Lelaki Perajin Kayu

1730 Kata
Ketika mendung melingkupi ruang gelap nan sepi Mencipta kabut dalam setiap bergulirnya hari Tak ada sejumput tawa yang terlukis seperti hari lalu Luka membelenggu, mengungkung rindu _Elea *** Semilir angin mengibaskan tirai, masuk melalui celah jendela yang terbuka. Cahaya yang menyembul malu-malu, menyilaukan pandang lelaki yang masih terbaring di atas ranjang kebesaran. Dengan enggan ia membungkus kembali tubuh dengan selimut. Tak memedulikan kicau burung saling bersahutan yang seakan memanggilnya untuk segera melihat lukisan indah Sang Maha Pencipta. Selama beberapa saat, rasa malas itu menguasai. Bergulung dengan kantuk yang belum juga pergi. Kedua netranya mulai terbuka tatkala sebuah panggilan membangunkannya. "Maaf, Pak, jam sembilan pagi ini, Anda ada meeting dengan investor dari Singapura." Rengga yang sudah berdiri di sisi pembaringan mengingatkan Gibran mengenai jadwal pekerjaannya. Mau tak mau, lelaki itu bangun dan duduk mematung. Rengga adalah satu-satunya orang yang diizinkan memasuki kamarnya. Itu pun jika dalam keadaan mendesak dan urusan pekerjaan. Tak seorang pun diperbolehkan menyentuh barang pribadinya, termasuk masuk ke kamarnya. "Kau yang membuka jendela itu?" tanya Gibran sambil menunjuk ke arah jendela di sampingnya. "Bukan, Pak," jawab Rengga jujur. Gibran mengembuskan napas kasar. Pasti Elea yang sudah berani masuk ke kamarnya tanpa izin. Ia segera bangkit dan berjalan keluar kamar, diikuti Rengga di belakangnya. Lelaki itu menyusuri anak tangga dengan napas yang memburu. Jelas sekali kekesalan tergambar di wajahnya yang meski baru bangun dari tidur, tetapi masih memperlihatkan ketampanan yang membalut sikap dingin dan kasarnya. "Kau yang masuk ke kamarku dan membuka jendela?" tuding Gibran segera saat ia sudah berada di hadapan Elea. "Ya." Elea menjawab dengan singkat sambil asyik menyiapkan sarapan di atas meja makan. "Kau berani masuk ke kamarku tanpa izin?" "Aku hanya membukakan jendela, apa itu suatu pelanggaran?" tanya Elea seraya menatap Gibran yang terlihat kesal. "Aku kan sudah bilang, jangan pernah mencampuri urusan pribadiku. Memasuki kamarku sama saja mengusik privasiku," sanggah Gibran masih menahan emosi. "Maaf jika aku sudah mengganggu privasimu, tapi aku tak bermaksud lancang, hanya ingin memberi udara segar di kamarmu." "Apa pun alasannya, kau tetap tak boleh melanggar itu." "Baiklah jika itu yang kau mau, aku tak akan mengulanginya lagi. Puas?" Perempuan itu segera berlalu dan langsung menuju kamar. Minat sarapannya sudah lenyap dengan perlakuan Gibran yang kasar. "Maaf, Pak, seharusnya tak perlu seemosi itu pada Mbak Elea," ucap Rengga dari balik punggung lelaki itu. Gibran menyugar rambutnya kasar. Dipandangi sarapan yang sudah tersaji di atas meja. Nasi goreng, telur ceplok dan secangkir kopi telah disiapkan Elea. Apa ia memang terlalu keras padanya? Tak menanggapi ucapan asistennya, Gibran segera menaiki anak tangga untuk bersiap-siap menuju kantor. Ia pun tak berselera untuk menikmati sarapan yang sudah disediakan istrinya. Setelah merasa yakin tak ada yang tertinggal untuk persiapan meeting dengan investor dari Singapura, Gibran dan Rengga segera pergi tanpa berpamitan pada Elea yang masih berada di kamarnya. Sepanjang perjalanan, alih-alih mendengarkan informasi mengenai investor yang hendak menanamkan modal di proyek terbarunya, Gibran malah asyik dengan pikiran mengenai sikap yang sudah dilakukannya pada Elea. Padahal sejak semalam, Gibran berniat menanyakan tentang obrolan antara Elea dengan Arini, tetapi hal itu harus tertunda karena kemarahannya yang terlalu berlebihan. Selama ini, ia selalu terbiasa sendiri di rumah sebesar itu. Tak ada siapa pun berani mengusik pribadinya, kecuali Rengga, itu pun sebatas urusan pekerjaan. Namun, sejak kehadiran Elea, ia seakan diawasi. Bahkan urusan makan, membereskan rumah dan mencuci pakaian yang selama ini dikerjakan oleh masing-masing orang kepercayaannya, semua diambil alih oleh perempuan itu. Elea seakan menempatkan diri sebagai istri yang