Dulu, pernikahan menjadi hal sakral yang tak boleh dipermainkan
Sejak luka itu mendera, tak ada jalan selain menerima kenyataan
Bagaimana caranya bertahan dari rasa sakit, ketika tak ada jalan untuk kembali pulang?
Perjanjian itu adalah neraka nyata yang tak ada lagi pintu untuk bisa melarikan diri
_Elea
***
Pernikahan sejatinya adalah sebuah penyatuan dua jiwa yang berbeda prinsip dan pandangan hidup. Tentu saja, cinta merupakan pondasi utama untuk membangun hubungan yang berlandaskan kasih sayang.
Jika di dalam sebuah rumah tangga tak memiliki landasan cinta di hati keduanya, bagaimana bahtera itu akan berjalan dengan baik? Terlebih lagi, hubungan yang diawali dengan sebuah perjanjian, akankah dengan mudah menjalaninya?
Sebuah pernikahan adalah impian setiap orang. Memulai komitmen dengan pasangan yang kita cintai, sudah pasti akan sangat membahagiakan hati. Duduk bersanding di pelaminan, mengaminkan setiap doa yang terlantun dari para tamu undangan dan mengukir tawa yang tak pernah ada habisnya. Semua itu pernah menjadi bagian dari mimpi Elea.
Hanya saja, kini ia justru dihadapkan pada kondisi yang tak pernah diinginkan ada dalam hidupnya. Takdir telah merenggut semua mimpi yang telah dirangkai sedemikian indah. Mimpi yang sederhana.
Elea menekuri lantai pualam yang baginya hanya pijakan seperti layaknya tanah basah berkubang lumpur. Diembuskan napas panjang seakan ingin melepas sedikit beban yang mengimpit d**a. Perjanjian itu telah ditandatanganinya. Tak ada jalan untuk bisa lari dan melepas semua hal bodoh yang ia putuskan dengan emosi.
Gaun pengantin yang dulu merupakan harapan bisa dipakainya di acara sakral yang begitu dinantikan, kini seperti sembilu yang menyayat seluruh tubuhnya. Bahkan, riasan yang telah dipoles sedemikian indah oleh make up artis pilihan calon suaminya, tak berarti apa pun saat ini. Pujian akan kecantikannya yang sempurna, seperti hinaan yang merajam.
Pernikahannya bagai mimpi buruk yang ingin segera ia akhiri saat itu juga, tetapi tak ada cara untuk bisa keluar dari neraka yang mengungkungnya kini. Aisyah, sahabat baik yang selama ini menemani jalan hijrahnya hanya mampu memberikan dua pilihan.
"Jika kau ingin tetap bertahan dengan pernikahan itu, lakukanlah, anggaplah kau mendekati surga yang ingin kau tempati nanti, karena pengabdian seorang istri terhadap suaminya adalah jarak terdekat menggapai surga," ujar Aisyah saat itu.
Elea tampak berpikir. Memang ia menginginkan surga. Jalan hijrah yang baru saja ia tempuh adalah upayanya selama ini untuk lebih dekat dengan Allah, tetapi apakah ia tak pantas memiliki kebahagian dalam hidupnya? Haruskah menempuh liku yang berisikan onak dan duri dalam mencapai surganya?
"Pilihan keduanya apa?" tanya Elea menatap lekat sahabatnya.
"Menikah dengan lelaki yang kau cintai dan mencintaimu, serta bisa melunasi utang ayahmu."
Kening Elea mengerut. Tak semudah itu melakukan hal yang kedua. Tentu itu hal yang mustahil bisa terjadi dalam waktu sekejap. Perempuan itu hanya tersenyum sinis.
"Kenapa tersenyum?" tanya Aisyah polos.
"Pilihan Teteh tak ada satu pun yang menguntungkanku."
"Hanya kau sendiri yang bisa memutuskannya. Mana yang pilihannya lebih memberikan banyak kemaslahatan untuk hidupmu. Tentunya, hatimu pun harus ikhlas," ujar Aisyah bijak. Elea makin bimbang. Ia bukan perempuan yang diberikan kelebihan untuk bisa secepat itu ikhlas menerima takdir Allah yang menurutnya hanya memberikan rasa sakit.
"Baik atau tidaknya takdir Allah, sebagai manusia, kita tak bisa menilai itu. Karena baik menurut kita, belum tentu bagi Allah, begitu pun sebaliknya. Jadi, jauhkan prasangka dari setiap ketentuan yang sudah Allah jatuhkan."
"Jika jadi aku, apa yang akan Teh Aisyah lakukan?"
Aisyah tampak tersenyum. Meraih tangan Elea dan mengusap punggung tangan itu dengan lembut.
"Istikarah dan lakukan apa yang sesuai kata hatimu," pungkasnya, membuat Elea menghela napas berat.
"Mbak Elea, akad nikahnya akan segera dimulai," ucap seorang perempuan yang sudah berdiri di belakangnya.
Lamunan Elea pun seketika buyar, berganti dengan anggukkan, lalu kembali menatap wajahnya di depan cermin.
Inilah keputusanku. Semoga aku tak pernah salah memilih ini. Kuatkan aku, Yaa Allah, bisiknya lirih.
Elea memasuki ruangan akad yang sekaligus jadi tempat resepsi pernikahannya. Dekorasi bernuansa hijau muda dan putih memberikan nuansa fresh dan hangat. Dengan tema natural, lelaki itu telah mempersiapkan pernikahan mereka hanya dalam waktu satu minggu saja.
Elea tak perlu melakukan apa pun. Selama itu, tak ada tegur sapa dan obrolan manis yang biasa ia lakukan dengan sang ayah. Mereka seperti dua orang asing yang tak saling mengenal. Tinggal dalam satu rumah dengan keheningan. Arman yang berusaha untuk mengubah keputusan putrinya, hanya ditanggapi dingin. Tak ada lagi yang bisa dilakuan lelaki itu selain pasrah.
Arman yang datang sebagai wali nikah, hanya memandang pilu putri semata wayang. Hatinya pun hancur menyaksikan penderitaan yang dialami anak perempuan yang selama ini dijaga dengan penuh kasih sayang.
Hidup terkadang menempatkan kita pada posisi yang tak pernah diinginkan. Meski itu bukanlah keinginan sendiri, tetapi takdir ikut andil, memaksa apa yang telah dijatuhkan menjadi bagian dalam fase yang harus dilakoni.
Arman tak bisa berbuat banyak. Pada awalnya, ia memang merasa takut jika harus mendekam dalam jeruji besi dan menghabiskan sisa waktu menjadi pesakitan. Namun, jika waktu bisa diulang kembali, ia lebih memilih untuk berada di sana daripada harus melihat penderitaan putrinya sendiri.
Penyesalan terbesar yang tak akan pernah bisa dimaafkan seumur hidup. Arman mengutuk dirinya sendiri sepanjang perjalanan pulang, selepas menyerahkan tanggung jawab atas hidup Elea pada lelaki yang kini sudah berstatus suaminya.
Akankah putrinya bahagia bersama lelaki itu? Sementara ia tahu pasti, jika Gibran menjadikan Elea istrinya hanya karena ingin mendapatkan keturunan.
Bodohnya, ia tak ada beda. Sebagai seorang ayah yang menjadi tumpuan harap segala lara dari putri yang sejak kecil tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, sungguh tega telah mengorbankan anak perempuannya demi sebuah ego.
Namun, kini semuanya sudah terjadi. Tak bisa memutar waktu untuk mengembalikan keadaan seperti yang diinginkan. Semua berjalan sesuai alur yang ditentukan. Layar sudah terkembang dan siap mengarungi samudra di depan.
Arman pergi diam-diam dalam kemeriahan pesta. Ia merasa tak pantas ikut menikmati kemewahan di atas penderitaan yang tengah Elea rasakan. Apalagi, putrinya itu belum bisa memaafkan kesalahannya.
Entah kapan hati itu akan kembali terbuka dan mau menerima kembali belaian kasih sayang yang tak pernah pudar. Mungkin akan lebih butuh banyak waktu untuk Elea, bisa memaklumi apa yang telah dilakukannya.
Sementara itu, kemeriahan pesta pernikahan yang digelar di sebuah gedung bergengsi di Kota Kembang, tak membuat hati Elea berbunga. Bagaimana bisa, kebohongan lelaki yang kini sudah berstatus suaminya itu ditampakkan sedemikian apik.
"Aku melakukan ini agar terlihat baik di mata para kolega. Apa kata mereka jika tahu aku menikah karena perjanjian utang piutang dengan ayahmu? Aku menjaga kehormatanku selama ini dan tak ingin semuanya hancur karena satu kesalahan," ucap Gibran sinis saat Elea menginginkan pernikahan yang biasa saja.
"Kau tak perlu berkali-kali mengingatkan tentang perjanjian itu. Meski aku tak akan pernah bisa melupakannya, tapi aku tak pernah ingin mendengar hal itu lagi."
"Oke, aku setuju! Anggap saja, kita menikah karena cinta. Bukankah itu terdengar lebih baik?"
Elea menatap tajam lelaki di hadapannya. Segaris senyum terpatri di bibir itu, menyiratkan kepuasan akan pendapatnya. Perempuan itu tak bisa bersandiwara, seolah-olah bahagia, sementara hatinya menyimpan luka yang begitu dalam. Ia lebih memilih diam. Bergulat dengan perasaan yang kini bercampur aduk tak karuan.
Ingar bingar musik pengantar para tamu undangan yang keseluruhan adalah teman-teman dan relasi bisnis Gibran El-Hanan, terasa begitu menyesakkan bagi Elea. Ia merasa kesepian di tengah keramaian yang tercipta. Kerumunan orang seperti bayang-bayang samar dalam pandangannya.
Hanya Aisyah dan Rayhan, sang kakak yang hadir sebagai tamu undangannya. Perempuan dengan gamis coklat muda yang dibalut kerudung panjang warna senada itu tampak anggun berjalan menghampiri. Rayhan yang mengenakan batik warna yang sama dengan sang adik, terlihat gagah dan memesona.
Lelaki itu sempat digadang-gadang Aisyah untuk dijodohkan dengan Elea. Namun, kesibukan Rayhan sebagai pengelola pondok pesantren yang dipimpin ayahnya, membuat hubungan mereka tak berjalan baik. Selain itu, sikap lelaki itu yang cuek membuat Elea mudur perlahan.
Ia tak ingin terlihat gencar mengejar laki-laki, meski dalam hatinya mengakui jika Rayhan lelaki yang mendekati sempurna. Tampan, cerdas, dan bersahaja. Namun, Elea merasa tak pantas bersanding dengannya.
Aisyah memahami perasan Elea. Ia tak memaksakan kehendaknya pada perempuan itu untuk bisa dekat sang kakak, karena ia pun menyadari, jika Rayhan tak mudah didekati. Hal itu tak membuat hubungan persahabatan mereka renggang, malah makin erat.
Aisyah seperti bunga di tengah rimbun dedaunan, penyejuk hati Elea yang kesepian. Sahabat yang tak pernah meninggalkan dalam kondisi apa pun.
Dua kakak beradik itu melafalkan doa untuk kebahagiaan kedua mempelai.
Rayhan tampak tersenyum melihat sahabat adiknya. Ini pertama kalinya ia menatap lekat wajah cantik yang berselimut kabut itu. Dari cerita Aisyah yang ia dengar, hidup Elea tidaklah mudah. Lelaki itu baru menyadari, perempuan seceria itu memiliki luka yang begitu dalam. Ia menyesal telah mengabaikan setiap perhatian yang diberikan gadis itu dulu. Seandainya waktu bisa diulang, ia akan memberikan kesempatan untuk Elea memasuki hatinya. Ah, penyesalan memang selalu datang terlambat.
"Semoga hidupmu selalu bahagia, Elea," ucap Rayhan tulus. Kedua netra perempuan itu berkabut. Jika saja ia memiliki kakak seperti Rayhan, tentu saat ini ia sudah melabuhkan diri di pelukan itu. Mengurangi sedikit beban di hatinya saat ini.
"Terima kasih, Kang," jawab Elea menunduk, menyembunyikan riak wajahnya yang memerah.
Tak ada yang diucapkan Rayhan pada lelaki yang bersanding di samping Elea. Ia hanya menatap tajam sekilas, kemudian berlalu pergi.
Sementara Aisyah segera memeluk sahabatnya itu. Ia bisa merasakan kesedihan yang dialami Elea saat ini. Namun, tak ada yang bisa perempuan itu lakukan untuk bisa menenangkan hati sahabatnya selain memberinya kekuatan untuk tetap bertahan, karena hanya itu satu-satunya jalan yang bisa dilakukan.
Tawarannya untuk menolong Elea melunasi utang pada Gibran, segera ditolak perempuan itu. Tak mungkin menerima kebaikan abah Aisyah yang sudah banyak membantu keluarganya selama dua tahun belakangan. Ini kehidupannya dan ia sendiri yang harus menanggung semua tanpa bantuan dari siapa pun.
Masih sempat terdengar ucapan lembut dari Aisyah yang alih-alih menyejukkan hati, malah membuat luka Elea makin menganga.
"Jika kau masih merasa satu-satunya manusia dengan takdir yang buruk, ingatlah Elea, Allah selalu ada dengan segala kuasa-Nya. Dia tak pernah meninggalkan hamba yang selalu berusaha sabar dan ikhlas."
Aisyah meninggalkan sahabatnya setelah memeluk dan mengucapkan itu. Membuat kristal bening yang sejak prosesi akad nikah ditahannya sedemikian kuat, akhirnya jatuh luruh bersama rasa sakit yang kembali menyergap. Lelehan air matanya mengalir dalam senyap. Segera dihapus saat perempuan berkerudung panjang itu berlalu.
Elea tak ingin menimbulkan banyak pertanyaan dari tamu undangan yang hadir. Bagaimanapun juga, kini Gibran adalah suami yang harus ia jaga kehormatannya di depan orang lain. Tak diizinkan seorang pun menaruh curiga atas ketidakberdayaan diri, melawan apa yang tengah terjadi dalam hidupnya.
"Jika keburukan tampak dalam diri seorang suami, maka kewajiban sang istri untuk menutupi, begitu pun sebaliknya," ucap Aisyah kala ia memutuskan untuk menerima pernikahannya dengan Gibran.
Haruskah Elea melakukan pengabdian terhadap lelaki yang jelas-jelas telah menghancurkan hidupnya? Akankah ia bisa menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri demi mendapatkan surga? Lagi-lagi, jalan hijrah itu ternyata tidaklah mudah. Elea mendesah.
***
Kemewahan yang dimiliki Gibran, ternyata tak hanya sampai di pesta pernikahan yang digelar besar-besaran. Aset yang dimiliki lelaki itu ternyata benar-benar nyata. Rumah besar dengan gemerlap arsitektur pilihan, menjadi pemandangan menakjubkan bagi Elea yang untuk pertama kali menginjakkan kaki di rumah suaminya.
Ada satu hal aneh yang mengganjal pikiran Elea sejak sampai di sana. Kenapa lelaki sedingin es itu tak mempekerjakan asisten rumah tangga di rumahnya yang besar? Lalu, siapa yang membersihkan rumah dan mengurus semua keperluannya selama ini?
"Pak Gibran menggunakan jasa cleaning service untuk membersihkan rumah, memakai jasa laundry pribadi untuk mencuci pakaiannya, dan meminta chef dari hotel untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari." Begitu penjelasan Rengga, asisten Gibran yang sudah belasan tahun mengabdikan diri pada lelaki itu.
Elea hanya tersenyum tawar. Sedemikian mudah bagi Gibran untuk membeli apa yang diinginkannya. Sementara masih banyak orang di luar sana yang hanya untuk makan saja, mereka harus bekerja keras siang dan malam. Sungguh hidup yang ironis.
"Mari saya antar menuju kamar, Bu Elea," ujar Rengga membuyarkan lamunan perempuan itu.
Elea mengikuti langkah lelaki yang mungkin usianya tak berbeda jauh dengan Gibran.
"Ini kamar Bu Elea, tepat berada di samping kamar Pak Gibran." Lelaki itu membukakan pintu kamar, menarik troli besar milik Elea dan meletakkannya di dekat pintu.
"Pak Gibran meminta saya mendekorasi kamar ini, karena beliau tidak ingin tinggal dalam satu kamar dengan Bu Elea," lanjutnya lagi.
Elea sekilas menyunggingkan senyum, memahami maksud asisten suaminya itu. Ia lalu melangkah perlahan memasuki kamar, melihat-lihat dekorasinya yang menawan. Tak berapa lama, tubuhnya tiba-tiba berbalik ke arah Rengga.
"Oya, Mas, saya mungkin belum terlalu tua untuk dipanggil dengan sebutan ibu. Mas bisa memanggil saya dengan sebutan lain yang lebih cocok," ucap Elea pada lelaki yang masih berdiri di depan pintu kamar.
"Baik, Mbak Elea."
"Terima kasih, Mas Rengga."
Rengga melangkah pergi setelah mengucapkan salam. Tinggal Elea yang masih dibuat takjub dengan keadaan kamarnya. Nuansa minimalis didominasi warna pastel dan abu-abu, memberikan kesan hangat dan menenangkan.
Segera perempuan itu merebahkan tubuh di ranjang berukuran queen yang dibalut seprai warna pastel. Seharian menempuh perjalanan Bandung-Jakarta ternyata cukup melelahkan. Gibran telah lebih dulu pulang sejak acara resepsi selesai kemarin malam, sementara Rengga diminta menemani Elea untuk membereskan barang yang akan dibawanya ke rumah Gibran di Jakarta.
Tak banyak yang dibawa Elea selain beberapa potong pakaiannya. Alat-alat lukis yang masih tersimpan di pojok kamar, hanya bisa ditatapnya sendu. Mulai saat ini, tak ada lagi lukisan yang menangani hari-harinya. Impian yang ingin ia raih telah kandas sejak ia memutuskan untuk menerima pernikahan dengan Gibran. Bahkan, foto ia dan sang ayah yang tampak dalam pigura dibiarkan begitu saja.
Tak ingin ada barang-barang yang akan mengingatkannya dengan lelaki yang telah menorehkan luka dalam di hatinya.
"Kau pergi sekarang, Nak?" tanya Arman saat Elea menyeret trolinya keluar dari kamar. Perempuan itu bergeming. Tak ingin menoleh dan mengucapkan selamat tinggal.
"Jaga dirimu baik-baik, ya, Nak," ucap lelaki itu hampir tak terdengar, tetapi sangat jelas di telinga Elea, membuat matanya memanas dan seketika mengeluarkan bulir bening yang begitu deras.
Saat ini batinnya tengah bergejolak. Antara marah, kecewa dan sedih bercampur menjadi satu. Bagaimanapun Arman adalah ayah yang selama ini berjuang untuk hidup dan kebahagiaannya. Kesalahan yang ia lakukan adalah menjadikannya jalan penyelesaian utang dan itu membuat Elea kecewa. Namun, ia pun tak bisa memungkiri, jika selalu ada rasa sayang untuk lelaki itu. Inilah waktu yang akan membuat ia terpisah lama dengan sang ayah.
"Mulai saat ini, Ayah harus bisa menjaga diri baik-baik," ucap Elea tanpa menoleh dan segera berlalu menuju mobil yang sudah dipersiapkan Rengga.
Kembali Elea menghapus linangan air mata yang jatuh begitu saja. Ia telah meninggalkan ayahnya. Membiarkannya mengurus semua keperluan sendiri.
Semoga ayah baik-baik saja di sana, bisik Elea seraya memeluk guling dan menangis lagi.
Mulai saat ini, Elea akan lebih fokus pada kehidupannya bersama Gibran. Meski ia sendiri tak tahu apa yang harus ia lakukan, tetapi akan mencoba sebisa mungkin menjadi istri seperti saran Aisyah. Ia akan berusaha mengabdikan diri untuk suaminya.
Mendengar kata suami, rasanya Elea seperti tengah berada dalam mimpi. Dalam waktu sekejap saja, dirinya telah menjadi seorang istri dari pengusaha kaya raya. Mungkin banyak perempuan di luar sana merasa iri, bisa bersanding dengan lelaki yang meski usianya sudah mencapai tiga puluh tiga tahun, tetapi masih terlihat tampan dan memesona. Ditambah nilai plus yang sudah pasti membuat para perempuan makin jatuh hati, kekayaan yang berlimpah.
Bagi Elea, semua itu tak berarti jika hatinya tak bahagia. Mana bisa kebahagiaan itu dibeli dengan ketampanan dan kekayaan yang dimiliki suaminya kini. Ia bukan jenis perempuan pengejar harta dan rupa.
Impiannya sungguh sederhana. Bisa membina mahligai rumah tangga dengan seorang lelaki dengan pekerjaan yang tak muluk-muluk, tetapi saling mencintai sepenuh hati. Memenuhi bahtera pernikahan dengan cinta dan impian menggapai rida Ilahi bersama.
Bisa mendapatkan lelaki sederhana yang mencintai dan dicintainya dengan tulus itu sudah lebih dari cukup. Karena kadar kebahagiaan seseorang adalah ketika hati bisa menerima setiap kelebihan dan kekurangan pasangannya.
Azan magrib sudah berkumandang di kejauhan. Elea harus segera melaksanakan kewajiban menghadap Sang Mahakuasa. Meskipun kondisinya sedang dalam keadaan tak menentu saat ini, salat tetaplah sebuah amanah yang tak boleh ditinggalkan.
"Salat adalah tiangnya agama. Bagaimana kau akan tetap kokoh berdiri jika tiang yang menyangga itu rapuh. Kau tak boleh sekalipun meninggalkan perintah Allah yang satu itu, karena dari sana akan bisa menemukan kebahagiaan yang kau cari," ucap Aisyah saat pertama kali membimbingnya ke jalan hijrah.
Meski bahagia itu belum bisa Elea temukan, tetapi hatinya selalu tenang setelah melaksanakan salat. Ada rasa yang menyelusup dalam kalbu setiap ia selesai mengadu pada Sang Pemilik Hidup.
Dalam tengadahnya kedua tangan, ia meminta kekuatan dalam menghadapi setiap ujian yang diterima. Meski luka hati itu entah kapan akan berlalu pergi, tetapi ada harap akan berganti bahagia satu saat nanti.
"Elea ...." Sebuah suara tiba-tiba menyadarkan Elea dari rintihan doa yang ia panjatkan. Segera menoleh ke belakang dan tampak Gibran tengah berdiri di ambang pintu kamarnya.
"Bisakah kau mengetuk pintu terlebih dulu sebelum masuk ke kamarku?"
"Aku sudah mengetuknya beberapa kali, tapi mungkin kau tak mendengarnya. Lagi pula, ini rumahku, aku berhak keluar masuk sesuka hati. Tak perlu meminta izinmu untuk melakukan yang aku mau."
"Kau benar-benar egois," ucap Elea geram.
"Inilah aku, Elea. Mulai saat ini, kau dalam pengawasanku," ancamnya dengan tatapan dingin.
"Aku bukan peliharaanmu yang bisa kau awasi sesuka hati."
Lelaki itu tersenyum sinis.
"Meski pernikahan kita hanya di atas kertas, tapi aku berhak melakukan apa pun padamu, Elea. Kisah kita baru saja dimulai, kau harus mempersiapkan diri untuk menikmati hari-hari ke depan," pungkasnya, kemudian berlalu pergi meninggalkan Elea yang terpaku dengan berbagai pertanyaan. Lelaki itu memang penuh misteri dan ia harus berhati-hati menghadapinya.