6. Takut dan Ragu

1070 Kata
Lalu lintas kota Jakarta yang macet membuat mobil yang dikendarai Niko tak bisa kemana-mana. "Selalu ya, jam segini macet," gerutu Niko. "Sabar, bukannya udah biasa lalu lintas di sini selalu macet. Orang sabar disayang Tuhan," ujar Stella yang berada di samping Niko sambil memainkan ponselnya. "Kirain disayang pacar." "Kamu chatting sama siapa sih?" Tanya Niko penasaran. "Sama Andara, dia nanya aku masih di mana. Soalnya ibu lagi pulang dulu ke rumah dan belum balik lagi ke rumah sakit," jelas Stella. Mendengar kata ibu diucapkan, Niko langsung teringat dengan gumaman papanya saat di rumah. "La," Panggil Niko. "Kenapa?" Sahut Stella sambil menatap Niko. "Ada yang mau aku omongin sama kamu," ujar Niko. "Ya, omongin aja. Biasanya juga langsung ngomong." "Tadi aku gak sengaja denger papa ngomong." "Ngomong apa?" "Ngomong kalau Ibu Riva adalah mantan istrinya," jelas Niko. Stella menghela napas berat. Gadis itu tidak terkejut sama sekali karena telah mengetahuinya dari Riva langsung. "Aku udah tahu, Nik. Tadi ibu cerita pas kamu udan pulang sama papa kamu." "Menurut kamu gimana?" "Ya gak gimana-gimana, toh itu juga udah menjadi masa lalu kan? Tadinya aku sempat ragu. Tapi Ibu meyakinkan kalau kisah masa lalu Ibu gak ada hubungan dan gak akan mempengaruhi hubungan aku dan kamu," jelas Stella. "Bukan itu, La. Gimana tentang Nadiya jika benar dia adalah adik kandung aku?" tukas Niko dalam hatinya. ____ Riva dan Viko duduk saling berhadapan. Viko memaksa Riva untuk bicara sebentar. Awalnya Riva tak mau, namun Viko terus memaksanya. "Jadi, apa yang mau Mas bicarakan?" Tanya Riva datar. Viko menelan salivanya susah payah, "Apa kabar?" "Seperti yang kamu lihat saya baik-baik saja." Lalu keadaan berubah hening hingga lima menit lamanya. "Aku minta maaf," ucap Viko tiba-tiba. "Untuk?" "Semua yang pernah aku lakukan ke kamu." Riva tersenyum tipis. Meski sudah bertahun-tahun lamanya, rasa sakitnya tak akan mudah hilang begitu saja. "Gak apa-apa. Buktinya saya bisa baik-baik aja, saya bisa bangkit dan bahagia bersama anak-anak saya." "Apa Stella dan Nadiya adalah anak kamu?" Tanya Viko hati-hati. "Iya mereka adalah anak saya." "Kamu sudah menikah lagi?" Riva tertawa sumbang, "Untuk mempunyai anak, saya gak perlu menikah lagi." Kalimat Riva barusan tentu saja membuat Viko terkejut. Pikiran Viko mengarah ke hal-hal yang negatif. "Jangan berpikir negatif, saya gak akan mungkin melakukan hal yang kotor," sangkal Riva saat paham pikiran Viko ketika melihat raut wajah mantan suaminya yang nampak terkejut. Viko diam, dia merasa tak enak sudah berprasangka buruk terhadap Riva. "Saya memang gak menikah lagi dan mereka bukan anak kandung saya. Mereka adalah anak asuh saya, dulu mendirikan panti asuhan." "Kenapa? Kenapa kamu enggak menikah lagi?" Tanya Viko. "Kamu pikir semua yang pernah kamu dan keluarga kamu lakukan itu gak membuat saya trauma? Gak membuat saya minder dan merasa gagal menjadi wanita?" Tanya Riva tajam. Viko menunduk, pertanyaan bodoh yang sudah ia ucapkan barusan. "Saya takut jadi bahan olokan lagi karena saya bukan wanita yang sempurna. Saya takut dihina dan diduakan lagi. Makanya, tidak menikah lagi adalah keputusa terbaik. Saya cukup bahagia bisa memiliki Stella dan Nadiya, meski mereka berdua bukan anak kandungku." "Maaf." "Gak usah minta maaf karena semuanya udah terjadi." "Niko, dia akan melamar Stella. Apa kamu merestui mereka?" "Memang apa yang saya dapatkan kalau saya gak merestui mereka? Saya lebih memilih kebahagiaan Stella dan gak peduli dengan apapun yang pernah terjadi di antara kita. Ini sudah bukan kisah kita lagi, tapi sekarang adalah kisah Niko dan Stella. Jadi lupakan pertanyaan konyol kamu tentang apakah saya merestui mereka atau enggak. Karena saya pasti akan merestuinya." "Tapi, anak kamu akan menikah dengan anak lelaki b******k yang sudah menyakiti kamu," lirih Viko. "Yang b******k itu kamu, Mas. Bukan Niko!" ____ Niko dan Stella turun dari mobil, mereka berjalan beriringan dan saling diam. Stella sudah menceritakan semuanya pada Niko. Cerita yang Riva beritahukan pada dirinya ia ceritakan kembali. Tangan Niko mengepal erat tanpa Stella sadari. Berbagai macam kemungkinan berkecamuk di pikirannya. Bagaimana jika Nadiya benar adalah adiknya Niko, lalu papanya akan mengambil Nadiya? Apakah Riva akan baik-baik saja? Kalau Riva sampai tersakiti, apakah hubungannya dengan Stella akan baik-baik saja mengingat bagaimana besarnya rasa sayang Stella kepada ibu asuhnya itu. Bruk Asik melamun, Stella tak sadar menabrak tubuh seseorang hingga gadis itu terjatuh dengan posisi duduk. Sontak Niko kaget dan langsung membantu Stella berdiri kembali. "Kamu gak apa-apa?" Tanya Niko panik. Stella menggeleng lalu menatap orang tersebut dengan mata terbelalak. Melihat reaksi Stella, Niko pun menoleh dan mendapati papanya yang ternyata juga berada di rumah sakit ini. "Papa?" Pekik Niko tertahan. Viko hanya merespon dengan anggukan. "Aku permisi duluan ya, takutnya ibu sama Nadiya nyari," pamit Stella pada Niko dan papanya. "Papa ngapain di sini?" Tanya Niko. "Tadinya Papa mau jenguk Nadiya, tapi gak jadi.". "Jenguk Nadiya atau menemui mantan istri Papa?" Viko jelas kaget mendengar pertanyaan anak sulungnya itu. Dari mana Niko mengetahuinya? "Kamu jangan salah paham, Pap hanya meminta maaf atas apa yang pernah terjadi," jelas Viko. ____ Stella membuka pintu kamar rawat Nadiya dengan begitu pelan. Ia takut jika penghuni di dalamnya sedang istirahat dan takut terganggu akibat kedatangannya. Namun nyatanya Nadiya tengah makan disuapi oleh Riva. Anak itu begitu manja rupanya. "Eh, Kak Lala. Udah kencannya?" Ledek Nadiya. "Dih, apaan sih kencan-kencan." "Dari mana sih Kak?" Tanya Nadiya. "Mana aja bebas." "Ih, Kak Lala... Diya serius!" "Dari rumah sakit jiwa, puas?" "Eh ngapain? Main sama temen?" "Nadiya, gak boleh gitu," tegur Riva. "Maaf bu." Stella merebahkan dirinya di atas sofa lalu menutup matanya dengan sebelah lengannya. "Kak Lala..." Panggil Nadiya. "Hmm?" "Ada salam dari Mama Retta." "Salam balik." "Udah gitu aja responnya?" "Mau gimana lagi?" Ceklek Pintu kamar rawat Nadiya tiba-tiba terbuka pertanda ada orang yang masuk membuat semuanya menoleh ke arah pintu. Stella langsung bangkit dari duduknya. Jika hanya Niko yang datang mungkin ia akan meneruskan aksi rebahannya itu. Tetapi Niko datang dengan seseorang. Seseorang yang telah menyakiti ibu asuhnya. Seseorang yang membuatnya sedikit ragu untuk memulai hubungan yang lebih serius dengan Niko namun tak dapat ia utarakan pada kekasihnya itu. Stella percaya jika Niko adalah lelaki yang baik, itu awalnya. Namun ketika mendengar kisah ibunya dengan Papa Niko, Stella ragu apakah Niko akan menjadi penerus papanya? Mengingat jika Rayhan juga menjadi lelaki b******k, meniru Elvan. Dan Stella takut hal itu kembali terjadi. "Ibu, anter Lala makan di kantin yuk?" Ajak Stella pada Riva demi mengurangi pertemuan antara Riva dengan papanya Niko. "Nik, Papa kamu mau jenguk Nadiya kan? Kalau gitu kalian ngobrol aja di sini, aku mau ajak Ibu makan ke kantin dulu," pamit Stella.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN