"Salisah, kamu nggak siap-siap?" Umi menghampiriku yang masih berbaring malas di atas ranjang. "Hari ini, hari pernikahan Azka, lho, kamu nggak mau datang?" Aku menggeleng lemah, kemudian menutupi tubuhku dengan selimut. "Azka pasti kecewa kalau kamu nggak datang." Umi mengusap-usap punggungku lembut. Beliau sudah memakai kebaya putih dan siap untuk berangkat. Sementara aku, masih enggan beranjak dari ranjang. Aku memejamkan mata sebentar, mengontrol kesedihan yang membuatku semakin susah untuk bernapas. Aku merasa dunia ini berubah menjadi sempit. Seolah tidak ada ruang lagi untuk menghirup kebahagiaan. "Ayo Salisah, cepetan mandi, kita berangkat ke rumah Azka sama-sama." Umi masih membujukku. Aku mulai meneteskan air mata, tapi umi tidak menyadarinya karena seluruh tubuhku termasu

