Aku kembali ke kampus, mengurus surat pernyataan akan mengambil cuti semester ini. Setelah itu aku kembali ke kantor notaris Mbak Kania, menemukan Erik telah duduk di sofa. "Kenapa kau tidak bilang akan ke sini?" ujarku panik melihat Erik. Aku melirik ruangan Mbak Kania yang terlihat kosong. "Oh itu Mbak Kania lagi keluar sama klien," ujar Tama sepertinya sadar akan tatapanku. "Bisa kita bicara?" Erik bangkit dari sofa. Aku melirik ke arah Tama yang sudah menganggukkan kepala tanda setuju mengambil alih tanggungjawabku selama aku bicara dengan Erik. Bukan bicara di restoran atau kafe. Aku dan Erik lebih memilih bicara dalam mobil yang terparkir di dekat sebuah taman kota yang sepi dari pengunjung, karena terik matahari pada siang hari. "Apa yang ingin kau bicarakan?" tanyaku langsung

