Mataku terbuka perlahan. Aku merasakan sesuatu pada dahiku, ketika tanganku terangkat memegangnya ternyata itu adalah plester penurun panas. Aku mulai menggerakkan punggung untuk duduk. "Ini kamarnya Defin?" gumamku teringat kejadian semalaman. Aku menghela napas pendek seraya masuk ke dalam kamar mandi. Kakiku kemudian melangkah menuju lantai bawah. Sunyi dan sepi. Itulah gambaranku tentang rumah ini. Aku tidak melihat siapapun, bahkan Defin sekalipun. Namun aku mendengar suara-suara dari arah bagian belakang. Aku menemukan ruangan yang berisi meja makan yang begitu panjang. Beberapa hidangan telah tersaji di sana. "Kau sudah bangun?" Suara Defin seketika membuatku berbalik dan menemukannya telah berganti pakaian dengan yang kuingat semalam. Dia kemudian melangkah mendekatiku. Begit

