Hubunganku dengan Defin terus membaik. Jalinan komunikasi antara aku dan dirinya juga berlangsung cukup intens. Sejujurnya ini membuatku bahagia, apalagi dengan perhatian-perhatian kecil dari lelaki itu. Seperti sekarang ini, karena kami tidak punya untuk bertemu pada jam makan siang, maka Defin memesankanku makanan. Tidak lupa untuk Tama dan juga Mbak Kania. "Aku senang Mbak Bella dan Mas Defin bersama lagi," ujar Tama secara gamblang. Kami berdua sedang duduk di bagian dapur sambil menikmati masakan padang pemberian Defin. Aku menatapnya tajam. "Jadi kau selama ini tahu?" Tama mengendikkan bahu. "Tidak secara pasti. Tetapi melihat Mbak Bella selalu murung dan kehilangan selera makan, dapat kutebak itu masalah asmara." "Bagaimana ... kita bisa membuktikan bahwa pria benar-benar meny

