Aku mengucapkan syukur kepada Tuhan ketika selamat mendarat sampai di Jakarta. Meskipun telah menginjak tanah, perasaan takut dan trauma masih menghinggapiku. "Terima kasih telah mengantarku," ujarku kepada Erik. Aku telah keluar dari taksi. Erik menurunkan kacanya, bibirnya tersenyum menatapku. "Iya, aku pergi dulu. Biar aku yang mengabari keluargamu," balasnya kemudian menaikkan kaca jendela taksi. Setelah Erik pergi, aku berjalan masuk ke dalam rumah. Tubuhku terasa begitu lelah, aku bisa merasakan kedua lututku melemas membayangkan kembali guncangan ketika berada di atas pesawat. Ponselku berbunyi. Awalnya aku mengira bahwa itu dari Mbak Tiara, Zafran, Marsia atau mungkin Erik. Tetapi bukan mereka, itu dari Defin. Aku menarik napas dalam mengangkatnya. "Halo?" "Hai, kau masih me

