Annora melalui malam dengan mengaji di dekat Elang. Berharap Elang segera sadar, tetapi hingga pagi menjelang, pria itu belum kunjung membuka mata. Hati Annora terasa was-was. Lalu, Annora melanjutkan membaca Al-Qur’an, di tengah bacaan surat at-Taghaabun tiba-tiba terdengar suara rintihan. “Eehh, Mbok-Par-parmi, No-nora.” Mata Elang masih terpejam dan jemarinya bergerak. Annora menoleh dan segera menutup Al-Qu’ran, lalu menaruhnya di meja kecil. “Elang, ini aku Nora.” Annora menggenggam jemari Elang. Mata Annora berkaca-kaca. Perlahan Elang membuka mata. Lalu, dia tampak melihat ke sekeliling. Pandangannya berhenti ketika melihat tangannya terdapat infus yang menancap. Kemudian, beralih ke kakinya yang ditutupi selimut. Lalu, dia meminta bantuan Annora untuk duduk. Annora membimbing

