Jamuan Makan Malam

2077 Kata
Sejenak terpaku dalam kegamangan Menapaki jejak yang sengaja ditinggalkan Cinta telah memberikan arti tentang sebuah kesetiaan Sejatinya tak ada kesempurnaan tanpa cela, meski semua sudah tak lagi sama _Gibran *** Mencintai seseorang terlalu dalam ternyata begitu melelahkan, ketika dia tak semudah itu tersentuh akan ketulusan yang diberikan. Memberikan sepenuhnya rasa yang tertanam dalam hati, tak bisa menjamin jika sebuah hubungan akan mengantarkan pada kebahagiaan. Saat seseorang dengan sengaja m*****i sucinya sebuah harapan, membuyarkan segenap mimpi yang dirangkai dengan indah, memilih pergi bersama pilihan hati yang lain. Satu-satunya alasan tetap bertahan hanyalah kenangan masa lalu. Betapa cinta itu menyiksanya setiap hari. Memporak-porandakan jiwa yang berserak sengaja. Mencari kekuatan dalam setiap hela. Tak lagi ditemukan setitik iba. Bertarung dengan berbagai prasangka yang hilir mudik di kepala. Kepergiannya ternyata selalu mencipta luka. Gibran tengah memandang riak hujan di balik jendela yang menghubungkan ruang keluarga dengan taman di belakang rumahnya. Rinai itu selalu mengingatkan pada seseorang yang telah meninggalkan kenangan paling menyakitkan dalam hidupnya. Seberapa besar ia mengenyahkan semua rasa itu, semakin kuat tumbuh bersarang. Kedua tangan itu bersedekap di depan d**a seraya memahat bingkai luka. Pikirannya melayang jauh ke masa silam, di mana ia pernah merasa bahagia bersama perempuan yang selama enam tahun selalu berada di sisinya. Menemani setiap detik dengan canda tawa dan menikmati sisa waktu dengan penuh suka cita. Lelaki itu menguntai senyum. Ternyata ia masih belum juga bisa menghapus semua kenangan tentangnya. Begitu melekat dalam ingatan meski waktu sudah lama berlalu. "Mas, makan malamnya sudah siap," ucap sebuah suara membuyarkan lamunannya. Gibran menoleh. Perempuan dengan pakaian sederhana dipadu jilbab instan itu sudah berdiri di belakangnya. Wajahnya datar, sama seperti pertama kali ia melihatnya. "Aku sudah bilang padamu, tak perlu repot-repot menyiapkan makan untukku." Gibran menatap dingin perempuan itu, Elea. Sikapnya masih saja kasar dan dingin pada perempuan yang kini sudah berstatus istrinya. Meski diingatkan berkali-kali mengenai hal-hal yang tak perlu dilakukan, tetapi Elea tetap menjalankan kewajibannya. "Aku hanya menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri." Lelaki itu tersenyum sinis. "Kau hanya istri di atas kertas, tak perlu menempatkan posisimu sebagai istriku yang sebenarnya." Perih menyayat saat Gibran mengatakan itu. Ditahannya rasa yang hendak menyeruak dari kedua netra. Ia tak mau terlihat lemah dan cengeng. Semakin lelaki itu melarang, akan tetap ia pertahankan apa yang menurutnya benar. "Baiklah kalau begitu, karena lapar, aku akan makan saja sendiri. Jika kau tak mau makan, silakan nikmati sisa malam dengan perut kosong," ujar Elea sambil berlalu, meninggalkan Gibran yang terpaku dengan raut wajah kesal. Perempuan itu menikmati makan malam sendiri. Setiap suapan mencoba dinikmatinya dengan harapan akan cepat merasa kenyang. Karena sejujurnya, ia pun enggan untuk memasukkan semua itu ke dalam mulut. Sepiring nasi dan olahan capcay komplit dengan potongan daging dan udang menjadi menu yang dimasaknya. Tepat di suapan ketiga, tiba-tiba wajah sang ayah berkelebat dalam ingatan. Mengingatkan kembali kebersamaan yang pernah mereka lewati saat tengah makan bersama. Bayangan ketika lelaki paruh baya itu memberikannya potongan ayam dan capcay, terpahat begitu jelas. "Kau harus banyak makan sayur agar tubuhmu tidak mudah sakit," ucap sang ayah sambil tersenyum. Elea yang memang kurang begitu menyukai sayur, mau tak mau mengikuti perintah ayahnya. "Jika ayah tak ada, jangan lupa untuk menambahkan sayuran dalam makananmu," lanjutnya seraya menyendok nasi ke mulut. Tak bisa lagi terbendung rasa dalam d**a. Bulir bening yang sudah menggantung di pelupuk mata, jatuh berderai tak tertahankan. Ia begitu merindukan masa itu. Dua hari sudah tak bersama sang ayah. Meski kekecewaan itu belum juga reda, tetapi kenangan tentangnya tak bisa begitu saja sirna dari pikirannya. "Sepertinya malam ini aku terpaksa harus makan masakanmu. Aku tak mau mati konyol karena kelaparan." Sebuah suara berhasil membuat Elea terkejut. Segera dihapusnya basah di pipi. Mengeringkan kedua netra dengan punggung tangan dan mencoba tetap terlihat baik-baik saja. Elea memasukkan makanannya ke mulut, sementara lelaki itu segera mengambil posisi duduk, menyendok nasi dan mengambil capcay ke dalam piring, lalu mulai menikmati makan malam dengan tak acuh. Pada suapan pertama, wajah itu terlihat kaget. Mengunyah makanan perlahan sambil menikmati sensasi berbeda. Enak. Ia tak menyangka jika perempuan yang duduk di sebelahnya itu ternyata pandai memasak. Namun, Gibran tak ingin memperlihatkan kekagumannya pada perempuan itu. Ia tampak asyik menghabiskan sisa nasi beserta lauknya di atas piring. Sesekali ekor matanya menangkap semburat wajah yang terlihat sendu. Ada apa dengan Elea? Apakah ia tak suka dengan keberadaannya yang duduk dalam satu meja makan? Ataukah ada hal lain yang tengah mengganggu pikirannya? Elea tak memedulikan lelaki itu. Ia begitu asyik dengan pikirannya sendiri. Setelah menghabiskan makanannya, ia segera mencuci bersih sebagian perabotan yang tersisa di bak cuci. "Ayahmu meneleponku pagi tadi. Ia menanyakan kabarmu," ucap Gibran memecah kesunyian. Elea tak menanggapi ucapannya, ia lebih asyik merapikan meja makan, sementara Gibran telah selesai menghabiskan sisa lauk di piringnya. "Oke, anggap saja ayahmu tak pernah ada di antara kita," ucap Gibran sambil berlalu pergi. Elea terpaku setelah lelaki itu tak terlihat dalam pandangan. Ia tak punya alasan untuk menanggapi ucapan Gibran, karena ia memang tak ingin mendengar tentang sang ayah. Setidaknya untuk saat ini, biarlah hatinya mengungkung perih, hingga bisa mengurainya menjadi kerelaan. "Besok akan ada jamuan makan malam relasi bisnisku. Aku harap, jam tujuh kau sudah siap untuk menemaniku," ucap Gibran yang datang tiba-tiba dari balik pintu dapur. Elea yang sempat terlonjak kaget, meredam amarahnya saat mendengar permintaan lelaki itu. "Apa itu perlu?" tanya Elea enggan. "Kau sekarang sudah menjadi istriku. Setidaknya di depan semua orang, kita harus terlihat harmonis. Aku harap kau memahami maksudku." Elea terdiam. Sejak menyetujui perjanjian itu, ia sudah dihadapkan pada peraturan yang dibuat oleh Gibran. Mau tidak mau, suka tidak suka, ia harus siap menjalankan keinginan suaminya. Elea hanya mengangguk, tak kuasa menolak keinginan lelaki itu. *** Potret wajah yang terlukis sederhana, membingkai lengkung tipis di bibir mungil perempuan dengan balutan gamis warna peach. Nuansa brukat di bagian d**a hingga sepanjang lengan, mengesankan kemewahan yang terpancar dari sosok Elea. Dibalut kerudung polos warna senada, semakin menambah kecantikan yang terpahat. Sepatu black high heels menyempurnakan penampilannya. Keraguan sempat menguasai ketika menyadari jika ini bukanlah keinginannya. Haruskah berpura-pura menerima semua yang terjadi, sementara ada yang memanas dalam hati? Namun, ia harus melakukan itu. Elea berjalan perlahan menuruni anak tangga. Dadanya bergemuruh. Gibran yang sudah menunggu di balik kemudi, terlihat takjub dengan penampilan Elea. Lelaki yang mengenakan tuxedo hitam itu tampak gagah dengan potongan rambut short pampodour. "Ayo berangkat!" ucap Elea seraya masuk ke mobil dan langsung memasang sabuk pengaman dengan wajah tak acuh. Gibran segera menjalankan mesin dan mobil pun meluncur ke luar dari halaman rumah, membelah jalanan dalam suasana malam yang bertabur bintang. "Kau gugup?" Gibran memecah sunyi dengan pertanyaan yang tak harus dijawab pun, lelaki itu pasti sudah mengetahuinya. Jelas terlihat dari kedua tangan Elea yang saling meremas di atas pangkuan. Mengisyaratkan jika ia tengah dalam kegelisahan. "Aku hanya tak terbiasa menghadiri jamuan makan malam," ucapnya polos. "Kau harus membiasakan diri dengan hal ini, karena akan ada banyak jamuan makan lainnya yang akan kita hadiri ke depannya nanti. Kedua netra Elea terbelalak. Ia tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Bagaimana bisa membiasakan diri untuk menemani lelaki itu, sementara ada rasa kesal setiap kali mengingat perbuatan Gibran terhadapnya. Elea mendesah. Terlihat gurat kekesalan di wajahnya yang pucat. Kecantikan yang terlihat sederhana itu, membuat Gibran sejenak kagum, garis tipis berhasil tergambar di bibirnya. Alunan musik blues terdengar dari pemutar audio. Elea sejenak terpaku, mencoba menenangkan suasana hatinya yang tak menentu. Lelaki itu ternyata tahu cara membuat perasaannya lebih rileks. "Musik blues dipercaya bisa meredam rasa gugup dan membuat perasaan lebih tenang," ucap Gibran mencoba menetralisir suasana hening sepanjang perjalanan "Aku sudah lebih tenang sekarang." "Kau harus terlihat rileks. Aku tak mau jika orang-orang di sana akan melihatmu dengan wajah gelisah seperti tadi." Elea menoleh. Menatap sejenak lelaki itu. Baru beberapa detik lalu dirinya dibuat kagum dengan cara Gibran yang bisa menenangkan hatinya, kini tiba-tiba sudah berubah sinis. Kurang lebih empat puluh menit perjalanan yang mereka tempuh, hingga akhirnya sampai di sebuah rumah mewah bernuansa etnik modern. Halaman itu begitu luas, sehingga deretan mobil para tamu undangan pun tampak rapi berjejer di sepanjang selasar rumah. Elea mencoba menetralisir perasaan yang masih saja diliputi gugup. Gibran segera menyambut sang istri dengan menyorongkan tangan pada perempuan itu. Sejenak terdiam, tetapi akhirnya Elea menyambut dengan tatapan tak suka. Kedua sejoli itu disambut hangat sang tuan rumah. Surya Bagaskara dan Arini Rahmania, istrinya, begitu ramah mempersilakan mereka masuk dan menikmati hidangan yang telah disediakan. Surya Bagaskara adalah seorang pengusaha properti yang bisnisnya sudah merambah hingga ke luar negeri. Sementara istrinya adalah sosialita kelas atas yang tak luput dari pemberitaan media sosial karena penampilannya yang glamor. Gibran tak melepas genggaman Elea selama berjalan menuju ruangan yang sudah dipenuhi banyak orang. Elea menahan napas yang tiba-tiba terasa begitu menyesakkan. Tatapan beberapa pasang mata makin membuatnya risih. Dipaksakan senyum tipis menghiasi bibir kala para tamu menyapa mereka. Gibran terlibat obrolan dengan beberapa rekan bisnisnya. Elea mencoba memahami kemana maksud pembicaraan itu, tetapi pikirannya buntu. Ia mencoba menjauh dari sana dan menikmati beberapa camilan yang tersedia. Elea tengah menikmati suasana malam di halaman belakang rumah yang tak seramai di dalam, ketika dilihatnya beberapa perempuan muda tengah tertawa lepas. Ia penasaran. Diperhatikannya sesuatu yang membuat mereka tertawa. Kedua netranya bersirobok dengan seorang lelaki yang duduk di tengah kerumunan para perempuan itu. Segera pandangannya dialihkan ke sekitar saat lelaki itu menatap lekat dengan senyum manis di bibirnya. Elea bergegas kembali ke ruang dalam, mengambil minuman yang tersaji di atas meja. "Dari tadi Gibran mencarimu, sepertinya ia begitu mengkhawatirkanmu." Sebuah suara di belakang Elea mampu membuatnya terkejut. Ia menoleh dan tampak Arini tengah berdiri sambil memegang segelas minuman. "Setelah kulihat-lihat, tampaknya kalian bukan pasangan yang serasi. Status sosial kalian pun terlihat sangat berbeda," ucap perempuan setengah baya itu tersenyum sinis. "Maksud Anda?" Elea ingin tahu maksud Arini mengatakan itu. "Dari dulu aku berharap, Gibran bisa bersanding dengan anak perempuanku yang jauh segala-galanya darimu, tapi sayang, dia lebih memilih istri sepertimu." Elea merasa terluka dengan ucapan yang meluncur begitu saja. Ditahan rasa perih dalam hati. Meski pernikahan mereka hanya di atas kertas, tetapi tak sepantasnya perempuan itu menilai rendah dirinya. Tak dipedulikan Arini yang tersenyum sinis, kemudian Elea berlalu pergi, menahan kabut di kedua netra yang kapan saja bisa meluncur tanpa kompromi. Tiba-tiba ia teringat ayahnya. Di saat tengah mendapat perlakuan buruk dari seseorang, selalu sang ayah yang bisa memberikan pelukan hangat yang menenangkan. "Elea ...." Segera perempuan itu mengalihkan pandangan saat Gibran memanggilnya. "Apa terjadi sesuatu?" tanya Gibran heran. Ia melihat wajah Elea yang memucat. "Tidak. Aku baik-baik saja." Alih-alih mengatakan itu, Elea tak bisa menahan rasa yang membuncah dari dalam hatinya. "Ternyata kalian di sini." Surya menepuk bahu Gibran dari belakang, membuat lelaki itu menoleh dan menyunggingkan senyum. "Bagaimana pernikahan kalian? Apa kalian menikmati menjadi pengantin baru?" tanya Surya membuat Gibran tersipu. Sementara Elea hanya mengulas senyum yang dipaksakan. Ia tak mau terlihat sedang tak baik-baik saja di hadapan lelaki yang terlihat baik dan ramah itu. "Kami tengah menikmati pernikahan baru ini, Om," jawab Gibran seraya melihat ke arah Elea yang hanya diam terpaku. "Elea, Gibran sudah saya anggap seperti anak sendiri. Saat masih kuliah, Gibran sering datang kemari, tapi semenjak bisnisnya mulai maju, kami jadi jarang bertemu." Elea hanya menanggapi dengan senyuman. Ia tak bisa bicara apa-apa saat ini. Hatinya tengah dilanda perasaan tak menentu. "Andil Om sangat besar dalam bisnis yang aku kelola dan aku sangat berterima kasih untuk itu," ucap Gibran seraya merangkul lelaki yang masih terlihat gagah di usianya yang sudah tak muda lagi. "Semua berkat kerja kerasmu, Nak. Om bangga padamu," timpal Surya tersenyum lebar. Mereka sekilas tampak seperti ayah dan anak. Hubungan Gibran dan keluarga Bagaskara dulunya memang begitu dekat, sehingga Surya sudah menganggapnya seperti anak sendiri. "Sepertinya kami harus pulang, Om," ucap Gibran sambil meraih lengan Elea. Lelaki itu seperti memahami kegelisahan yang dialami istrinya. Tak ingin hal itu terlihat jelas di mata Surya dan yang lainnya, ia pun berinisiatif untuk segera berpamitan. Mereka berlalu dari ingar-bingar pesta yang masih berlangsung. Setelah memasuki mobil, Gibran segera tancap gas dan pergi meninggalkan kediaman Surya Bagaskara. Ada rasa lega yang Elea rasakan setelah keluar dari sana. Sesak yang mengimpit sejak tadi, sesaat menguar. Kembali kata-kata Arini terngiang dengan jelas. Bulir bening yang sejak tadi tertahan, akhirnya jatuh juga. Gibran melihat itu, tetapi ia tak berani bertanya. Sejak melihat Elea bicara dengan Arini, ia merasa ada sesuatu yang membuat perempuan itu terluka. Terlihat dari perubahan yang terjadi saat menanyakan keadaanya. Sementara itu, dari kejauhan tampak seorang lelaki yang sejak Elea dan Gibran berlalu dari kediaman Surya Bagaskara, mengawasi dengan saksama. Ia hanya menatap tajam kebersamaan pasangan pengantin baru itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN