Tiba di rumah, mata Annora terbelalak ketika melihat seseorang duduk di teras. Saat melihat Annora mata pria itu tampak berbinar. d**a Annora berdebar-debar, lalu melirik Elang. Ingin melihat bagaimana ekpresi Elang. “Ngapain pria itu ke sini? Apa kalian janjian?” Netra hitam itu menyelisik Annora dengan tajam. Lalu, pria beralis tebal itu langsung melepas genggaman tangan Annora dengan kasar. Annora menelan ludah. Kenapa selalu dicurigai. “Lang ... aku sama sekali nggak janjian. Nggak ada hubungan apa-apa juga. Aku ini istrimu, nggak mungkin berkhianat. Apalagi aku baru berduka kehilangan Ayah.” Annora berbicara dengan bibir bergetar. Sakit hatinya ketika dituduh macam-macam. “Nora ... bagaimana kabarmu?” tanya pria yang tengah menunggu di teras, ketika Annora sudah ada di dekat

