Pagi-pagi buta aku harus bangun untuk membantu Mbak Tiara untuk berpakaian. Untuk acara akad, dia akan mengenakan kebaya putih dengan rok batik. Sebelum berpakaian, aku terlebih dahulu mengambilkannya makanan. "Mbak Tiara harus makan, sebelum riasan," ujarku menjelaskan. Mbak Tiara awalnya menolak dengan alasan tidak nafsu makan. Tetapi aku yakin itu semua berhubungan dengan rasa gugupnya. Pasalnya dia nanti akan berada di samping Erik ketika ijab kabul nanti. Sejujurnya aku memiliki kekhawatirkan tersendiri. Apalagi kalau bukan tentang Erik semalam. Setelah menutup telepon sepihak dariku, ponsel kumatikan. Ucapan Erik yang ingin membatalkan pernikahan jelas mengganggu pikiranku. Namun aku selalu berusaha mencoba berpikir positif, bahwa Erik yang meninggalkan kekasih beberapa tahun lalu

