Kini Erik duduk di depanku. Ia juga telah memesan secangkir kopi. Setelah menyesap sekali kopinya, ia kemudian menatapku serius. "Selamat datang di Palembang," ujarku sambil tersenyum kikuk. Namun Erik tidak membalas. Bahkan tidak tersenyum. Hal tersebut membuatku bertanya-tanya, apakah dia mendengar ucapanku tadi yang berteleponan dengan Defin atau tidak? "Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu." Ucapan Erik membuat wajahku menegang. Aku menelan saliva, lalu memejamkan mata sejenak. "Apa maksudmu?" "Kau kira bahwa aku baru saja sampai ketika memanggil namamu?" ujar Erik, lalu tersenyum miring. "Kau menanyakan soal pengamanpada malan itu terhadap orang yang kau ajak bicara lewat telepon," lanjut Erik membuat napasku seolah tertahan. Aku tahu Erik adalah pria dewasa yang tentu paham de

