"Lama tidak bertemu," sapaku kepada Parman yang sedang sibuk di kasir. "Wah kekasih Bos nih." Parman tersenyum kemudian menyerahkan kembalian kepada pelanggan. Aku mendengus kesal. "Aku naik di atas ya," balasku kemudian diberi anggukkan kepala oleh Parman. Satu-satunya membuatku senang tentang restoran ini adalah bahwa Defin memutuskan tidak merombak bagian balkon yang menjadi tempat favoritku. "Mau pesan apa?" tanya Parman datang membawa menu, lalu duduk di depanku. Aku mengernyit. "Kau meninggalkan kasir?" Parman menggeleng. "Aku digantikan, jam kedua aku berganti peran." "Oh gitu." "Lagi sibuk di kantor ya?" tanya Parman seolah bisa membaca raut wajahku. "Ya, makanya aku jarang ke sini. Mbak Kania biasa pesan makanan. Sambil makan, sambil kerja. Daripada kerjaan harus dibawa p

