Entah apa yang tengah membuat d**a ini berdebar
Adakah rasa ini telah berubah ataukah hanya sekadar kamuflase?
Ketika mulut ingin memungkiri, hati jelas mengakui
Namun, ketakutan akan semakin membuat luka itu makin dalam
_Elea
***
Lelaki berdarah Jakarta-Minang itu mengernyit kala melihat sarapan yang sudah tersaji di atas meja makan. Tak tampak Elea di sana. Sejenak Gibran terpaku, memikirkan perlakuannya yang kasar terhadap perempuan itu. Meski begitu, Elea masih tetap menjalankan kewajibannya sebagai istri, seperti permintaannya saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah itu.
"Biarkan aku melayani semua kebutuhanmu di rumah ini. Jadi, kau tak perlu lagi menyewa jasa seperti selama ini."
Awalnya Gibran keberatan. Ia tak percaya jika Elea bisa mengurus semua kebutuhannya sendiri, tanpa bantuan asisten rumah tangga. Namun, keraguannya terpatahkan saat perempuan itu dengan sigap mengatur segala keperluannya. Tak pernah ada kekurangan.
"Melayani keperluan suami adalah pahala terbesar untuk mencapai surga. Jadi, aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa masuk ke sana."
Kata-kata yang pernah diucapkan Elea selalu terngiang di benaknya, kala ia menanyakan alasan perempuan itu tetap teguh dengan keinginannya untuk mengurus sendiri semua keperluan pribadinya. Bahkan, urusan rumah pun mampu dikerjakannya tanpa bantuan asisten rumah tangga.
Terkadang ia menyesal telah memperlakukan perempuan itu dengan kasar setelah apa yang telah dilakukan untuknya. Bahkan, untuk sekadar kata maaf saja sulit sekali terucap.
Saat kemarin ia ingin meminta maaf lewat pesan Whatsaap, tak juga dilakukannya. Keraguan selalu hinggap dalam hati kala ingin memperbaiki kesalahan yang telah dilakukannya pada Elea. Ia terlalu angkuh untuk mengakui apa yang telah diperbuat, hingga hanya sebuah perintah yang sanggup dikatakannya.
[Jangan persiapkan makan, aku akan pulang larut malam." Begitu isi pesan yang dikirimnya untuk Elea kemarin sore.
Jika hari biasanya saat pulang dari kantor selepas Magrib, sudah tersaji hidangan lengkap di atas meja makan. Elea dengan wajah semringah mengajaknya makan malam bersama. Pada awalnya ia menolak, tetapi karena usaha gigih perempuan itu, ia pun mengalah. Menikmati makanan yang disediakan dengan wajah yang dingin.
Pesan yang disampaikannya tak ada balasan, tetapi Gibran tahu jika Elea sudah membacanya. Ia pun tak membutuhkan jawaban, hanya pemberitahuan yang harus perempuan itu tahu agar tak perlu repot-repot menyiapkannya makan malam.
Seperti pagi biasanya, Elea sudah mempersiapkan sarapan di atas meja makan. Kali ini menunya lontong sayur bumbu kuning. Ia sudah menghapal makanan kesukaan suaminya. Tentu saja, Rengga berperan andil dalam info seputar kesukaan lelaki itu.
Sebenarnya Elea enggan menanyakan lebih dalam tentang pribadi Gibran, tetapi sebagai bentuk tanggung jawab yang ingin melayani sendiri keperluan sang suami, ia pun harus mau mencatat setiap kebutuhannya.
Sepuluh menit Gibran menunggu di ruang makan, tetapi perempuan itu tak kunjung datang. Masih marahkah Elea padanya? Atau ia tak mau sarapan dalam satu meja makan? Ia tak bisa menunggu dalam ketidakpastian. Segera dinaiki kembali anak tangga dan menuju kamar perempuan yang berada tiga langkah dari pintu kamarnya.
Diketuknya pintu seraya memanggil namanya. Hening, tak ada jawaban. Mencoba sekali lagi dengan ketukan yang lebih keras.
"Elea, kau ada di dalam?" tanya Gibran seraya mendekatkan telinganya ke pintu. Sepi.
"Ayo kita sarapan bersama! Aku tak selera bila makan sendiri."
Masih tak ada tanggapan dari dalam kamar. Kemana perginya perempuan itu?
"Elea, aku akan masuk dan menyeretmu untuk sarapan." Gibran tak sabar dan segera membuka daun pintu. Tak terkunci.
Dengan mengendap-endap, lelaki itu memasuki kamar Elea. Memperhatikan kondisi di dalam yang masih sama seperti arahannya untuk mendekor kamar perempuan itu. Ia terperangah saat melihat tumpukan kertas gambar berserakan di atas lantai. Coretan yang sepertinya sengaja dilakukan itu tampak berantakan, tak beraturan.
Gibran terkejut saat mendengar suara daun pintu yang terbuka. Segera menoleh ke belakang dan ia terperanjat ketika sosok Elea dengan hanya menggunakan handuk yang membalut tubuh bagian d**a hingga paha terpampang jelas di hadapannya. Sejenak lelaki itu terpaku, tak bisa menggerakkan badan.
Elea yang lebih terkejut karena tak menyadari Gibran sudah ada di sana, hanya bisa berteriak saat menyadari lelaki itu tengah menatapnya.
"Sedang apa kau di sini?" teriak Elea sambil menutupi d**a, dan segera mundur perlahan.
Pada saat yang bersamaan, lelaki itu pun segera membalikkan badan. Menetralisir debaran di d**a yang berpacu lebih cepat. Ia tak menyangka akan melihat pemandangan yang mampu membuatnya berdesir seketika. Hasrat sebagai lelaki mulai berontak, tetapi ia harus bisa menguasai diri saat ini.
Sementara Elea yang seketika masuk kembali ke kamar mandi, merasakan napasnya sesak. Bagaimana ia tak menyadari kehadiran lelaki itu di kamarnya? Lagi pula untuk apa Gibran berada di sana, hingga harus menyaksikan dirinya yang hanya mengenakan sehelai handuk saja. Ah, betapa bodohnya ia yang tak sempat mengunci pintu kamar setelah mempersiapkan sarapan tadi.
"Kau sedang apa di kamarku, Mas?" teriak Elea dari dalam kamar mandi.
"Aku hanya ingin mengajakmu sarapan. Sudah beberapa kali aku mengetuk pintu kamar, tapi tak ada jawaban," jawab Gibran dengan suara keras.
"Tadi aku sedang mandi, jadi tak terdengar kau mengetuk pintu."
"Mana aku tahu kau sedang mandi. Salahmu sendiri tak menguncinya."
"Kau sendiri yang salah telah masuk ke kamarku tanpa izin, kenapa sekarang malah menyalahkanku?" Elea menahan emosi karena lelaki itu menyalahkannya atas apa yang baru saja terjadi.
"Aku tak mau makan sendiri. Segeralah turun dan temani aku sarapan," teriak Gibran sambil berlalu pergi.
Setelah memastikan jika lelaki itu sudah tak ada di sana, Elea segera membuka pintu kamar mandi. Ia terduduk lemas di atas ranjang dengan perasaan tak menentu. Menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.
Entah kenapa, dadanya berdebar lebih kencang, bukan karena Gibran telah memergokinya, tetapi perasaan lain yang tiba-tiba saja tumbuh dalam hatinya saat tatapan itu seketika membuat setiap ruas dalam tubuhnya lemah tak berdaya. Ia harus bisa bersikap biasa saja, seolah tak terjadi apa-apa di depan lelaki itu.
Setelah berganti pakaian dengan gamis berbahan katun dan jilbab instan yang selalu dikenakannya meski di dalam rumah, Elea menuruni anak tangga dengan perasaan yang mulai tenang. Segera mengambil tempat duduk tak jauh di samping Gibran yang masih bergeming di tempatnya.
Perempuan itu mengambilkan lontong sayur ke dalam mangkuk dan menyerahkannya pada Gibran. Setelah itu, baru ia mengambil satu porsi untuknya dengan tambahan kerupuk dan sambal.
Mereka menikmati sarapan dalam keheningan. Baik Elea maupun Gibran sama-sama tak mengeluarkan sepatah kata pun. Mereka tampak asyik dengan pikirannya masing-masing.
"Apa agendamu hari ini?" Tiba-tiba Gibran membuka suara. Ia merasa tak nyaman hanya saling diam selama menikmati sarapan.
Elea masih terdiam. Tak biasanya lelaki itu menanyakan agenda kegiatannya. Bahkan untuk meminta maaf atas kejadian tadi saja, seperti berat dilakukan.
"Aku hanya ingin berjalan-jalan saja, sekalian membeli kebutuhan sehari-hari yang sudah mulai habis," jawab Elea masih asyik dengan makanannya.
"Nanti aku transfer untuk membeli kebutuhan rumah dan lainnya."
"Tidak perlu. Uang yang kau beri bulan lalu masih cukup untuk membeli semua yang dibutuhkan."
"Kau berhemat?" Gibran merasa heran dengan cara Elea membelanjakan uang yang ia berikan untuk membeli keperluan rumah tangga dan kebutuhannya sendiri.
Jika biasanya dengan uang yang ia berikan pada Elea, ia bisa menggaji chef dan membayar jasa laundry dalam waktu sebulan, tetapi di tangan perempuan itu, ternyata bisa membeli semua kebutuhan rumah untuk waktu dua bulan.
"Kau tidak sedang berhemat, kan?" tanya lelaki itu lagi menyelidik.
"Apa selama ini kebutuhanmu merasa kurang atau tak sesuai dengan keinginanmu?" Elea balik bertanya.
Gibran menggeleng. Selama ini, semua kebutuhannya memang selalu terpenuhi. Ia mulai terbiasa dengan apa yang disuguhkan Elea. Bahkan, pakaian yang biasa diserahkan ke penatu, mampu perempuan itu kerjakan dengan hasil yang tak tak kalah bersih dan wangi.
Lelaki itu tak menyangka jika Elea serba bisa dalam mengurus keperluan rumah tangga. Mungkin karena ia sudah terbiasa hidup berdua dengan sang ayah, hingga pekerjaan rumah pun sudah biasa dilakukannya.
"Mas, pakaianmu sudah aku setrika, tinggal kau simpan di lemari saja," ucap Elea masih asyik mengunyah makanannya.
"Kau menyuruhku menyimpan pakaian itu sendiri?"
Elea menoleh, menatap Gibran lekat.
"Lalu, aku harus masuk ke kamarmu dan menyimpannya sendiri? Kau yakin aku tak mengusik privasimu?" sindir Elea membuat Gibran salah tingkah.
"Aku akan menemanimu," jawab Gibran tak acuh.
Elea hanya bisa mengembuskan napas kasar.
"Elea ...," panggil Gibran pelan.
Perempuan itu mendongak. Ditatapnya lelaki yang tengah menatap lekat. Pandangan mereka bertemu, terkunci dalam hening yang tiba-tiba menguasai. Berbicara lewat kedua netra, mengisyaratkan isi hati yang tak juga ditemukan jawabannya.
"Apa yang kau bicarakan malam itu dengan Tante Arini?"
Gibran akhirnya berhasil menanyakan hal yang ingin diketahuinya sejak malam itu. Ia merasa ada sesuatu yang membuat Elea berubah sikap, yang pasti ada hubungan dengan dirinya.
Perempuan itu mengambil gelas berisi air putih, meminumnya perlahan hingga tandas. Berpikir kenapa tiba-tiba Gibran menanyakan itu sekarang? Elea menyunggingkan seulas senyum, menata hati yang kembali nyeri.
"Kami hanya bicara tentang perkenalanku denganmu." Elea sengaja berbohong. Ia tak ingin lelaki itu tahu apa yang telah dikatakan Arini malam itu. Tak akan ada pengaruhnya pula bagi hubungan mereka berdua.
"Kau sedang tak berbohong padaku, kan?" tanya Gibran ragu.
Elea mendesah.
"Berbohong ataupun tidak, tak ada untungnya bagi kita. Satu hal yang pasti, Bu Arini tidak menyukaiku."
Gibran menatap kedua netra perempuan itu. Mencari kejujuran di sana dan ia percaya dengan kata-kata Elea yang terakhir, jika Arini tak menyukainya.
"Ingat hal ini Elea, baik Tante Arini atau siapa pun, mereka jangan sampai tahu seperti apa hubungan kita. Kau harus bisa melakukan yang terbaik agar mereka percaya, jika kita pasangan yang saling mencintai."
"Apa itu sangat berarti bagimu, Mas?"
Meski Elea tengah bertanya, tetapi hatinya merasa terluka. Lelaki itu tak pernah menganggapnya berharga. Ia hanya sekadar istri di atas kertas bagi Gibran.
"Tentu saja. Bagaimana jika orang tahu kalau kita menikah karena perjanjian utang piutang? Apalagi hal itu dilakukan oleh ayahmu sendiri. Tidakkah kita semua akan terkena imbasnya?"
Kembali bagai tersayat sembilu, apa yang telah diucapkan Gibran benar-benar telah meluruhkan harga dirinya. Lelaki itu benar-benar tak punya perasaan. Hanya mengutamakan kehormatannya sendiri. Ia semakin yakin jika lelaki itu tak lebih berarti dari apa pun. Ia yang hanya berharap ada secercah belas kasih di hatinya. Namun, ternyata semua itu takkan mungkin bisa terwujud nyata.
"Seperti apa yang kau mau. Aku akan berusaha sebaik mungkin agar pernikahan kita terlihat sempurna."
Elea menahan kuat-kuat kabut yang sudah menggenang di kedua netra, mencoba untuk tak terjatuh, setidaknya di depan Gibran. Ia tak ingin lelaki itu tahu akan perasaannya yang terluka. Dihabiskannya lontong sayur yang tinggal tersisa setengah. Ia ingin segera pergi dari sana, takut tak bisa menahan rasa yang siap membuncah.
Sementara, diam-diam Gibran mencuri pandang pada Elea. Ia terpaksa harus mengatakan itu agar siapa pun tak bisa melukai perasaannya. Ia tak rela orang lain menorehkan rasa sakit di hati perempuan itu. Namun, entah mengapa, dorongan untuk melakukan hal-hal yang bisa menyakiti Elea, selalu kuat tertanam di hatinya, karena itu adalah tujuan awal menikahinya.