Jari Aster tak henti mengetuk-ngetuk meja. Dia gelisah sejadi-jadinya. Sesekali digigiti kuku ibu jari tangannya, dan menjenggut rambut perlahan. Matanya memperhatikan keramaian Oakland di dalam monitor. Wajah-wajah polos tak berdosa yang selalu tampak ceria seperti hari-hari yang telah lalu. Dalam beberapa hari yang entah kapan Aster akan kehilangan semua itu jika tidak segera melakukan sesuatu. Beban pikirannya bertambah. Nyawa banyak orang kini tergantung padanya. Pada rencana yang hingga saat ini masih belum diputuskannya. Dia butuh kecerdasan Johan, kebijaksanaan Erik, kecerdikan Alby, dan semua temannya yang lain. Tenanglah Aster! Semua akan baik-baik saja jika aku bisa tetap tenang. Ditariknya napas dalam-dalam. Membayangkan padang bunga Aster di N

