5. Mama Niko

1109 Kata
Setibanya di rumah, Viko langsung berjalan menuju dapur dan mengambil segelas air putih lalu meneguknya sambil duduk di kursi meja makan. "Pa, gak akan ketemu Mama dulu?" Tanya Niko. Viko menggeleng, "Kamu duluan temui Mama kamu ya, Papa hari ini sedang gak bisa." "Ya udah, kalau gitu Niko mau siap-siap dulu," pamit Niko kemudian berlalu dari hadapan Viko. "Riva... Setelah sekian tahun aku baru melihat kamu lagi," lirih Viko. "Rasa bersalah itu masih ada. Maaf, maafin aku yang ternyata bahagia bersama Arshani dan anak-anakku." "Tapi satu anakku hilang, mungkin karma untuk perbuatanku dulu. Maaf Riva..." Tanpa Viko sadari ternyata Niko masih berada di sekitar sana dan mendengar semua lirihan ayahnya dengan jantung yang berdegup kencang. ____ "Nad, kok kamu bisa ketabrak sih?" Tanya Stella ketika Nadiya sudah bangun dari tidurnya. "Gak ngerti, aku lagi mau nyebrang tiba-tiba aja ada motor yang ngebut. Terus aku gak ngerasa apa-apa lagi," jelas Nadiya. "Lain kali hati-hati sayang," ujar Riva. "Iya Ibu lain kali Diya bakalan hati-hati. Ibu mending pulang aja deh. Diya gak tega kalau Ibu ikut jagain Diya di sini, nanti Ibu malah sakit," titah Nadiya. "Gak mungkin ada kata sakit demi kalian semua, Ibu gak apa-apa. Malah kalau di rumah Ibu jadi gak tenang karena kepikiran kalian terus." "Eh, Kak Lala. Kak Zafran sama Kak Haikal jangan dikasih tahu ya," pinta Nadiya. "Telat kamu, kemarin mereka udah pada tahu. Tapi gak bisa ke sini karena lagi pada ujian semester." "Huh... Syukurlah... Aku gak mau ngerepotin mereka." ____ Stella menunggu Niko di lobi rumah sakit. Kekasihnya itu tadi meminta Stella untuk menemaninya menjenguk sang ibu di rumah sakit jiwa. Ketika melihat mobil milik Niko, Stella langsung berjalan ke arahnya dan masuk ke dalam mobil. "Nadiya baik-baik aja kan?" Tanya Niko. "Baik kok, dia udah bawel lagi." "Syukurlah, aku ikut lega." Entah mengapa saat Viko mengatakan jika Nadiya adalah adiknya yang hilang, Niko merasa begitu. Tapi ia tak mau berharap banyak, takut semua tidak sesuai dengan kenyataannya. "Aku sengaja ajak kamu lagi, pengen terus kenalin kamu ke Mama. Apalagi sebentar lagi kita menikah," ujar Niko. Stella mengangguk sebagai jawabannya. Mendengar tadi jika Riva adalah mantan istri papanya Niko, Stella menjadi ragu. Apakah semuanya akan baik-baik saja? ____ Elvan tersenyum menatap layar televisi, di sana menampilkan berita dari Stella yang sudah dilamar oleh Niko. "Papa ikut bahagia kalau Calya juga bahagia, semoga calon suami kamu bisa bertanggung jawab dan setia sama kamu," gumam Elvan. Radea mendengus mendengar gumaman Elvan. "Pa, Stella aja gak mau mengakui Papa lagi. Kenapa Papa masih doain dia?" Tanya Radea kesal. "Bagaimana pun, dia tetap anak Papa. Sama seperti kamu, namun salahnya Papa dulu membedakan kalian," jawab Elvan. "Untuk Calya yang gak mau mengakui Papa, itu bukan masalah besar bagi Papa. Luka yang Papa buat untuk Calya lebih besar dari sebatas tidak mengakui," lanjut Elvan kemudian ia berlalu dari hadapan Radea. Elvan tak mau bertengkar lagi dengan Radea karena masalah Stella, karena ia pun tahu jika Radea begitu iri pada anak perempuannya bersama Retta itu. Satu hal yang Elvan tak mengerti, ia tak bisa untuk tidak membandingkan Radea dan Stella ketika ia sudah kesal akan sikap Radea. ____ Stella heran dengan sikap kekasihnya, pasalnya semenjak keluar dari rumah sakit tempat Nadiya dirawat, Niko menjadi pendiam. Gadis itu bisa menebak jika kekasihnya tengan memikirkan sesuatu. "Nik, kamu kenapa sih?" tanya Stella akhirnya. Niko melirik Stella sebentar kemudian menggelengkan kepalanya dan kembali fokus menyetir. Stella pun tak lagi bertanya, biarlah kekasihnya itu bercerita dengan sendirinya. Kemudian suasana menjadi hening karena keduanya tak membuka obrolan sama sekali hingga akhirnya mereka tiba di parkiran rumah sakit jiwa tempat di mana ibunda Niko menjalani masa pengobatannya. Bahkan saat mereka sampai di ruangan tempat Arshani, keduanya masih bungkam. Ceklek Perlahan Niko membuka pintu ruangan itu diikuti dengan Stella yang membawa satu buket bunga mawar di belakangnya. "Hai, Ma..." sapa Niko kepada wanita yang tengah menggendong sebuah boneka bayi. Arshani melirik sekilas ke arah Niko lalu kembali fokus menimang boneka tersebut seperti layaknya seorang bayi. "Niko datang lagi ke sini," ujar Niko. "Papa katanya gak bisa datang, soalnya Papa kelelahan. Makanya Niko yang gantiin papa ke sini," lanjut Niko. Arshani masih asik dengan dunianya. Niko seakan hanyalah makhluk yang tak kasat mata. "Hari ini Niko bawa Stella lagi, kalau kemarin Niko bawa Stella sebagai pacar, kali ini Niko bawa Stella sebagai calon istri Niko, Ma." "Mama sebentar lagi akan punya menantu," Niko terus mengajak ibunya berbicara meski diabaikan. Niko memberi kode agar Stella mendekat dan gadis itu menurut. "Hai Tante... Akhirnya kita ketemu lagi. Maaf baru ke sini lagi. Nanti Stella sama Niko bakalan sering-sering ke sini ya," ujar Stella ramah. Mendengar suara Stella, Arshani langsung menoleh dan menatap Stella beberapa detik. Namun tak lama kemudian matanya berbinar. Akan tetapi binar matanya bukan untuk Stella, melainkan untuk buket bunga mawar yang dipegang oleh tangan milik Stella. "Bunga..." lirih Arshani. "Tante mau bunga?" tanya Stella. Arshani mengangguk dan langsung merebut bunga itu dari tangan Stella kemudian ia letakan di ranjang bersama dengan boneka bayi yang tadi ia gendong. "Fara, ini bunga, kakak itu baik ngasih bunga," ujar Arshani bahagia. Niko menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca. Hatinya sakit melihat ibunya seperti itu. Stella yang melihat itu langsung menggenggam tangan Niko dan mengelusnya seolah memberi kekuatan. Faradiya Arshavi. Nama adik Niko yang dikabarkan hilang dan meninggal bersama orang yang menculiknya. "Kalau Nadiya terbukti adalah Fara yang hilang saat masih bayi, Niko pastikan Mama akan sembuh dan kembali bahagia. Meski Niko tahu Ibu Riva akan tersakiti dan bisa aja hubungan Niko dan Stella yang jadi taruhannya," gumam Niko dalam hati. ____ Nadiya ditemani oleh Retta dan Andara di ruangannya. Sedangkan Riva sedang pulang dulu ke rumah untuk menukar baju yang sudah kotor dengan baju yang bersih. "Kak Lala udah lama perginya?" Tanya Andara. "Udah, dari tadi siang. Kayaknya sekalian kencan," jawab Nadiya. "Eh bener, Kak Lala udah dilamar kan ya. Temen-temen gue pada heboh tahu," pekik Andara. "Sama, cuma aku cuekin aja. Soalnya emang males nanggapinya, ada yang bilang patah hati gara-gara itu." "Dih teman lo masih SMP juga sok-sok patah hati," cibir Andara. "Lala udah nentuin buat acara resminya?" Tanya Retta. "Diya gak tahu, Ma. Soalnya Kak Lala belum bilang apa-apa. Ditambah kan Diya malah kecelakaan." "Gak apa-apa, Lala pasti pengen nunggu kamu pulih dulu," ujar Retta. "Iya, Mama." ____ Riva baru saja tiba di rumah sakit menggunakan angkot. Ia membawa satu tas yang berisi pakaiannya untuk digunakan selama menjaga Nadiya di rumah sakit. Jalannya agak kesusahan karena tas yang ia bawa ukurannya lumayan besar dan berat, sehingga ia tak fokus dalam berjalan. Riva terlonjak kaget saat ada orang yang menarik tangannya hingga wanita itu berbalik. Deg Mata Riva terbelalak ketika tahu siapa orangnya. Dia Viko, mantan suaminya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN