau sudah pulang, Nak?" Arman, ayah Elea, segera menetralisir suasana yang hening seketika. Perempuan itu tersenyum sambil menenteng bungkus plastik hitam dan diperlihatkannya ke hadapan sang ayah. "Aku membawakan ayam bakar kesukaan Ayah. Setelah urusan Ayah selesai, kita makan sama-sama," ujar Elea tak menghiraukan tamu ayahnya. "Dia putri Anda?" tanya lelaki muda itu pada Arman. Pandangannya tak beralih dari Elea yang membalas dengan tatapan curiga. Arman mengangguk dengan perasaan tak menentu. "Kalau begitu, mari selesaikan urusan kita sekarang juga," ujar lelaki itu lagi dengan wajah dingin dan kaku. Arman menoleh ke arah putrinya yang masih bergeming tak jauh dari tempat ia duduk. Elea menyadari jika ada hal yang tidak menyenangkan dengan pertemuan itu. "Ada apa, Ayah?" tanya Elea diliputi rasa penasaran. Menatap lekat sang ayah yang seketika memucat mendapati pertanyaan putrinya. Rasa gugup terlihat jelas menguasai lelaki itu. Ia tak bisa berkata apa-apa. "Sebaiknya kau bersiap-siap untuk acara pernikahan kita, Elea." Lelaki itu duduk dengan tenang seraya menyilangkan kaki, menoleh ke arah perempuan yang masih menunggu jawaban sang ayah. Elea menjatuhkan plastik berisi ayam bakar. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Mengarahkan pandangan ke lelaki yang terlihat baik-baik saja, seperti tak ada masalah. "Tolong, caranya jangan seperti ini, Pak Gibran," ucap Arman dengan suara bergetar, ditujukan pada lelaki di depannya. "Saya sudah sabar menunggu selama tiga tahun ini. Bapak yang telah menyia-nyiakan kesempatan yang saya berikan. Ini saatnya memenuhi janji yang telah kita sepakati," ucapnya tenang. Tak ada gurat ketakutan di wajah angkuh itu, selain seulas senyum yang coba ia perlihatkan. "Apa maksud ucapannya itu, Ayah?" Elea makin tak mengerti arah pembicaraan lelaki dingin itu. Ia hanya berharap apa yang sudah didengarnya adalah sebuah lelucon tak berarti. Arman menunduk. Terlihat kegelisahan dari bahasa tubuhnya. "Maafkan Ayah, Elea," gumamnya lirih. Perempuan itu bisa mendengar jelas apa yang baru saja dikatakan ayahnya. Segera menghampiri lelaki yang selama ini menjaganya dengan penuh kasih sayang. Duduk di samping lelaki itu, seraya meraih tangan legam yang sudah mempertaruhkan hidup demi sebuah senyum bahagia di bibirnya. "Katakan jika yang aku dengar itu salah, Ayah. Ini semua hanya omong kosong, hanya untuk mengerjaiku, kan?" Elea berharap sang ayah mengiyakan pertanyaannya barusan. Namun, alih-alih ia meyakinkan diri bahwa yang terjadi adalah kebohongan, tatapan lelaki paruh baya itu terlihat jelas menyimpan kesedihan. Kedua netranya berkabut. "Maafkan Ayah, Elea," ucapnya terdengar seperti sebuah sembilu bagi perempuan itu. "Jelaskan padaku apa yang terjadi, Ayah?" Sekuat mungkin Elea menahan rasa yang hendak membuncah dari dalam d**a. Masih berharap yang terjadi di ruangan ini adalah mimpi buruk. Karena jika saja semua prasangkanya benar, maka tak akan ada lagi yang tersisa dari masa lalunya. "Ayahmu tak akan bisa mengatakan kebenarannya. Biar saya yang akan menjelaskan!" Lelaki itu kembali bersuara. Membuat Elea tiba-tiba tak menyukainya. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia butuh penjelasan saat ini. Jika tidak dari sang ayah, mungkin lelaki itu akan menuntaskan rasa penasaran yang sudah membuatnya tak tenang. "Ayahmu memiliki utang pada saya. Jumlahnya mencapai dua milyar. Sudah tiga tahun dia lari dari tanggung jawab. Perjanjian yang kami buat, jika ayahmu tidak bisa melunasi utangnya, maka dia harus rela menyerahkan satu-satunya harta yang paling berharga, yaitu dirimu." Bagai guntur menggelegar di tengah keheningan malam, hati Elea mencelus mendengar kenyataan itu. Kedua tangannya bergetar, meremas cardigan yang sudah sebagian basah. Bulir bening telah lolos mengalir dalam senyap. Tiba-tiba dadanya terasa sesak. Ini benar-benar seperti mimpi buruk. Kedua netra Elea terpejam rapat. Memastikan jika semua yang ia dengar adalah bunga tidur belaka. Tak mungkin jika sang ayah yang selama ini menjadi perisai dalam hidupnya, dengan tega mempertaruhkan dirinya hanya demi melunasi utang. Lebih menyakitkan dibanding dengan kepergian sang ibu lima belas tahun yang lalu. "Elea, Ayah benar-benar minta maaf, Nak." Arman menangis tertahan. Diraih lengan Elea dengan ragu. Hatinya jauh lebih sakit. Kesalahan terbesar yang telah dilakukannya telah menghancurkan hidup putri yang begitu disayangi selama ini. "Untuk apa Ayah berutang sebanyak itu?" Elea masih ingin tahu alasan sang ayah meminjam uang, apalagi dalam kurun waktu selama itu. Bahkan, ia sendiri pun sampai tak pernah mengetahuinya. "Saat itu Ayah butuh modal untuk membangun perusahaan dengan seorang teman. Namun, Ayah rupanya ditipu. Uang yang ayah pinjam, dibawa kabur entah kemana. Ayah tak cerita karena tak ingin membebanimu." Perempuan yang sudah bersimbah air mata itu menunduk. Meremas jemarinya di atas paha. "Ayah menjual diriku hanya demi utang?" tanya Elea menahan perih. "Ayah tidak bermaksud seperti itu, Nak. Pak Gibran yang memintamu untuk menjadi istrinya, jika Ayah tak bisa melunasi utang." "Dan Ayah setuju?" "Maafkan Ayah, Nak." Menahan perih yang kembali menjalar, Elea memejamkan rapat kedua netra. Masih berharap, semua yang baru saja ia dengar adalah mimpi buruknya. "Dalam waktu sekejap saja, aku tak mengenal siapa Ayah. Apa yang telah Ayah lakukan padaku sungguh tak manusiawi." "Ayah melakukan itu karena terpaksa, Nak. Ayah tak bisa berpikir apa-apa saat itu." Bahkan, di saat semua telah terjadi, lelaki itu masih sempat membela diri. Elea sudah tak bisa mendengar apa-apa lagi keluar dari mulut sang ayah. Jiwanya seketika hancur mendapati kenyataan paling menyakitkan dalam hidupnya. Selama beberapa saat, hanya isak tangis Elea yang sesekali terdengar. Selebihnya hanya suara gemericik hujan yang mulai samar. Dengan keyakinan yang tiba-tiba muncul, perempuan itu menengadah, menatap lekat lelaki yang tengah memperhatikannya. "Mari kita selesaikan perjanjian yang ayahku buat denganmu. Aku akan siap memenuhinya," ucap Elea tegas. Rasa sakit yang masih bersarang, membuatnya terpaksa harus melakukan itu. Elea sudah tak punya lagi alasan tetap berada di sisi lelaki yang dalam sekejap telah menjerumuskannya dalam jurang nestapa. Jika pernikahan yang lelaki itu maksud bisa melunasi utang sang ayah, akan ia lakukan. Sebagai seorang anak, mana mungkin tega membiarkan jeruji besi menjadi tempat bernaung ayahnya. Rasa sakit telah membelenggu kebencian yang tiba-tiba tumbuh dalam hati. Dihancurkan justru oleh orang yang selama ini menjadi perisai hidupnya, menorehkan luka yang teramat dalam. Meluruhkan seketika semua impian yang ia bangun dengan susah payah. Satu-satunya alasan menerima perjanjian itu karena kekecewaan. Mungkin lebih baik menikah daripada harus hidup bersama ayah yang sudah memporak-porandakan seluruh hidupnya. "Aku suka caramu," ujar lelaki itu tersenyum sinis. Malam itu, menjadi saksi perjanjian yang tak pernah disangka akan terjadi dalam hidup Elea. Dalam sekejap saja, mimpi buruk itu telah menghancurkan seluruh masa depan yang baru saja akan dibangun. Galeri seni yang akan memberikan beasiswa untuknya melanjutkan kuliah di luar negeri, kini hanya sebuah harapan yang memudar. Bagaimana ia bisa melanjutkan cita-citanya jika harus memenuhi perjanjian dengan lelaki itu? Lagi pula, semua impiannya telah kandas sejak kenyataan itu mengubah jiwa yang telah gelap sekelam malam. Jika hidup adalah sebuah perjuangan, bagian mana yang harus ia perjuangkan? Haruskah ia lari dan bersembunyi dari kenyataan? Menghadapi pernikahan yang bukan impiannya selama ini, terasa begitu menyedihkan. Harus hidup bersama lelaki asing yang tak dicintai, tentu tak akan mudah. Sudah dikhianati sang ayah yang dipercaya akan mengantarkannya menuju kebahagiaan, membuat Elea tak bisa memaafkan kesalahan lelaki itu begitu saja. Seluruh dunia pun akan mengutuk perbuatan yang dengan tega mempertaruhkan anaknya hanya demi melunasi utang. Hatinya menjadi beku untuk sekadar mendengar alasan sang ayah. Luka yang ditorehkan begitu dalam, hingga ia pun merasa sulit untuk memaafkan dirinya sendiri yang telah menerima perjanjian itu. Takdir telah menghempas Elea pada jurang terdalam. Kepercayaan terhadap lelaki pun mulai terkikis. Lelaki yang sudah dikenal sejak kecil ternyata bisa mengkhianatinya, sementara lelaki yang baru dikenal, dengan enteng akan menikahinya hanya karena sebuah perjanjian utang piutang. Apakah pernikahan sedemikian mudah dijadikan permainan? Ah, dirinya pun tengah melakukan hal yang sama. Menerima keinginan lelaki itu sama saja m*****i sucinya sebuah ikatan sakral, yang langsung terikat janji dengan Sang Mahakuasa. Tiba-tiba saja dirinya begitu hina. Jalan hijrah yang baru saja ditempuh dua tahun belakangan ini seperti tak berarti. Jilbab yang telah dikenakannya selama ini seakan hanya menjadi penghias kepala saja. Memang benar kata Aisyah, sahabat yang telah mengantarnya lebih dekat ke jalan Allah, bahwa jalan hijrah itu tidaklah mudah. Berjalan di jalur yang semestinya dilakukan sebagai seorang muslim, tentu harus ditempuh dengan istikamah. Elea menangis lagi. Terlalu terburu-burukah ia mengambil keputusan? Salahkah dirinya dengan menerima perjanjian yang telah disepakati sang ayah dan lelaki itu? Kembali nyeri mengiris hatinya yang mulai rapuh. Entah kemana takdir akan membawa Elea pergi, dia sudah tak lagi peduli. Baginya, mengikuti keinginan lelaki itu mungkin lebih baik daripada harus bertahan di sisi sang ayah yang sudah mengkhianatinya. Kini, usia yang baru beranjak dua puluh tiga tahun, akan berakhir dengan sebuah pernikahan yang bukan impiannya. Hidup dengan lelaki asing yang baru saja dikenal, pasti akan menjadi masa-masa sulit. Lelaki sedingin es itu sudah tak memiliki rasa iba. Baginya, bisnis adalah bisnis, apa pun kompensasi dari setiap perjanjian yang dibuat, akan ia pertahankan hingga akhir. Elea meringis perih sekaligus ngeri. Sungguh tak bisa dibayangkan, akan seperti apa kehidupan rumah tangganya nanti? Apa yang harus ia lakukan setelah ini? Sanggupkah menjalani takdir yang dijatuhkan padanya? Kembali derai itu jatuh tanpa bisa diajak kompromi. Sementara Gibran, menatap lekat perempuan di hadapannya yang sudah bersimbah air mata. Masa lalu kembali menyeruak dalam ingatan. Masa ketika harus kehilangan kedua orang tuanya dan hal itu yang membuat ia harus menikahi Elea.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Kali kedua

read
221.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.9K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.1K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
33.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook