Pukul delapan malam Langit baru sampai di rumahnya. Cowok itu memarkirkan motor di halaman lalu turun sambil menyugar rambutnya ke belakang. Malam ini Langit baru saja menyelesaikan balapan dengan hadiah yang lumayan. Tanpa tawuran dan tanpa acara jatuh di jalan, lawan Langit sportif kali ini, tidak seperti yang sebelum-sebelumnya yang tidak mau kalah. Sebelum masuk ke dalam rumah, Langit menarik napasnya dalam. Dilihatnya sejak tadi tidak ada mobil kedua orangtuanya. Langit bersyukur mereka belum pulang, jika kalau sudah, mungkin Langit akan kena marah habis-habisan. Segera Langit masuk ke dalam. "Sepi banget," gumam cowok itu. Langit terus melangkah sambil sesekali menengok ke kanan kiri mencari keberadaan orang. Dia menuju dapur guna mengaliri tenggorakannya yang terasa sangat ker