sebenarnya. Padahal Gibran hanya menganggap Elea sebagai istri yang bisa memberikannya keturunan untuk meneruskan kekayaan keluarga. Meskipun hal yang satu itu belum bisa terpenuhi, tetapi ia tak mau terburu-buru. Gibran masih ingin menikmati penderitaan Elea, meski entah kenapa, setiap kali perempuan itu bersedih, hatinya selalu tak tega. "Jadi, apa yang bisa kita berikan selain prospek menjanjikan akan vila itu, Pak?" Rengga yang merasa jika Gibran tak memperhatikan perkataannya, menepuk lengan lelaki itu. "Gimana, Ngga?" tanya Gibran tak mengerti. Pikirannya memang sedang tak bersama Rengga. Ia lebih memikirkan sikapnya yang sudah keterlaluan memperlakukan Elea. "Bapak tengah memikirkan Mbak Elea?" tanya lelaki itu memahami apa yang tengah dirasakan atasannya. Gibran tak mejawab. Dialihkan pandangan ke luar jendela mobil. Ia tak mau apa yang ada dalam hatinya diketahui siapa pun, termasuk asistennya. "Saran saya, jika Bapak merasa tak enak hati dengan perlakuan tadi, sebaiknya segera meminta maaf pada Mbak Elea. Perasaan perempuan itu sangat sensitif. Ia hanya perlu mendapat ucapan maaf dari pasangan yang sudah menyakitinya." "Aku yang kulakukan sudah benar," ucap Gibran masih tak mau mengakui kesalahannya. "Jika Bapak tak mau mengakui kesalahan, bagaimana bisa memperbaiki keadaan?" Gibran mencerna kata-kata Rengga. Lelaki itu kembali gelisah. Haruskah ia meminta maaf pada Elea? Ah, tapi bagaimana jika perempuan itu merasa tinggi hati? Gibran mendesah. *** Elea tengah menikmati udara pagi yang cerah di sebuah taman yang cukup jauh dari rumahnya. Dengan mengendari sepeda motor yang dimilikinya selama ini, bisa melepas penat kemana pun ia mau. Sejenak pergi dari sikap kasar yang telah dilakukan Gibran, mungkin akan membuat hatinya sedikit lebih tenang. Perempuan itu tak habis pikir dengan perlakuan suaminya yang terkadang manis, tetapi juga bisa kasar dalam waktu sekejap. Hanya karena memasuki kamar tanpa izin, ternyata bisa membuatnya semarah itu. Bahkan, sarapan yang sudah disiapkan sejak pagi-pagi buta, tak disentuh sama sekali. Terkadang ia merasa ingin lari dari kehidupan yang menyakitkan itu. Bukan hanya sikap Gibran yang dingin dan kasar, tetapi juga apa yang ada di sekeliling lelaki itu membuatnya terasa menyesakkan. Baru sekali menemani ke jamuan makan malam, ia sudah mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan. Haruskah ia bertahan untuk itu? Namun, jika ia memilih pergi, apa yang akan terjadi pada ia dan ayahnya nanti? Perjanjian pra nikah itu telah ditandatangani. Elea boleh pergi dari kehidupan Gibran jika telah berhasil memberikannya Keturunan. Hidup dalam satu atap saja sudah membuat kepalanya dan hatinya sakit, apalagi jika berhubungan lebih dari itu untuk bisa melahirkan anak. Elea memijat kepalanya yang mulai berdenyut. Saat tengah memikirkan Gibran yang tak pernah bisa pergi dari pikirannya, Elea tak sengaja menangkap seseorang yang tengah sibuk dengan balok-balok kayu berukuran cukup besar. Rasa penasaran membuatnya mendekati lelaki yang tampak dari belakang. Kian dekat, makin terlihat apa yang dilakukan lelaki itu. Seperti tengah menggambar di atas balok kayu warna-warni. "Kalau kau penasaran dengan apa yang kulakukan, mendekat saja." Tiba-tiba suara itu mengagetkan Elea. Bagaimana bisa lelaki itu mengetahui keberadaannya? Padahal ia berjalan diam-diam, mendekati tanpa suara. "Aku bisa mendengar deru nafasmu yang terbawa angin," ucapnya masih asyik menggambar. Merasa tak ditanggapi, lelaki itu menoleh ke belakang dan betapa terkejutnya Elea melihat wajah yang semalam ia lihat di jamuan itu, kini tepat berada di hadapannya. "Kau?" Elea masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bagaimana bisa ia bertemu dengan lelaki itu lagi? "Satu kebetulan kita bisa dipertemukan lagi di sini, Elea." "Dari mana kau tahu namaku?" tanya Elea semakin heran dengan lelaki itu. "Siapa yang tak kenal dengan istri dari Gibran El-Hanan, pengusaha kaya yang dipuja para wanita, tapi sayang, Gibran tak pantas mendapatkanmu, Elea." Elea tersenyum sinis. "Kau bukan orang pertama yang mengatakan itu." Tiba-tiba Elea menyesal telah mengucapkan kata yang tak seharusnya ia ucapkan pada siapa pun. Gibran adalah suami yang harus ia jaga kehormatannya, terlepas dari sikap kasarnya selama ini. "Maaf harus mengatakan ini. Aku mengatakan yang sejujurnya. Gibran lelaki beruntung yang bisa mendapatkan perempuan sepertimu." "Apa maksudmu bicara seperti itu? Apa kau mengenal kami?" selidik Elea pada lelaki yang baru dikenalnya, tetapi seperti menyimpan rasa tak suka terhadap Gibran. "Aku mungkin tak mengenalmu, tapi aku yakin kau orang yang baik. Apa kau kenal suamimu dengan baik, Elea?" tanya lelaki itu berbalik menyelidik. "Sepertinya kau lebih mengenalnya daripada aku?" Lelaki itu mengulum senyum. "Jika kau ingin mengenal suamimu lebih dalam, kau harus berteman dulu denganku," ucap lelaki itu memberi pilihan. "Kau percaya diri sekali." "Itu harus, karena kepercayaan diri seseorang yang akan membuatnya bertahan dari segala macam rasa sakit." Elea menatap lelaki itu lekat. Ada luka yang tersimpan dari nada bicaranya. Namun, senyumnya mampu membalut kepedihan yang ia rasakan. "Kau sedang melakukan apa?" tanya Elea mengalihkan pembicaraan. Ia tak mau semakin larut dalam pembicaraan yang mengarah pada hal pribadi. "Inilah pekerjaanku," ujarnya sambil menatap hasil gambarnya pada bidang balok. "Menggambar?" "Lebih tepatnya Carpenter." Elea sesaat dibuat kagum dengan keahlian lelaki itu. Balok kayu warna-warni itu digambar dengan aneka buah lengkap dengan nama di bawahnya. "Ini untuk properti sekolah?" tanya Elea lagi. Ia makin tertarik dengan apa yang dilakukan lelaki itu. "Ya, play group." "Pekerjaanmu menarik," sahut perempuan itu polos. Ada binar di kedua netranya yang tak mampu diucapkan dengan kata-kata. "Kau mau mencoba?" Elea ragu saat lelaki itu menyodorkan kuas ke hadapannya. Sejak menikah dengan Gibran, ia sudah tak pernah lagi melukis. Kegemarannya itu sengaja ditinggalkan karena kekecewaannya pada sang ayah. Mimpi untuk bisa menjadi seorang pelukis pun harus kandas karena perjanjian itu. "Ini akan sangat menyenangkan. Setidaknya, pikiran negatif yang ada di kepalamu akan menguar seiring goresan kuasmu," ucap lelaki itu meyakinkan. Entah kenapa, Elea menurut. Ia mengambil kuas dari tangan lelaki itu. Ragu sempat menguasai ketika ia memegang kuas. Mengingatkan pada apa yang selalu dilakukannya. Menyalurkan hasrat, menggoreskan pada lembar kertas gambar, menuangkan hal-hal yang ada di kepala, dan hal itu membuatnya sangat bahagia. "Kau bisa menggambar?" tanya lelaki itu membuyarkan lamunan Elea. Perempuan itu menoleh. Ia bergeming, bingung harus melakukan apa. "Lakukan saja apa yang ingin kau gambar di atas balok itu." Elea merasa ada yang memanas dalam hatinya. Ketika bayangan sang ayah berkelabat di kepala, memaksa ia mengingat kembali perlakuan lelaki itu yang mempertaruhkan hidupnya hanya demi sebuah utang. Begitu menyesakkan. "Maaf, aku tak bisa," ucap Elea seraya menyerahkan kembali kuas ke tangan lelaki itu. Napasnya naik turun. Wajahnya seketika merah padam menahan luka yang kembali menyeruak. "Kau baik-baik saja?" Lelaki itu menatap Elea khawatir. "Ya, aku baik-baik saja," kilah Elea berusaha menyembunyikan kesedihannya. "Maaf jika aku telah membuatmu mengingat sesuatu yang kurang menyenangkan," sesal lelaki itu tulus. "Aku harus segera pulang," pamit Elea seraya berbalik dan hendak melangkah pergi, tetapi ia berhenti ketika tangan lelaki itu mencekalnya. "Jika kau butuh teman untuk berbagi, aku akan ada di sini," tawar lelaki itu. Elea menatap manik mata lelaki di depannya, ada ketulusan di sana, tetapi ia tak kuasa mengiakan. "Terima kasih." Hanya itu yang mampu Elea ucapkan sebelum melangkah pergi, menjauh dari lelaki yang tiba-tiba saja membuatnya merasa membenarkan apa yang tersirat dari kata-kata yang diucapkannya. Sementara lelaki itu, tersenyum penuh arti saat sosok Elea makin menjauh dari pandangannya. Akhirnya, dia benar-benar menemukanmu, bisik lelaki itu lirih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN