Akhirnya, mereka tiba di rumah duka. Dalam hati, Annora berharap kalau kabar kematian Pak Hardi hanya candaan. Namun, ketika turun dari mobil ternyata sudah banyak orang di rumah Pak Hardi. Langit tampak gelap, tak ada bintang satu pun. Bahkan, bulan enggan keluar dari persembunyiannya. Alam seolah-olah mengerti akan jiwa Annora yang tengah bersedih. Tubuh Annora lemas dan seluruh tulang bagai dilolosi satu per satu, ketika tiba di ruang tamu tampak Pak Hardi terbujur kaku terbungkus kain putih. Lalu, terdengar dengungan orang mengaji di sekeliling jasad Pak Hardi. “Inikah jasad seorang pria yang telah merawatku sejak kecil, sendirian? Menjadi ayah sekaligus ibu untukku. Sekarang hanya tinggal jasad tak bernyawa. Ayah ....” Annora langsung menghambur memeluk tubuh Pak Hardi yang dingin

