Saat tiba di rumah mereka disambut oleh Pak Handoko dan Mbok Parmi. Pak Handoko membantu Elang, sementara Mbok Parmi membawakan tas berisi baju Elang. Elang hanya diam. Dia merasa tak berguna. Pak Handoko mendorong kursi roda Elang. Saat masuk ke dalam rumah, Elang teringat perlakuannya pada Annora. Sungguh Elang merasa menjadi manusia paling kejam. Kini, karmalah yang Elang rasakan. Matanya berkaca-kaca, tapi dia segera menghapus dengan ujung jarinya. Elang tak mau semua melihatnya bersedih. Pria pantang menangis bagi Elang. Setelah tiba di dalam, Annora mengajak Elang masuk ke kamar di lantai satu. “Elang, kamu tidur di kamar tamu ini dulu nggak apa-apa, ya?” pinta Bu Nani. Elang pun mengangguk. “Nggak apa-apa Ma, lagian kalau ke atas Elang mana mungkin bisa.” Elang

