4. Masa Lalu Ibu

1119 Kata
Niko dan Stella berlarian di lorong runah sakit. Tak peduli jika banyak orang yang mengenali mereka, yang ada di pikiran mereka saat ini hanyalah keadaan Nadiya. "La, kamu udah hubungin Ibu?" tanya Niko. Stella mengangguk, "Aku udah kasih tahu ibu lewat chat dan udah kirim ojek online juga buat antar ibu ke sini." "Ya udah, sekarang kita cari ruangan du mana Nadiya ditangani." Sampai di depan ruangan tersebut, Niko dan Stella duduk di bangku ruang tunggu. Beberapa kali Stella meremas tangannya karena khawatir. "Yang tadi hubungi kamu siapa?" tanya Niko lagi. "Pihak rumah sakit," jawab Stella. Tak lama pintu ruangan terbuka dan menampilkan seorang dokter serta orang yang sangat Niko kenali. "Papa?" beo Niko. Viko langsung menoleh dan tersenyum tipis pada Niko. "Papa ngapain di sini?" tanya Niko. "Papa gak sengaja lihat ada yang tertabrak, korbannya anak SMP. Kata warga dia jadi korban tabrak lari pas mau nyebrang jalan," jelas Viko. "Namanya Nadiya?" tanya Niko. Viko mengangguk, "Kamu kenal?" "Dia adiknya Stella, Pa." Viko langsung menatap seorang gadis yang berdiri di samping anak sulungnya itu. "Kamu Stella?" tanya Viko. Stella mengangguk dan langsung menyalami tangan Viko. Kemudian Stella pamit kepada mereka untuk melihat keadaan Nadiya. Setelah Stella masuk ke ruangan Nadiya dirawat, Viko langsung menarik tangan Niko. "Papa merasa gak asing dengan Nadiya," ungkap Viko. "Maksud Papa?" "Papa lihat di pergelangan tangan kanannya ada tanda lahir. Papa masih sangat ingat bahwa adik kamu juga memiliki tanda lahir yang sama di bagian itu." "Maksud Papa, Nadiya itu adik aku yang hilang?" tanya Niko. "Feeling Papa mengatakan demikian, makanya Papa melakukan tes DNA." "Tanpa sepengetahuan siapapun?" tanya Niko. "Papa minta maaf, kalau Papa beritahu bisa dipastikan keluarga Nadiya akan keberatan." "Kalau itu terbukti, Papa mau apa?" tanya Niko. "Mengambil apa yang harusnya jadi milik kita." "Apa Papa gak mikirin gimana perasaan Ibu yang udah rawat Nadiya dari kecil?" tanya Niko lagi. "Dia juga gak tahu perasaan Mama kamu yang harus mendekam di rumah sakit jiwa selama belasan tahun." Niko mengusap wajahnya dengan kasar, bagaimana jika hal ini menjadi masalah besar dan berdampak pada rencana pernikahannya dengan Stella? ____ Stella bergantian dengan Niko untuk melihat Nadiya. Gadis itu duduk berdua dengan Viko di ruang tunggu. Gadis itu sama sekali tak membuka obrolan dengan calon ayah mertuanya itu. Masih canggung, karena selama ini Niko belum pernah membawanya bertemu dengan orang tua lelaki itu. "Bagaimana kamu bisa mengenal Niko?" tanya Viko tiba-tiba membuat Stella terlonjak. Stella berusaha menetralkan detak jantungnya, beginikah rasanya berhadapan dengan calon mertua? "Ehm, saya kenal dari zaman SMA, Om. Kita sempat jadi sahabat juga, sebelum Niko akhirnya memutuskan untuk menjadikan saya pacarnya," jelas Stella. Setelah itu banyak sekali hal yang diobrolkan oleh sepasang calon menantu dan mertua itu. Akhirnya Stella sudah tidak canggung lagi dengan Viko. Namun sebuah suara tiba-tiba menghentikan obrolan keduanya, suara wanita yang telah merawat Stella selama belasan tahun dan sosoknya membuat Viko menegang saat wanita itu menghampiri Stella dengan air mata yang berurai. "Stella..." panggil Riva. Stella sontak menoleh dan langsung bangkit menyambut sang ibu asuh. "Gimana keadaan Nadiya?" tanya Riva panik. "Nadiya tadi gak sadarkan diri dan tulang pergelangan kakinya geser," jelas Stella. "Tapi untungnya ada Papanya Niko, dia yang tolongin Nadiya dan buru-buru bawa Nadiya ke sini," lanjut Stella sambil menggeserkan posisi tubuhnya agar Riva bisa melihat orang yang telah menolong Nadiyanya. Ketika hendak berbicara, kedua mata itu beradu menciptakan efek tegang pada tubuh keduanya. Viko menatap Riva dengan pandangan kosong, sedangkan Riva menatap Viko dengan mata yang berkaca-kaca. "Riva?" lirih Viko. "Mas Viko..." ____ Setelah pertemuannya dengan Viko tadi, Riva menjadi diam. Ia sama sekali tak bicara jika Stella tak bertanya. Sekarang Riva dan Stella sedang menunggui Nadiya di ruang rawatnya. Sedangkan Niko pulang bersama papanya. Tadi juga sempat ada Retta dan Rayhan yang melihat kondisi Nadiya. "Bu, kalau Lala bertanya hal ini, apa akan ibu jawab?" tanya Stella. Riva menoleh, "Kamu pasti mau bertanya tentang kenapa Ibu bisa mengenal Papanya Niko?" Stella mengangguk, "Tebakan Ibu benar, terus kenapa Ibu jadi banyak diam saat bertemu sama Om Viko tadi?" Riva bangkit dari kursi yang dekat dengan brankar Nadiya, lalu wanita itu menghampiri Stella yang duduk di sofa. "Mas Viko adalah mantan suami Ibu," ucap Riva jelas. "Apa?" "Kamu pasti kaget, karena itu kenyataannya." "Gimana bisa, Bu?" "Dulu, ayahnya Mas Viko adalah orang yang memberikan donatur terbesar saat Ibu masih di panti asuhan. Waktu itu umur Ibu 20 tahun. Terus beliau menjodohkan Ibu dengan Mas Viko, tapi yang namanya perjodohan tanpa cinta membuat rumah tangga kami tidak baik-baik saja. Mas Viko sudah punya pacar dan nama pacarnya Arshani." "Mamanya Niko?" "Kamu tahu namanya?" "Iya, aku pernah Niko ajak aku ketemu Mamanya." "Ibu divonis gak bisa memiliki anak, sedangkan Mas Viko dituntut oleh ibunya untuk segera punya anak. Ibu selalu dihina sama keluarganya karena Ibu gak sempurna. Ibu benar-benar tertekan dan Mas Viko sama sekali gak pernah menolong atau menguatkan Ibu. Akhirnya Ibu ditalak dan dia menikah dengan Arshani. Setelah itu Ibu pergi dari kehidupan Mas Viko dan keluarganya, meski saat itu ayahnya Mas Viko sama sekali gak rela Ibu pergi, tapi Ibu masih punya harga diri dan gak mau diinjak-injak semakin parah lagi," jelas Riva panjang lebar. "Lalu Ibu memutuskan untuk mendirikan panti asuhan. Karena dengan cara itu Ibu bisa merawat dan memiliki anak," ujar Riva dengan mata berkaca-kaca. Stella pun ikut berkaca-kaca, ia seakan ikut merasakan sesak. "Itu juga jadi alasan sampai sekarang kenapa Ibu gak menikah lagi. Ibu takut, Ibu minder kalau suatu saat pernikahan yang pahit itu akan terulang lagi. Ibu gak mau tertekan lagi, apalagi Ibu gak bisa menjadi wanita yang seutuhnya." Stella langsung memeluk Riva, ia tak menyangka jika ibunya ini memiliki kisah yang pahit sebelumnya. "Tapi sekarang mamanya Niko di rumah sakit jiwa, Bu," ujar Stella. Riva jelas kaget bukan main, "Kenapa bisa?" Stella pun menceritakan semua yang ia tahu dari Niko perihal keluarga kekasihnya itu. "Kasihan sekali Arshani." "Terus, sekarang perasaan Ibu ke papanya Niko gimana?" tanya Stella hati-hati. "Jujur, rasa itu masih ada karena Mas Viko benar-benar lelaki yang pertama untuk Ibu. Tapi Ibu gak mungkin terus berharap kan? Dia milik orang dan sebentar lagi dia akan menjadi Papa mertua kamu." "Apa Ibu gak keberatan kalau aku menikah sama Niko?" cicit Stella. "Lala, Ibu restui kamu dengan siapapun meski itu anak dari mantan suami Ibu sendiri. Semuanya hanya masa lalu, kebahagiaan kamu dan Niko lebih penting dari pada kisah masa lalu atau luka lama yang ada di hati Ibu. Semuanya sudah berlalu, yang Ibu mau cuma kamu, Nadiya, Zafran dan Haikal selalu bahagia. Kalau kalian semua bahagia, itu sudah lebih dari cukup," jelas Riva. Stella kembali memeluk wanita yang telah berjasa dalam hidupnya itu. "Terima kasih, Bu. Lala sayang banget sama Ibu." "Ibu juga sayang Lala, terima kasih juga karena mau sama Ibu terus ya nak."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN