Satu minggu kemudian.
Keadaan Nadiya sudah pulih, sekarang ia sudah diperbolehkan pulang namun masih tetap check up sebulan sekali.
Nadiya pulang bersama Stella, Riva dan Niko yang menjadi sopir mereka.
"Kak Niko, jadi kan halalin Kak Lala?" tanya Nadiya.
"Jadi dong, nunggu kamu pulih dulu. Biar bisa ikut pesta," jawab Niko.
"Ahaha jadi malu, kayak aku orang penting aja," ujar Nadiya tersipu.
"Kalau gak penting dari kemarin-kemarin kita udah ngadain pesta tanpa kamu," timpal Stella.
"Jadi terharu."
"Lebay ya kamu!" cibir Stella.
"Hahaha... Oh iya, bilangin ke papanya Kak Niko makasih ya udah nolongin Diya waktu itu, gak tahu deh kalau gak ada papanya Kak Niko mungkin Diya telat ditolongin."
Niko tersenyum tipis kemudian mengangguk, "Iya, nanti Kak Niko bilang ke Papa."
____
Sudah tiga hari semenjak kepulangan Nadiya ke rumah, Stella dan Niko baru kembali ke studio. Mereka izin untuk menemani dan mengurus segala keperluan Nadiya di rumah sakit.
"Finally, pasangan terhits udah kembali," pekik Arsy.
"Kemarin gak ada kita kan lo sama Edo yang gantiin," tukas Niko.
"Apaan, Edo gak asik. Main game mulu."
"Do, itu kode mau dilamar," ujar Niko.
"Gue gak ada bilang gitu ya!" protes Arsy.
"Udah deh berisik," tegur Stella yang sedang tak enak badan.
"Calon istri gue lagi kurang fit, gak boleh berisik," ujar Niko.
Arsy mendengus, "Kenapa maksain ke sini sih, La?"
"Udah lama gue izin, lagian kita harus cepet-cepet urus lagu terbaru kan?"
"Iya juga sih. Oh iya La, gue udah dapat kontak yang buat acara lamaran lo itu."
"Entar kirim aja ke gue ya, nanti gue kasih ke Andra suruh dia yang urus acaranya."
"Oh mas mantan bagian ngurus acara nih? Terus ini calon pengantinnya ngapain?" Goda Arsy.
"Nunggu beres," jawab Stella singkat.
Arsy akhirnya diam, sepertinya Stella sedang dalam suasana hati yang buruk dan benar-benar tidak bisa diajak bercanda.
____
Niko pulang ke rumahnya setelah mendapat telpon dari sang Papa. Tadinya ia akan mengajak Stella untuk makan dimsum terlebih dahulu, namun Papanya mewajibkan dirinya untuk segera pulang.
Ada hal penting yang harus dibahas, kata papanya.
"Maaf ya, La. Batal lagi makan dimsumnya, tapi setelah ini aku janji kita bakalan ke sana," gumam Niko sebelum turun dari mobilnya.
Masuk ke dalam rumah, Niko disambut oleh papanya dengan senyuman yang merekah. Seperti mendapat hadiah dalam sebuah kuis, Viko terlihat sangat bahagia.
"Ada apa, Pa?" Tanya Niko sambil meletakkan kuncil mobil dan ponselnya di atas meja.
Viko tak menjawab pertanyaan anak sulungnya itu, akan tetapi lelaki paruh baya itu malah memeluk Niko dengan erat.
"Hasil tes DNA antara Papa dan Nadiya sudah keluar, kamu tahu? Hasilnya positif, Nadiya memang adik kamu yang hilang itu," beritahu Viko terharu.
Deg
Tubuh Niko langsung menegang kaku, bahkan ia tak membalas pelukan sang papa. Rasanya ini begitu campur aduk. Entah Niko harus senang atau takut.
Dua rasa itu secara bersamaan menyerang dirinya.
Senang karena akhirnya adiknya ditemukan.
Takut jika hal ini berdampak pada hubungannya dengan Stella, mengingat jika Viko melakukan tes DNA tanpa sepengetahuan pihak Stella.
"Udah terlanjur, Nik. Sekarang hubungan lo dan Stella yang jadi taruhannya," gumam Niko dalam hati.
____
Akhir-akhir ini Stella merasa aneh dengan sikap Niko. Kekasihnya itu lebih sering diam dan melamun.
Berkali-kali Stella bertanya ada apa, namun Niko hanya akan menjawab dengan gelengan kepala atau hanya dengan kata tidak.
Seperti hari ini, Stella datang ke studio sendirian. Niko bilang harus menemani Papanya ke suatu tempat.
"Tumben lo ngejanda," sindir Edo.
"Sembarangan lo!"
"Ke mana Niko?" Tanya Edo lagi.
"Ada urusan sama bokapnya, mungkin ketemu nyokapnya."
Edo mengangguk kemudian lelaki itu mengambil gitar yang berada di sebelahnya dan memainkannya.
Tak lama Arsy datang dengan lima kotak pizza di tangannya.
"Yuhu, karena hari ini gue lagi baik jadi gue traktir kalian makan pizza," ujar Arsy.
Hanya Edo dan Alva yang semangat mengambil potongan pizza, sedangkan Stella menatap pizza itu tanpa minat.
"La, lo gak mau?" Tanya Arsy membuat Edo dan Alva menatapnya juga.
"Lagi gak mood aja. Jangan nanya gue ya, lagi mode badmood. Takutnya kalian kena semprot dan ada perkataam gue yang bikin sakit hati," ujar Stella lalu mengambil ponsel di sakunya dan memainkannya.
Alva, Edo dan Arsy tak ada yang berani menjawab. Biarlah mereka menunggu mood booster Stella untuk datang ke sini.
____
Mobil Niko dan Viko berhenti di depan sebuah rumah yang sering kali Niko kunjungi.
Lelaki itu memegang setir mobil dengan erat hingga urat-uratnya mengencang dan menonjol pertanda sedang menahan gejolak di dadanya. Berbeda dengan lelaki di sampingnya yang nampak senang.
"Papa yakin melakukan ini?" Tanya Niko ragu.
"Sangat yakin. Papa sudah menunggu momen ini dari lama," jawab Viko mantap.
"Papa gak takut menyakiti keluarga Stella?"
"Pilihan apapun di sini, akan ada yang tersakiti."
"Gimana sama hubungan Niko dan Stella?" Lirih Niko.
"Percayakan sama Papa, semuanya akan baik-baik saja. Jika pun semua hancur, maka ingat tujuan kita untuk membuat Mama kembali bersama kita," tegas Viko.
Niko memejamkan matanya sesaat, pikirannya berkelana membayangkan jika hal ini menghancurkam hubungannya dengan Stella, apa ia bisa?
"Ayo," ajak Viko dan anak lelakinya itu hanya bisa mengikutinya dari belakang.
Tok..tok..tok
Viko mengetuk pintu rumah Riva, tak lama kemudian wanita yang pernah menjadi istrinya itu membuka pintu dan menampakan wajahnya yang kaget.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Riva berusaha menyembunyikan kegugupannya.
"Ya, ada yang harus saya bicarakan," tegas Viko.
Akhirya Riva pun mempersilakan sepasang ayah dan anak itu untuk masuk.
"Jadi, hal apa yang mau dibicarakan?" Tanya Riva setenang mungkin. Pikiran wanita itu mengarah pada hubungan Niko dan Stella yang akan menuju ke jenjang yang lebih serius.
Tapi satu pertanyaan Riva, kenapa Stella tak ada?
Tanpa basa-basi, Viko menyerahkan sebuah amplop untuk dibaca oleh Riva dan wanita itu mengerutkan kening tanda tak paham.
"Maksudnya ini apa?" Tanya Riva.
"Buka saja dan baca dengan teliti," titah Viko.
Riva membuka perekat pada amplop itu dan langsung membacanya. Napasnya tercekat membaca rentetan kalimat yang ada di sana.
"I..ini?" Tanya Riva dengan suara bergetar.
"Ya, saya melakukan tes DNA dengan Nadiya. Hasilnya positif, dia anak saya yang hilang."
Deg
Air mata Riva seketika menetes. Bagaimana bisa?
"Jadi, maksud kedatangan saya ke sini adalah untuk membawa Nadiya bersama kami. Bagaimana pun kami lebih berhak atas Nadiya," ujar Viko.
"Kenapa? Kenapa kalian melakukan ini tanpa sepengetahuan dari saya?" Tanya Riva.
"Awalnya saya gak akan melakukannya, tapi melihat tanda lahir milik Nadiya persis seperti milik anak saya yang hilang, jadi saya memutuskan untuk melakukan tes DNA," jelas Viko.
"Harusnya kalian berdiskusi dengan saya," ujar Riva tajam.
"Tidak perlu, tadinya jika hasilnya negatif saya tidak akan repot ke sini. Tapi hasilnya positif, jadi saya berhak mengambil apa yang menjadi bagian dari keluarga kecil saya."
Riva jelas merasakan sakit ketika mendengar keluarga kecil yang disebutkan oleh Viko. Wanita itu menangis.
"Aku gak mau, Mas. Tolong, meski Nadiya anak kamu jangan ambil dia dari aku. Dia sudah aku anggap anak kandungku sendiri," pinta Riva memelas.
Sungguh, rasanya tak rela.
Sedangkan Niko ditempatnya bergeming. Melihat air mata Riva ia takut mengingat Stella sangat membenci air mata Riva terlebih air mata yang disebabkan oleh rasa sakit.
"Tidak bisa begitu, Riva. Kamu harus merelakan apa yang bukan milik kamu atau jangan-jangan kamulah dalang dibalik penculikan Nadiya ketika masih bayi untuk balas dendam kepada Arshani?" Tanya Viko dengan serius.