8. Sebuah Keputusan

1089 Kata
Nadiya yang sedari tadi berada di kamarnya dan mendengar semua percakapan anatara Riva dan Viko panik ketika mendengar suara sang ibu yang menangis. Ia ingin menghampiri mereka, namun ia takut jika ia muncul maka Viko akan membawanya secara paksa dan itu akan semakin menyakiti hati ibunya. Nadiya memang ingin tahu siapa orang tua kandungnya, tetapi ia ingin seperti Stella yang tetap tinggal bersama Riva meski keluarganya ada. Ia tidak mau meninggalkan Ibu yang telah merawatnya sejak bayi. Akan tetapi sepertinya harapan Nadiya tidak terkabulkan, ia memiliki orang tua yang ingin mengambilnya secara paksa dari Riva. Kemudian tangan gadis itu bergerak lincah mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. Ia akan menelpon Stella berharap kakaknya itu bisa melawan orang yang menyebutkan diri sebagai ayah kandungnya. ____ Suara ponsel yang nyaring membangunkan Stella dari tidurnya. Gadis itu tertidur sendirian di kamarnya yang berada di rumah Retta. Entah kenapa Stella tak begitu semangat menjalani hari. Dengan mata yang masih terpejam, Stella mengambil ponselnya yang tergeletak di samping tubuhnya. Matanya menyipit begitu layar ponsel menyala tepat di depan mukanya. "Nadiya?" guman Stella. Baru saja ia hendak menggeser tombol hijau pada layar, panggilan tersebut langsung mati digantikan oleh pesan yang masuk. Nadiya Bawel Kak Lala di mana? Tolong cepet pulang kak, ibu nangis karena ada yang mengaku ayah kandung aku. Aku belum cek orangnya, tapi aku kayak kenal suaranya kak. Itu suara papanya Kak Niko, Diya mohon cepat pulang kak. Diya takut. Begitulah pesan yang dikirimkan oleh Nadiya. Jantung Stella berdegup kencang. Apa maksudnya semua ini? Tanpa basa-basi lagi, Stella langsung bangun dari tidurnya dan menuju ke kamar mandi untuk sekedar cuci muka. Setelahnya, gadis itu buru-buru menyambar tas dan kunci mobilnya. "Sayang, kamu mau ke mana?" tanya Retta melihat Stella buru-buru. "Ada urusan, Ma. Aku harus cepet pergi," jawab Stella. "Mama udah masak banyak padahal, ada makanan favorit kamu juga." Stella menatap ibunya dengan sorot mata bersalah, "Tapi ini beneran gak bisa ditinggal, Ma. Nanti Mama kirimin aja pake ojek online ke rumah ibu ya. Biar Ibu sama Nadiya juga makan." Meski kecewa, tapi Retta mengangguk tanda mengerti, "Ya udah, kamu hati-hati ya." ____ Mobil milik Viko masih terparkir rapi di halaman rumah miik Riva. Dengan tergesa, Stella berlari masuk ke dalam rumah untuk memastikan apa yang dikatakan oleh Nadiya. "Ada apa ini?" tanya Stella ketika tiba di ruang tamu dan mendapati sang ibu yang sedang menangis. Deg Niko mendengar suara Stella dengan kaget. Tak terpikirkan jika Stella akan pulang secepat ini. "Ehm," Viko berdehem sebelum menjelaskan semuanya kepada Stella. Setelah itu, mengalirlah cerita dari mulut Viko yang membuat Riva semakin terisak. "Kalian melakukan semua itu tanpa sepengetahuan aku dan Ibu?" tanya Stella nyalang. "Tidak ada yang salah, Nak. Andaikan hasil itu negatif, saya tidak akan datang ke sini dan mengatakan semuanya." "Tapi kenapa? Meski hasilnya akan negatif sekali pun, harusnya Om memberitahu dulu saya dan Ibu!" "Tidak ada waktu, semuanya harus cepat terungkap. Saya curiga jika Ibu kamu adalah dalang di balik penculikan Nadiya," tuduh Viko. Stella menggeleng tak percaya. Benarkah ini adalah ayah dari lelaki yang dicintainya? "Om nuduh Ibu saya? Saya sendiri yang jadi saksi saat Nadiya ditemukan di depan rumah kami yang dulu. Coba Om pikir, seandainya ibu memang mau balas dendam, apakah Nadiya sekarang akan menjadi anak cantik dan sehat? Om bisa lihat sendiri bagaimana keadaan Nadiya sekarang." "Ya terserah, apapun alasannya Nadiya harus mau ikut bersama saya!" "AKU GAK MAU!" teriak Nadiya hingga membuat semua orang dewasa yang berada di sana menoleh. "Nadiya," lirih Riva. "Meski pun aku adiknya Kak Niko, tapi aku gak mau meninggalkan Ibu dan Kak Lala. Mereka berdua yang udah susah payah merawat aku. Aku mau di sini terus," isak Nadiya. "Aku mohon, meski hasil itu terbukti tapi aku gak mau pisah dari Ibu dan Kak Lala. Aku mau tetap tinggal di sini," lanjutnya. "Dan membiarkan mama kandung kamu tetap mengalami gangguan jiwa?" desis Viko. Nadiya tak menjawab lagi, ia benar-benar dilema. "Terserah kalian. Pilihan ada di tangan kalian. Nadiya kembali bersama keluarga saya atau hubungan Niko dan Stella hanya sampai di sini," ancam Viko kemudian menarik tangan Niko untuk pulang bersamanya. Niko sedari tadi tak bicara apapun apalagi menatap Stella. Lelaki itu hanya berdiam diri seperti orang bodoh. Setelah sepasang ayah dan anak itu pergi, Nadiya langsung menghampiri Riva dan Stella, lalu memeluk keduanya dengan erat diiringi tangis yang begitu pedih. ____ Malamnya Stella dan Niko mengobrol lewat telpon. Niko mengatakan jika seharian tadi Viko tak mengizinkannya memegang ponsel barang sedetik pun. "Kamu tahu semuanya, Nik?" tanya Stella melalui sambungan telpon. "Maaf." "Kenapa gak bilang? Apa kamu gak percaya sama aku dan Ibu?" "Enggak gitu, La. Papa juga bilang ke aku setelah tesnya dilakukan." "Andaikan waktu itu kamu bilang, mungkin semuanya gak akan serumit ini. Mungkin Ibu akan mengerti, seperti saat aku bertemu mama." "Maaf." "Mau aku jujur gak?" "Apa?" "Aku kurang suka sama sikap Papa kamu, dia egois." "Aku udah pernah bahkan sering cerita sama kamu. Atas nama Papa aku minta maaf ya." Selama beberapa menit hanya keheningan yang tercipta diantara keduanya. "Sekali lagi maaf karena masalah ini, hubungan kita jadi kena imbasnya." "Gak masalah, Nik. Cuma aku takut hal ini bikin Ibu sedih dan kepikiran." "Nadiya gimana?" "Dia gak mau, Nik. Dia pengen seperti aku yang tetap tinggal sama Ibu meski orang tuanya udah diketahui." "Aku takut Nadiya malah tertekan." "Sama, yang aku khawatirkan adalah psikis dia." "Tapi aku juga mau Mama aku kembali seperti semula, La." Stella tak menyahut lagi, ia sibuk menggigit bibirnya menahan isakan yang bisa kapan saja lolos dari bibirnya. "Dengan kesembuhan Mama aku, itu artinya hubungan kita juga akan bertahan." Stella tahu apa keinginan Niko, tapi sayangnya apapun yang mereka pilih itu beresiko. "Kamu nangis, La?" Seketika tangis Stella pecah saat pertanyaan itu tiba-tiba keluar dari mulut Niko. "Hey, jangan nangis. Everything is gonna be fine." "Aku bener-bener gak tahu harus gimana." "Aku pun bingung, La." "Apa kita break aja?" Niko yang berada di seberang sana langsung menegang mendengar kalimat tersebut. "Maksud kamu?" "Ini semua berat, Nik. Banyak yang dipertaruhkan di sini, terutama hubungan keluarga kita. Resiko yang diambil dalam penyelesaian masalah ini semuanya fatal Nik. Kamu mau Mama kamu sembuh dan aku juga mau ibu serta Nadiya baik-baik aja. Kita harus pelan-pelan, semua pasti ada jalannya walaupun berbelit-belit." Selama beberapa saat, Niko menahan napas. Ujian terberat dalam hubungannya bersama Stella adalah saat ini. "Kamu benar, kita memang harus break dulu. Aku akan kasih pengertian dan masukan ke Papa, kamu coba bicara sama Ibu dan Nadiya. Apapun hasilnya nanti, aku harap break yang kita jalani ini enggak akan berlanjut ke kata berakhir ya, La."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN