Sahabat Terbaik

1800 Kata
Perempuan itu begitu rapuh Menyandarkan hidup pada sebuah keyakinan akan cinta seseorang Hingga saat cinta itu melukai, durinya begitu tajam menorehkan perih Dia membutuhkan kekuatan yang lebih untuk bisa bertahan dari rasa sakit Selalu mengingatkannya akan sebuah ketakwaan Bahwa sejatinya bahagia tumbuh dari iman yang kita punya _Aisyah *** Sahabat adalah salah satu alasan seseorang kembali dari segala lelah. Saat kehidupan begitu menyesakkan, kehadiran sahabat yang selalu ada dalam setiap suka dan duka, menjadi tempat menuangkan kegelisan yang melanda. Aisyah. Sebuah nama yang selalu ada untuk berbagi lara. Merindukan nasihat yang selalu bisa menemukan hati untuk kembali pada kepasrahan. Elea sangat bahagia ketika Aisyah mengatakan jika dirinya akan ada di Jakarta selama dua hari dalam rangka seminar bisnis berbasis syariah Islam. Jarak dari hotel tempat seminar digelar dengan rumah Gibran di Pondok Indah tak begitu jauh, sehingga ia bisa mengunjungi sahabatnya. "Selalu ada tempat untuk kita berbagi luka. Kau jangan pernah merasa sendirian di muka bumi ini, karena tempat sebaik-baiknya kembali dari segala duka adalah Sang Mahakuasa." Seperti biasa, Aisyah selalu membuka obrolan dengan nasihatnya yang menenangkan. Kembali hatinya perih memikirkan semua yang telah terjadi dalam hidupnya. Ia seakan terjebak dalam situasi yang tidak menyenangkan dan harus menjalaninya dengan kepura-puraan. "Kau jangan pernah berpikir jika yang terjadi dalam hidupmu ini adalah sebuah kesalahan, karena Allah selalu punya rencana indah dari setiap takdir yang dijatuhkan untuk hambanya," ujar Aisyah membantah asumsi Elea yang merasa terjebak dalam posisinya saat ini. "Sampai kapan aku bisa menghadapi ujian ini, Teh?" tanya Elea lirih. Selama ini, ia sudah berusaha bersabar menerima takdirnya sebagai istri Gibran. Menjalankan kewajibannya sebagai istri dengan melayani semua kebutuhan suaminya di rumah, melukiskan senyum penuh kepura-puraan di depan kenalan lelaki itu, dan berusaha diam seolah yang terjadi adalah bagian yang sudah direncanakan. "Sampai kau benar-benar ikhlas menerimanya. Kita mungkin berprasangka jika yang terjadi adalah hal yang tidak menyenangkan, tapi pernahkah kau berpikir, jika di balik ini semua ada hikmah yang akan mengantarkan kita pada jalan kebahagiaan." Dengan bijak Aisyah mencoba menenangkan hati sahabatnya yang tengah gundah. Ia bisa memahami, jalan hijrah Elea yang masih seumur jagung, perlu mendapatkan bimbingan lebih. Selalu mengingatkannya akan arti istikamah tentu tak mudah. Apalagi, ia tak bisa sesering biasanya menemui Elea seperti saat masih berstatus lajang. "Aku hanya perempuan biasa yang punya batas kesabaran, Teh." Elea masih mendebat. Kondisinya belum bisa sepenuhnya tenang meski berbagai nasihat sudah ia dengarkan. Ia merasa putus asa. Menerima kembali ujian yang lain hanya akan mengantarkannya pada sebuah rasa sakit yang semakin dalam. "Justru karena kau perempuan biasa, Allah akan meningkatkan derajatmu jika kau mampu melewati ujian ini. Masih lebih banyak ujian yang lebih berat di depan nanti, Elea. Kau harus belajar menghadapinya. Tingkatkan keimananmu, karena hanya itu satu-satunya bekal untukmu bisa bertahan dan menjadi perempuan yang istimewa." "Begitu mudah mengatakan itu, tapi pada kenyataannya akan sangat sulit untuk sekadar menghadapi." "Itulah yang namanya ujian. Jika kau mampu menjalani, maka kau akan lulus dan naik setingkat lebih tinggi. Tentu saja, ujiannya pun akan semakin sulit." "Kau benar-benar menakutiku, Teh," bisik Elea sambil merebahkan diri di atas sofa kamar Aisyah. "Aku hanya menguatkanmu, Elea. Kau harus lebih banyak mendekatkan diri pada Sang Mahakuasa jika ingin melewati setiap ujian-Nya." "Aku ragu bisa melakukannya." "Kau memberi peluang pada setan-setan yang ada di sekitarmu untuk memenangkan pertarungan ini. Mereka kini pasti tengah bersorak gembira karena kau sudah kalah sebelum berperang." "Kau semakin menakutiku, Teh." Perempuan itu tersenyum lebar. Memperlihatkan deretan gigi-giginya yang putih bersih. Elea selalu merasa tenang melihat senyum itu. Ada rasa dingin menyelusup dalam d**a. Mendengar nasihat Aisyah sekaligus menyaksikan senyumannya. "Jika aku merasa lelah dengan semua ini, kau harus tetap di sini untuk kembali menguatkanku," ucap Elea berharap. Aisyah mengangguk pasti. "Tentu, aku akan selalu ada bersamamu, Elea." Perempuan itu memeluk sahabat yang selama ini tak pernah protes dengan segala keluh kesahnya. Ia selalu bisa bermanja-manja di depan Aisyah. Hal itu yang membuatnya lega dan lebih memantapkan hati untuk terus melangkah. Kehadiran Aisyah bak oase di tengah padang pasir. Selalu menyejukkan hati yang tengah dilanda gelisah mengenai tujuan hidupnya. Sama seperti saat ia belum bisa memaafkan perlakuan sang ibu yang meninggalkannya sewaktu kecil. Perempuan itu yang selalu mengingatkan tentang pentingnya sebuah keimanan. "Dalam keimanan itu, kita bisa melahirkan berbagai prasangka positif yang mengantarkan pada sebuah ketenangan. Setiap rencana Allah selalu indah, apa pun yang terjadi dalam kehidupan kita, itu sudah menjadi bagian dari takdir," ucap Aisyah kala itu. Elea belum bisa memahami kemana maksud pembicaraan sahabatnya itu. Lama kelamaan ia bisa mulai mengerti tentang pentingnya sebuah keimanan. Meski belum sepenuhnya bisa mempraktekkannya, tetapi ia mulai bisa mendekatkan diri pada Sang Ilahi. Hanya saja, terkadang luka itu begitu dalam menyakitkan menerpa hidupnya, hingga ia sulit berpikir jernih akan ujian yang masih Allah mampukan untuknya. Seperti yang telah dilakukan sang ayah. Ia belum bisa memaafkan lelaki yang dipercaya telah menjadi perisai selama ini dengan sebuah pengkhianatan. "Hanya waktu yang akan menyembuhkan luka di hatimu, Elea. Selama jeda itu, kau harus tetap berusaha meningkatkan keimanan tanpa henti. Suatu hari, akan kau temukan jawaban dari pertanyaan yang memenuhi kepalamu itu." Elea bergeming. Ia hanya menutup rapat kedua matanya. Berusaha kuat seperti apa yang dibilang Aisyah, bukanlah hal mudah yang harus ia lakukan. Entah sampai kapan ia mampu bertahan. Hanya waktu yang bisa menjawabnya. "Aku lapar!" Elea memegang perutnya yang belum terisi. Jam makan siang sudah lewat beberapa jam lalu, tetapi perempuan itu belum menyentuh makanan apa pun untuk mengisi perutnya. "Kalau begitu, kita cari restoran terdekat, ya," ajak Aisyah. Elea mengangguk. Mereka pun menuju sebuah restoran yang menyajikan berbagai menu masakan menarik. Seperti biasa, Elea dan Aisyah lebih memilih olahan seafood, udang bakar dan cumi asam manis. "Kau ingat perkenalan kita berawal di sebuah restoran di Bandung?" tanya Elea kembali mengingat pertama kali ia bertemu dengan Aisyah. "Aku masih ingat dengan jelas saat kau menawarkan payung padaku dan kau lebih memilih kehujanan," lanjut Elea sembari mengupas udang bakar. Aisyah ikut tersenyum mengingat saat itu. "Kau bertanya, kenapa aku tak menggunakannya untuk sendiri," sambut Aisyah ikut bernostalgia dengan pertemuan mereka dua tahun lalu. "Percuma saja, akan tetap basah karena riak hujan yang terlalu deras akan membasahi semua pakaianku." Elea menirukan ucapan Aisyah kala itu. Mereka tertawa bersama. Mengingat kembali masa perkenalan itu yang akhirnya membuat keduanya masuk ke restoran, menikmati hidangan yang ditawarkan, dan secara bersamaan mereka memilih seafood sebagai makanan favorit.Selama beberapa jam asyik mengobrol tentang banyak hal, terutama tentang agama. "Ikut saja ke kajian agama bersamaku setiap hari Jumat dan Minggu," ajak Aisyah kala itu. Elea yang hanya mengenal agama lewat pelajaran di sekolah dan sedikit pemahaman yang diajarkan sang ayah, mulai tertarik dengan ajakan Aisyah yang berdakwah tanpa menggurui. Seperti tengah berdiskusi ringan, tetapi meninggalkan kesan yang mendalam. Sejenak Elea ragu. Dirinya belum berjilbab kala itu. Rambut panjangnya yang biasa dikuncir, dibiarkan menjadi konsumsi lelaki yang bukan mahram. Bahkan, celana panjang jin ketat dan kaos oblong menjadi pakaiannya sehari-hari. Sejak memutuskan untuk ikut ke kajian bersama Aisyah, Elea pun mulai menutup auratnya dengan kerudung yang menutupi d**a. "Tolong bimbing aku untuk hijrah, ya, Teh," pinta Elea yang memang sengaja memanggil Aisyah dengan sebutan teteh, panggilan dalam bahasa sunda terhadap perempuan yang lebih tua. Dengan senang hati Aisyah pun menemani. Mereka melewati hari berdua dengan banyak berdiskusi tentang agama. Sejak mengenal Aisyah, Elea lebih sederhana dalam berpenampilan, sopan dalam bersikap, dan halus dalam bertutur kata. Satu hal yang menjadi perubahan dalam hidupnya, Elea bisa lebih ikhlas menerima dan memaafkan kesalahan orang lain. "Aku harap kau tak pernah lupa, awal niat jalan hijrahmu saat itu," bisik Aisyah. Sesaat Elea terdiam. Mengingat apa yang telah diucapkannya saat pertama kali ia mengucapkan ingin hijrah dan lebih mengenal Allah. "Aku sudah bergelimang dosa dengan menyimpan kebencian yang mengakar selama belasan tahun untuk ibuku dan mengumbar aurat yang sudah seharusnya tertutup sejak aku baligh. Aku ingin menjadi perempuan yang lebih baik dan layak menjadi istri ketika Allah memberikan jodoh," ujar Elea saat itu. "Niatkan jalan hijrahmu itu untuk kehidupanmu saat ini, Elea. Ikhlas dan sabar menjalani takdir," harap Aisyah seraya menatap Elea lekat. Perempuan itu hanya mengangguk sambil mengulas senyum. "Sepertinya percakapan kalian begitu asyik, sehingga tak memedulikan orang-orang yang ada di sekitar." Sebuah suara tiba-tiba mengagetkan Elea dan Asiyah. Lelaki itu sudah berdiri dengan sedikit membungkuk di hadapan mereka. "Kau?" Elea makin terkejut karena untuk ketiga kalinya ia bertemu kembali dengan lelaki itu. "Kenapa kau selalu ada di mana pun aku berada?" Elea mendesah kesal. "Maaf jika aku telah mengganggumu, tapi sungguh aku tak bermaksud mengikutimu. Ini restoran sahabatku dan aku hendak mengunjunginya." "Maaf," ucap Elea menyesal. "Tak masalah. Aku sudah terbiasa mendapat prasangka buruk seperti itu." Elea menatap lelaki itu tajam. Sejak melihatnya pertama kali di rumah keluarga Surya, ia memang sejenak terpikat dengan senyum dan tatapannya. Begitu pun saat di taman tempo hari, ia terpesona dengan keahliannya sebagai Carpenter yang sekaligus bisa melukis. Namun, sekarang ia merasa lelaki itu selalu berada kemana pun ia pergi. "Aku tak tahu, alasan apa lagi jika kita dipertemukan nanti," sindir Elea tak acuh. "Akan kupikirkan nanti jika kita kembali dipertemukan. Aku harap, saat itu kau mau menerimaku menjadi temanmu," ujar lelaki itu tak melepas senyumnya yang khas. "Tidak bisakah kau bicara sambil duduk." Aisyah mencoba menengahi dengan mempersilakan lelaki itu duduk. Elea menoleh ke arah Aisyah seraya memandangnya tajam. Perempuan itu hanya mengukir senyum. "Kau sahabatnya Elea?" Lelaki itu mengalihkan tatapannya pada perempuan di hadapan Elea. "Ya," jawab Aisyah singkat. "Ezra Bagaskara, itu namaku." Lelaki itu memperkenalkan diri. Elea seketika menoleh dan menatap sosok yang masih menguntai senyum. "Aku Aisyah, sahabatnya Elea." Perempuan itu menangkupkan kedua tangan di depan d**a saat Ezra hendak menyodorkan lengannya. "Senang berkenalan denganmu, Aisyah." "Kau putranya Om Surya Bagaskara?" tanya Elea meyakinkan diri, karena pada saat jamuan makan malam tempo hari, lelaki itu ada di sana. Ezra mengangguk. "Sepertinya, kita harus segera pulang." Elea bangkit dari duduknya dan segera menarik tangan Aisyah menuju meja kasir. Entah kenapa, Elea merasa ia tidak seharusnya menjalin kedekatan dengan keluarga Surya Bagasakara setelah apa yang dilakukan Arini Bagaskara. Ezra hanya bisa diam mematung, memperhatikan sikap Elesa yang seketika berubah saat ia membenarkan pertanyaannya. "Pesanannya sudah dibayar Mas Ezra, Mbak," ucap kasir cantik dengan rambut panjangnya. Elea menoleh ke arah lelaki itu. "Kata Mas Ezra, Mbak harus membayarnya lain waktu," lanjut perempuan itu lagi. Kali ini Elea menatap lelaki yang tengah tersenyum itu dengan kesal. Ezra tampak melambaikan tangannya seraya masuk menuju ruang dalam, ke arah kantor pemilik restoran. "Sepertinya lelaki itu tertarik padamu," ucap Aisyah setengah berbisik. "Lelaki itu seperti hantu, selalu ada kemana pun aku pergi," kelakar Elea sambil berlalu. "Jangan-jangan dia hantu penasaran yang terobsesi denganmu," celetuk Aisyah tersenyum. "Kau percaya adanya hantu penasaran?" "Mungkin sekarang aku harus percaya." Aisyah menggoda Elea, seraya menggandeng lengan sahabatnya yang tengah kesal itu keluar dari restoran. Di dekat jendela restoran, tampak lelaki yang sejak beberapa saat lalu memperhatikan Elea. Wajah dingin itu menahan amarah yang coba ia tahan dengan kepalan tangannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN