Aku bangun seperti dengan mata panda. Semalaman menghabiskan waktu untuk berbicara dengan Defin melalui via telepon, membahas bagaimana aku dan Jemi bertemu secara tidak sengaja. Aku menceritakan segalanya dengan jujur, namun ketika aku berbalik bertanya mengenai siapa itu Jemi. Tak ada jawaban dari Defin, bahkan lelaki itu cenderung mengalihkan topik pembicaraan. Aku menghela napas pendek, memikirkan percakapan semalam. Sungguh aku ingin tahu segala hal tentang Defin dan masa lalunya. Ini mungkin terdengar sedikit egois, tetapi lelaki itu telah tahu mengenai masa lalu yang terhubung dengan masa kelamku dengan Erik. Ponselku berbunyi, suara tanda pesan masuk. Aku bangkit dari tempat tidur menuju meja rias di mana ponselku berada. Erik : Jam berapa kita akan pergi? Aku memejamkan mataku

